TALLINN, ESTONIA – Pengembangan pariwisata di kawasan bersejarah membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Kemajuan sektor pariwisata tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan atau besarnya investasi yang masuk. Keberhasilan pembangunan juga perlu dilihat dari kemampuan masyarakat setempat dalam memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Pemikiran tersebut menjadi perhatian para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan ketika melakukan pengamatan terhadap aktivitas ekonomi di kawasan Kota Tua Tallinn, Estonia. Kunjungan ini bertujuan mempelajari bagaimana kawasan bersejarah dapat mempertahankan identitas budaya sekaligus memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang.
Kegiatan pengamatan dipimpin oleh Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan CEO Enygma, Erick Karya. Para delegasi mendapatkan pendampingan dari Wiwik H., diaspora Indonesia yang memahami perkembangan sosial dan ekonomi kawasan Baltik. Rombongan kemudian menyusuri sejumlah kawasan perdagangan, termasuk Jalan Viru dan Katariina Käik atau Lorong Katarina. Di sepanjang kawasan tersebut, mereka mengamati keberadaan toko kerajinan tangan, kafe independen, serta restoran yang mempertahankan karakter tradisional Estonia. Pengamatan ini memberikan gambaran mengenai hubungan antara pelestarian warisan budaya dan keberlangsungan kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

Salah satu hal yang menarik perhatian delegasi adalah keberadaan berbagai usaha lokal di tengah kawasan wisata bersejarah Tallinn. Bangunan-bangunan kuno dimanfaatkan oleh pengrajin kain linen, pembuat keramik, seniman kaca, serta pelaku usaha kecil dan menengah. Kehadiran usaha tersebut memberikan identitas tersendiri bagi kawasan wisata karena produk yang ditawarkan memiliki keterkaitan dengan keterampilan dan tradisi masyarakat setempat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pariwisata dapat menjadi ruang pengembangan ekonomi kreatif tanpa harus menghilangkan karakter budaya daerah. Keberadaan pelaku usaha lokal juga membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal produk dan keterampilan tradisional Estonia secara lebih dekat. Dengan demikian, aktivitas ekonomi tidak hanya menghasilkan transaksi perdagangan, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Bagi Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, pengalaman di Tallinn memberikan pembelajaran mengenai pentingnya menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama pembangunan ekonomi. Ia mengaitkan pengamatan tersebut dengan pemikiran kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menekankan pentingnya menjaga martabat dan identitas masyarakat. Kemakmuran suatu bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya perusahaan besar yang beroperasi, tetapi juga oleh kemampuan rakyat dalam mengembangkan potensi ekonominya sendiri. Kawasan bersejarah seharusnya memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk tumbuh melalui usaha, keterampilan, dan kekayaan budaya yang dimiliki. Prinsip ini menjadi bahan refleksi bagi Indonesia agar pengembangan pariwisata tidak mengorbankan identitas daerah demi kepentingan komersial jangka pendek. Pemberdayaan UMKM perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, turut mengamati hubungan antara pengaturan kawasan, perizinan usaha, dan perlindungan kegiatan ekonomi masyarakat. Menurut perspektif kajian yang dikembangkan dalam kunjungan tersebut, penguatan usaha lokal tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap investasi dari luar. Hal yang lebih penting adalah memastikan seluruh kegiatan usaha berjalan berdasarkan aturan yang memberikan kesempatan secara adil bagi berbagai pelaku ekonomi. Pengaturan zonasi, perizinan, retribusi, dan pelestarian bangunan bersejarah dapat menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan perlindungan budaya. Kebijakan tersebut perlu disusun secara transparan agar pelaku usaha lokal memiliki kepastian dalam menjalankan kegiatan ekonominya. Dengan demikian, hukum dapat berperan sebagai landasan untuk menciptakan lingkungan usaha yang sehat sekaligus menjaga karakter kawasan bersejarah.
Pengalaman Tallinn juga menjadi bahan pemikiran mengenai perlunya kebijakan yang memberikan dukungan nyata kepada pengrajin dan UMKM. Pemerintah daerah dapat mengembangkan program pendampingan usaha, kemudahan perizinan, promosi produk lokal, serta akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha. Selain itu, perlindungan terhadap bangunan dan lingkungan bersejarah perlu berjalan seiring dengan pengembangan aktivitas perdagangan. Langkah tersebut dapat membantu mencegah perubahan kawasan yang terlalu berorientasi pada kepentingan komersial. Pelaku usaha lokal juga perlu dilibatkan dalam proses perencanaan agar kebijakan yang dibuat sesuai dengan kondisi lapangan. Melalui tata kelola yang terbuka dan berkeadilan, pertumbuhan pariwisata diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.
Dari sisi pengembangan teknologi, CEO Enygma, Erick Karya, memberikan perhatian terhadap kemungkinan pemanfaatan data analitik dalam pengelolaan sektor pariwisata. Penggunaan teknologi dapat membantu pemerintah daerah memahami pola kunjungan wisatawan dan kebutuhan pasar secara lebih terukur. Gagasan pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) Enygma bersama Ekosistem Sekolah Negarawan diarahkan untuk mendukung pemetaan data UMKM di berbagai daerah Indonesia. Melalui pengelolaan data yang terintegrasi, pemerintah dapat memperoleh informasi mengenai jenis produk, kapasitas produksi, lokasi usaha, dan kebutuhan pengembangan setiap pelaku UMKM. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mempertemukan kebutuhan wisatawan dengan produk yang tersedia di masyarakat lokal. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tidak hanya meningkatkan efisiensi pengelolaan pariwisata, tetapi juga membuka peluang pemasaran yang lebih luas bagi usaha kecil.
Penerapan teknologi tersebut perlu disertai penguatan kemampuan digital para pelaku UMKM agar mereka dapat memanfaatkan informasi dan peluang pasar secara optimal. Pemerintah daerah dapat menyediakan pelatihan pemasaran digital, pendampingan pengelolaan usaha, dan sistem informasi yang mudah diakses. Data yang dikumpulkan juga harus dikelola dengan memperhatikan keamanan serta perlindungan informasi pelaku usaha. Selain itu, penggunaan AI perlu diarahkan untuk membantu pengambilan keputusan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Teknologi seharusnya menjadi sarana memperluas kesempatan ekonomi, bukan menciptakan ketergantungan baru bagi pelaku usaha kecil. Melalui pendekatan tersebut, transformasi digital dapat memperkuat daya saing UMKM sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.

Pengamatan di Kota Tua Tallinn menjadi salah satu bahan pembelajaran strategis dalam rangkaian ekspedisi intelektual Ekosistem Sekolah Negarawan ke 12 negara. Berbagai pengalaman internasional dipelajari untuk memperkaya gagasan mengenai pembangunan ekonomi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Pembelajaran dari kawasan Baltik, negara-negara Nordik, Persia atau Iran, hingga kawasan Nusantara dan Timur Tengah memberikan perspektif mengenai beragam model pengelolaan kehidupan masyarakat. Setiap pengalaman kemudian dikaji berdasarkan kesesuaiannya dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia. Salah satu pelajaran penting dari Tallinn adalah bahwa kawasan wisata bersejarah dapat dikembangkan tanpa menghilangkan ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. Prinsip tersebut relevan untuk diterapkan dalam pengembangan berbagai destinasi wisata Indonesia yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan produk kerajinan daerah.
Ke depan, pengembangan pariwisata Indonesia perlu didukung oleh kebijakan yang memperkuat keterlibatan UMKM sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Pemerintah daerah dapat menyediakan ruang usaha yang terjangkau, memperbaiki akses fasilitas publik, serta membangun sistem promosi yang mengutamakan produk unggulan masyarakat. Pelestarian budaya juga perlu menjadi bagian dari strategi ekonomi agar kekayaan tradisi tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi tetap hidup dalam kegiatan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan menjadi faktor penting untuk mewujudkan tujuan tersebut. Sekolah Negarawan berharap hasil pengamatan internasional ini dapat menjadi bahan edukasi dan pengembangan gagasan bagi berbagai daerah di Indonesia. Melalui diseminasi pembelajaran yang menjangkau wilayah dari Medan hingga Ternate dan Tidore, semangat kemandirian ekonomi diharapkan semakin berkembang sehingga pariwisata mampu menjadi sumber kesejahteraan tanpa menghilangkan identitas dan martabat budaya bangsa.