SURABAYA – Kemajuan sebuah negara tidak cukup ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi dan tata kelola pemerintahan semata. Kebudayaan dan moralitas juga memiliki peran penting dalam membentuk arah pembangunan serta kualitas kehidupan masyarakat. Pandangan tersebut menjadi pokok pembahasan dalam forum Sinau Kebangsaan yang diselenggarakan Ekosistem Sekolah Negarawan bersama Komunitas Bangbangwetan pada 10 November 2025. Kegiatan yang diawali dengan tayangan video sambutan Jenderal TNI (Purn) Fachrurrozi tersebut mengangkat kebudayaan sebagai salah satu jalan untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa. Forum ini sekaligus mengajak masyarakat melihat kembali hubungan antara karakter manusia, nilai budaya, dan cita-cita kemakmuran bersama.

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, memandu jalannya forum dengan menghadirkan berbagai tokoh dari latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam. Para peserta diskusi meliputi seniman Franky Raden, kalangan ulama, pakar hukum, serta tokoh Kesultanan Ternate dan Tidore. Mereka diajak membahas kegelisahan mengenai belum meratanya kemakmuran di tengah besarnya potensi yang dimiliki Indonesia. Pembahasan diarahkan untuk menemukan hambatan mendasar yang membuat pembangunan belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Melalui pertemuan tersebut, kebudayaan ditempatkan sebagai bagian penting dalam memahami persoalan bangsa dan merumuskan jalan perbaikannya.
Seniman sekaligus komposer etnik, Franky Raden, menyoroti pembangunan yang terlalu berorientasi pada pencapaian materiil. Menurut pandangannya, pendekatan pembangunan yang mengabaikan kebudayaan dapat melemahkan identitas dan karakter bangsa. Kondisi tersebut berisiko membentuk pola pikir birokrasi yang memandang alam dan rakyat hanya sebagai komoditas. Padahal, pembangunan seharusnya menempatkan manusia dan lingkungan sebagai bagian penting yang harus dijaga. Karena itu, keberhasilan pembangunan perlu dinilai tidak hanya dari hasil ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan nilai budaya dan martabat masyarakat.
Para ulama yang hadir turut memberikan tausiah mengenai hubungan antara moralitas, spiritualitas, dan kemakmuran masyarakat. Mereka menyoroti bahwa ketimpangan kesejahteraan tidak dapat dilepaskan dari persoalan karakter serta tanggung jawab moral. Ketika pemegang amanah kehilangan kesadaran terhadap nilai ketuhanan, penyimpangan seperti korupsi dan ketidakadilan berisiko dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Nilai spiritual seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap kewenangan memiliki tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, pembentukan karakter dan penguatan moral perlu berjalan seiring dengan pembenahan sistem pembangunan.

Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Prayogi R. Saputra mengemukakan pentingnya melakukan Revolusi Kebudayaan sebagai langkah pembenahan bangsa. Pendidikan perlu diarahkan lebih jauh daripada sekadar mengejar kecerdasan kognitif dan pencapaian akademis. Proses pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memiliki budi pekerti, kepedulian, serta tanggung jawab terhadap sesama. Kecerdasan perlu disertai nilai kemanusiaan agar ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Dengan manusia yang berkarakter dan berintegritas, pembangunan ekonomi diharapkan dapat berjalan lebih adil dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Kehadiran KiaiKanjeng menjadi bagian penting dalam memperkuat pesan kebudayaan yang diangkat melalui Sinau Kebangsaan. Lantunan musik dan selawat menghadirkan suasana kebersamaan bagi ribuan jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut. Perpaduan seni dan nilai spiritual memberikan ruang bagi masyarakat untuk merenungkan persoalan bangsa dengan suasana yang lebih tenang. Kehadiran Jenderal TNI (Purn) Fachrurrozi melalui tayangan video sambutan turut melengkapi rangkaian kegiatan tersebut. Forum Bangbangwetan ini memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat untuk membangun persaudaraan dan kesadaran bersama.
Melalui Sinau Kebangsaan, Ekosistem Sekolah Negarawan dan Komunitas Bangbangwetan menegaskan pentingnya menempatkan kebudayaan dan moralitas dalam perjalanan pembangunan Indonesia. Kemakmuran tidak cukup dibangun melalui kekuatan ekonomi apabila tidak disertai manusia yang berkarakter dan menjunjung nilai kemanusiaan. Pendidikan, keteladanan, serta penguatan spiritualitas perlu menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Pemerintah dan seluruh unsur masyarakat juga perlu memastikan bahwa pembangunan menghormati identitas budaya serta memberikan manfaat yang merata. Pada akhirnya, jalan kebudayaan menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan bangsa yang sejahtera, beradab, dan memiliki rasa persaudaraan yang kuat.