Rakyat Indonesia sering kali merasa terpinggirkan meski sistem demokrasi berjalan. Meskipun setiap lima tahun sekali mereka memilih pemimpin, keputusan strategis tetap berada di tangan segelintir pejabat. Demokrasi yang seharusnya memberi ruang bagi rakyat untuk berperan aktif, malah lebih sering menjadi panggung bagi pejabat untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Hal ini menjadi rakyat tanpa kedaulatan, karena pejabat memainkan rakyat dalam panggung demokrasi.
Meskipun demokrasi Indonesia tampak berfungsi di permukaan, kenyataannya tidak ada jaminan bahwa keputusan memperhatikan kepentingan rakyat. Pemilu hanya menjadi prosedur formalitas yang tidak memberi ruang bagi rakyat untuk mengoreksi kebijakan yang merugikan mereka. Proses demokrasi lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan pemerintahan jangka pendek, sementara rakyat tetap tidak berdaya.
Demokrasi procedural yang mengutamakan pemilu sebagai satu-satunya saluran partisipasi rakyat telah menciptakan ketimpangan. Rakyat tidak memiliki kontrol nyata terhadap kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka. Keputusan-keputusan penting tetap diambil di ruang tertutup, jauh dari pengawasan publik. Rakyat akhirnya menjadi penonton dalam panggung kekuasaan yang tidak mereka kendalikan.
Untuk mengembalikan kedaulatan rakyat dan memastikan bahwa demokrasi berfungsi sebagaimana mestinya, beberapa langkah perlu diambil:
Dengan langkah-langkah ini, Indonesia dapat memastikan bahwa kedaulatan rakyat bukan hanya sebuah jargon, tetapi diterjemahkan dalam tindakan nyata yang melibatkan rakyat dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.