KUALA LUMPUR – Kemampuan suatu bangsa menghadapi perubahan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu memahami hubungan internasional. Perubahan geopolitik, persaingan ekonomi, dan berbagai krisis lintas negara menuntut hadirnya generasi pemimpin yang memiliki wawasan luas serta kemampuan mengambil keputusan secara strategis. Kondisi tersebut menjadi perhatian Sekolah Negarawan Indonesia dan MAPIM Malaysia dalam mengembangkan pendidikan kepemimpinan berorientasi internasional. Upaya ini dibahas dalam pertemuan Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Adv. Rinto Setiyawan, S.H., M.H., bersama Presiden MAPIM Malaysia, Cik Gu Azmi, di Kuala Lumpur. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penguatan Nusantara Young Statesmen Programme (NYSP) untuk mempersiapkan generasi muda yang mampu memahami persoalan kawasan sekaligus berkontribusi dalam membangun hubungan antarbangsa.
Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi membahas pengembangan Pilar III NYSP yang mengusung tema Geopolitics, Diplomacy & Strategic Sovereignty. Pilar ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan memahami perubahan hubungan internasional dan dampaknya terhadap kepentingan nasional. Pengetahuan geopolitik menjadi penting karena setiap negara memiliki posisi, sumber daya, dan kepentingan strategis yang saling berkaitan. Generasi muda perlu memahami bagaimana perubahan kekuatan global dapat memengaruhi stabilitas kawasan dan arah pembangunan nasional. Oleh karena itu, pendidikan ini diarahkan untuk membentuk calon pemimpin yang mampu berpikir jauh ke depan dan menyusun langkah berdasarkan pertimbangan yang matang. Dengan bekal tersebut, Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara diharapkan memiliki sumber daya manusia yang semakin siap menghadapi tantangan global.
Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah ASEAN Geopolitics yang membahas posisi Asia Tenggara dalam perkembangan hubungan internasional. Peserta akan mempelajari peran ASEAN dalam membangun kerja sama regional, menjaga stabilitas, serta menghadapi berbagai tantangan bersama. Pembelajaran ini kemudian dilengkapi dengan materi International Relations dan Diplomacy. Melalui kedua materi tersebut, peserta akan mengembangkan kemampuan komunikasi antarbangsa, negosiasi, dan membangun hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Mereka juga akan diperkenalkan pada pentingnya menghormati perbedaan kepentingan setiap negara tanpa mengabaikan prinsip kesetaraan. Kemampuan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk berperan dalam berbagai forum regional maupun internasional.
Selain membahas hubungan antarnegara secara umum, Sekolah Negarawan dan MAPIM memberikan perhatian terhadap perkembangan peradaban Islam melalui modul Islamic World Studies. Cik Gu Azmi menyambut baik pengembangan materi tersebut karena memiliki relevansi dengan upaya memperkuat pemahaman dan solidaritas masyarakat Muslim lintas negara. Peserta akan mempelajari sejarah peradaban Islam, perkembangan dunia Muslim, serta kontribusinya terhadap kehidupan internasional. Materi ini juga diarahkan untuk memperluas pemahaman mengenai berbagai tantangan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat Muslim di berbagai kawasan. Dengan wawasan tersebut, generasi muda diharapkan mampu membangun kepedulian dan kerja sama yang lebih luas. Pendidikan ini sekaligus menanamkan pemahaman bahwa hubungan antarbangsa perlu dibangun berdasarkan nilai persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Untuk menghasilkan pembelajaran yang aplikatif, NYSP akan menggunakan pendekatan Leadership Simulation. Metode ini memungkinkan peserta memahami persoalan internasional melalui latihan yang menyerupai situasi nyata. Salah satu kegiatan yang dirancang adalah ASEAN Leaders Simulation yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengambil peran sebagai pemimpin negara-negara anggota ASEAN. Dalam simulasi tersebut, mereka akan menghadapi persoalan kawasan dan berlatih menyampaikan pandangan, mempertahankan kepentingan negara, serta merumuskan kesepakatan bersama. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan negosiasi dan kerja sama regional. Peserta juga akan belajar bahwa penyelesaian persoalan antarnegara membutuhkan komunikasi yang baik, pemahaman terhadap perbedaan, dan kesediaan mencari solusi bersama.
Program ini juga dilengkapi dengan Crisis Management Exercise untuk meningkatkan kesiapan peserta menghadapi berbagai keadaan darurat. Melalui latihan tersebut, peserta akan dihadapkan pada skenario krisis yang membutuhkan analisis cepat dan pengambilan keputusan secara tepat. Mereka perlu mengidentifikasi persoalan, menentukan prioritas, serta mempertimbangkan dampak dari setiap pilihan tindakan. Kemampuan koordinasi dan pengelolaan informasi juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini bertujuan membentuk calon pemimpin yang tidak mudah mengambil keputusan secara terburu-buru ketika menghadapi tekanan. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu menjaga kepentingan masyarakat dan stabilitas negara dalam berbagai situasi.
Pengembangan wawasan internasional dalam NYSP turut mencakup persoalan kemandirian ekonomi melalui modul Economic Sovereignty. Materi ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya memperkuat kemampuan ekonomi nasional di tengah persaingan dunia. Peserta akan mempelajari pengelolaan sumber daya alam, pengembangan potensi dalam negeri, serta peningkatan daya saing ekonomi. Kekuatan ekonomi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kemampuan suatu bangsa dalam mempertahankan kepentingannya. Negara yang memiliki ketahanan ekonomi lebih baik akan mempunyai ruang lebih luas dalam menjalin kerja sama dengan negara lain. Oleh sebab itu, pengelolaan sumber daya nasional perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Pembelajaran mengenai kedaulatan ekonomi juga perlu dihubungkan dengan kemampuan menyusun kebijakan berbasis data dan penelitian. Peserta akan didorong untuk memahami persoalan ketergantungan ekonomi, mengidentifikasi peluang kerja sama, serta merumuskan strategi pembangunan yang berkelanjutan. Penguatan kapasitas industri nasional dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab menjadi bagian dari pembahasan tersebut. Selain itu, kerja sama ekonomi regional perlu dikembangkan dengan tetap memperhatikan kepentingan jangka panjang setiap negara. Pendekatan ini diharapkan membentuk pemimpin yang mampu menyeimbangkan keterbukaan internasional dengan kebutuhan memperkuat kemandirian nasional. Dengan demikian, kedaulatan ekonomi dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Adv. Rinto Setiyawan, bersama tim MAPIM berharap pengembangan Pilar III NYSP dapat melahirkan generasi muda yang memiliki kompetensi sebagai Regional Diplomat dan Strategic Policy Analyst. Lulusan program ini diharapkan mampu membaca perkembangan kawasan, memahami kepentingan antarnegara, dan menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka juga diharapkan memiliki kemampuan membangun komunikasi serta kemitraan strategis dengan berbagai institusi internasional. Pembentukan karakter tetap menjadi perhatian utama agar kemampuan intelektual berjalan seiring dengan tanggung jawab dan integritas. Melalui pendidikan tersebut, calon pemimpin tidak hanya dipersiapkan untuk memahami persoalan dunia, tetapi juga untuk memberikan kontribusi dalam mencari penyelesaiannya.
Untuk menjaga keberlanjutan program, pengembangan kurikulum perlu disertai evaluasi berkala dan peningkatan kualitas tenaga pengajar. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan institusi internasional juga dapat memperkaya pengalaman belajar peserta. Selain pembelajaran di dalam kelas, kesempatan mengikuti forum internasional dan pertukaran pengetahuan perlu diperluas. Hasil pembelajaran selanjutnya dapat diarahkan menjadi penelitian dan rekomendasi yang relevan dengan kebutuhan kawasan. Sekolah Negarawan dan MAPIM Malaysia berharap kerja sama ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam membangun generasi pemimpin yang berwawasan luas, mandiri, dan bertanggung jawab. Melalui penguatan pendidikan geopolitik, diplomasi, dan kedaulatan strategis, kedua institusi ingin mendorong lahirnya sumber daya manusia yang mampu menjaga kepentingan bangsa sekaligus membangun perdamaian dan kesejahteraan bersama.