Proses demokrasi yang diharapkan menjadi jalan bagi rakyat untuk menentukan nasib bangsa, kini menjadi ajang permainan kekuasaan. Demokrasi tanpa keadilan mengorbankan harapan rakyat untuk mendapatkan pemerintahan yang adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan mereka. Dalam konteks ini, rakyat hanya menjadi penonton dalam proses pemilu yang tidak membawa perubahan nyata.
Demokrasi di Indonesia seharusnya memberikan suara yang setara kepada setiap warga negara. Namun, kenyataannya proses demokrasi seringkali hanya memperkuat kepentingan penguasa. Ketidakadilan sosial semakin melebar karena pemilu yang seharusnya menjadi sarana bagi rakyat untuk memilih pemimpin yang tepat, justru dijadikan alat bagi segelintir orang untuk mempertahankan kekuasaan mereka.
Masalah Utama
Rakyat sering kali merasa bahwa suara mereka tidak didengar. Pemilu yang diadakan hanya memberi ruang bagi pejabat untuk berkuasa tanpa memberikan perhatian yang cukup terhadap kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Ketidakadilan ini semakin diperburuk oleh kebijakan yang lebih memihak kepada para pengusaha besar dan korporasi ketimbang masyarakat kecil.
Di tengah proses demokrasi yang seharusnya menjadi cerminan suara rakyat, banyak kebijakan yang diambil tanpa melibatkan partisipasi publik. Demokrasi hanya menjadi formalitas belaka, tanpa perubahan yang mengarah pada kesejahteraan rakyat. Sejumlah keputusan besar sering kali dibuat tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Bahkan, banyak kebijakan yang justru memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi.
Untuk mengembalikan kedaulatan rakyat dan mewujudkan demokrasi yang adil, beberapa langkah berikut perlu diterapkan:
Pemerintah harus mengubah paradigma yang saat ini cenderung hanya untuk kepentingan kekuasaan. Negara harus kembali pada tujuan utamanya, yaitu melindungi, melayani, dan mengatur rakyat, sebagaimana amanat dari UUD 1945. Dengan memastikan bahwa kebijakan yang diambil berpihak pada rakyat, maka demokrasi yang sesungguhnya bisa terwujud.