TALLINN, ESTONIA – Penataan ruang kota memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan hubungan sosial masyarakat. Lingkungan yang terbuka dan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk berinteraksi dapat menumbuhkan rasa kebersamaan serta kepercayaan antarsesama. Sebaliknya, ruang publik yang terpisah berdasarkan kepentingan dan kelompok sosial berpotensi memperlebar jarak dalam kehidupan masyarakat. Untuk memahami hubungan antara tata ruang dan kohesi sosial, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan melakukan pengamatan langsung di Raekoja Plats atau Alun-Alun Balai Kota di kawasan Kota Tua Tallinn, Estonia. Kawasan bersejarah tersebut dipilih karena telah menjadi salah satu pusat pertemuan masyarakat selama berabad-abad dan memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat membangun interaksi sosial lintas latar belakang.

Kegiatan pengamatan ini dipimpin oleh Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan CEO Enygma, Erick Karya. Dalam kegiatan tersebut, para delegasi mendapatkan pendampingan dari Wiwik H., diaspora Indonesia yang memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat. Mereka mengamati aktivitas warga lokal dan wisatawan internasional yang memanfaatkan kawasan alun-alun sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi. Para delegasi juga berbaur secara langsung untuk memahami bagaimana ruang publik menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Estonia. Pengamatan ini memberikan gambaran mengenai pentingnya lingkungan perkotaan yang mampu mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana yang terbuka dan setara.
Salah satu hal yang menarik perhatian para delegasi adalah desain Kota Tua Tallinn yang mengutamakan akses pejalan kaki dan membatasi kendaraan bermotor di kawasan tertentu. Penataan tersebut membuat masyarakat memiliki kesempatan untuk menggunakan ruang yang sama tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Pejabat, pengusaha, warga lokal, dan wisatawan dapat berjalan serta menikmati fasilitas publik dalam lingkungan yang relatif setara. Tidak adanya pemisahan ruang publik berdasarkan status sosial menciptakan suasana kebersamaan yang kuat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa desain perkotaan dapat membantu mengurangi jarak sosial dan membuka ruang interaksi yang lebih alami. Melalui perjumpaan sehari-hari, masyarakat memiliki kesempatan untuk membangun rasa saling mengenal dan menghargai perbedaan.
Bagi Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, keterbukaan ruang publik merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun social trust atau kepercayaan sosial. Ia mengaitkan pengamatan tersebut dengan nilai kebangsaan dan pemikiran Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai konsep maiyah. Konsep tersebut menggambarkan ruang kebersamaan yang menempatkan manusia secara setara dan memberikan kesempatan untuk saling belajar. Ruang publik idealnya menjadi tempat setiap orang dapat hadir tanpa merasa dibatasi oleh status ekonomi maupun kedudukan sosial. Prinsip tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang masih menghadapi berbagai persoalan kesenjangan akses terhadap fasilitas umum. Oleh karena itu, penataan ruang kota perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan agar seluruh warga dapat menikmati lingkungan yang nyaman, terbuka, dan inklusif.
Dalam pengamatan berikutnya, Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, bersama Wiwik H. membahas hubungan antara ruang komunal, keamanan lingkungan, dan potensi konflik sosial. Mereka mengamati bahwa ruang publik yang mendorong interaksi langsung dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat. Ketika warga terbiasa bertemu dan menggunakan fasilitas bersama, tumbuh rasa memiliki terhadap lingkungan tempat mereka beraktivitas. Rasa memiliki tersebut dapat mendorong masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan ruang publik. Keterlibatan warga juga berpotensi memperkuat pengawasan sosial secara alami karena masyarakat saling mengenal dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, keamanan kota tidak hanya bergantung pada aparat dan perangkat pengawasan, tetapi juga pada hubungan sosial yang terbangun di antara warganya.
Pengalaman di Tallinn memberikan pelajaran bahwa pembangunan keamanan perlu berjalan seiring dengan penguatan kepercayaan masyarakat. Lingkungan yang terbuka memungkinkan warga berinteraksi tanpa merasa terasing dari kehidupan sosial di sekitarnya. Komunikasi yang terjalin secara alami juga dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan kepedulian terhadap persoalan bersama. Pendekatan ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan kawasan perkotaan di Indonesia. Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian terhadap keberadaan taman, alun-alun, jalur pejalan kaki, dan fasilitas komunal yang mudah diakses masyarakat. Selain memperbaiki kualitas lingkungan, penyediaan ruang bersama juga dapat menjadi investasi sosial untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.

Dari perspektif teknologi dan tata kelola keamanan digital, CEO Enygma, Erick Karya, memberikan perhatian terhadap pemanfaatan kamera pengawas atau CCTV serta sensor pemantauan kerumunan di kawasan Kota Tua Tallinn. Teknologi tersebut menunjukkan bagaimana sistem keamanan dapat diintegrasikan ke dalam lingkungan perkotaan tanpa mengganggu karakter kawasan bersejarah. Pengamatan ini menjadi bahan kajian mengenai pengembangan konsep smart security yang menggabungkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Ekosistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) Enygma yang diperkenalkan melalui Ekosistem Sekolah Negarawan turut menjadi bagian dari pembahasan tersebut. Teknologi keamanan idealnya mampu memberikan perlindungan tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi masyarakat. Penggunaannya juga perlu memperhatikan perlindungan privasi, transparansi, dan tanggung jawab dalam pengelolaan data.
Erick Karya menilai bahwa penerapan teknologi keamanan di Indonesia perlu diarahkan untuk menciptakan lingkungan yang aman sekaligus tetap menghormati hak masyarakat. Sistem pemantauan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pengumpulan informasi, tetapi harus memiliki tujuan yang jelas dalam mencegah gangguan keamanan dan memberikan perlindungan. Integrasi teknologi dengan tata ruang yang baik dapat membantu meningkatkan respons terhadap berbagai keadaan darurat. Namun, keberhasilan penerapannya tetap membutuhkan aturan yang jelas dan pengawasan yang bertanggung jawab. Teknologi juga perlu dikembangkan agar mudah digunakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, inovasi digital dapat menjadi sarana memperkuat rasa aman sekaligus mendukung terciptanya hubungan sosial yang lebih baik.
Pengalaman mengamati Raekoja Plats memberikan perspektif baru bagi Ekosistem Sekolah Negarawan dalam memahami hubungan antara desain kota, kesetaraan sosial, dan kualitas kehidupan masyarakat. Pengamatan tersebut memperkaya rangkaian kajian internasional yang dilakukan melalui kunjungan ke 12 negara. Berbagai pengalaman dari Estonia, Finlandia, Persia atau Iran, hingga Nusantara menjadi sumber pembelajaran untuk merumuskan gagasan pembangunan yang berorientasi pada manusia. Nilai keterbukaan ruang publik dari Estonia, pendekatan humanisme dari Finlandia, serta nilai luhur peradaban dari berbagai kawasan diharapkan dapat dipelajari secara kritis dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Setiap negara memiliki karakter dan tantangan yang berbeda sehingga penerapan suatu konsep perlu mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, serta kemampuan masyarakat setempat.
Hasil pembelajaran tersebut diharapkan dapat didiseminasikan secara luas melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pengembangan masyarakat. Penataan kota yang ramah terhadap manusia, pemerataan akses ruang publik, penguatan hubungan sosial, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab merupakan sejumlah gagasan yang dapat dikembangkan di Indonesia. Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan peradaban. Sekolah Negarawan berkomitmen membawa hasil pengamatan internasional menjadi bahan pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan daerah. Diseminasi gagasan ini diharapkan menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore. Dengan demikian, perjalanan pembelajaran lintas negara tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong lahirnya gagasan nyata untuk membangun masyarakat Indonesia yang lebih setara, aman, dan memiliki kepercayaan sosial yang kuat.