Berita

Kreativitas Anak Menghidupkan Nilai Pancasila, Alifia Ariana Sabet Juara Pertama Lomba Cerita Fiksi 2026
Berita Terbaru

Kreativitas Anak Menghidupkan Nilai Pancasila, Alifia Ariana Sabet Juara Pertama Lomba Cerita Fiksi 2026

MALANG — Kader Cilik Sekolah Negarawan, Alifia Ariana, menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang literasi dengan meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi Fase C. Perlombaan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa SD Unggulan Permata Jingga, Kabupaten Malang. Penghargaan diberikan pada 30 Oktober 2026 setelah karya berjudul Petualangan Seru di Negeri Dongeng terpilih sebagai karya terbaik. Keberhasilan ini memperlihatkan kemampuan Alifia dalam mengembangkan imajinasi menjadi sebuah cerita yang mengandung pesan pendidikan. Menariknya, cerita tersebut juga memperkenalkan nilai-nilai Pancasila melalui petualangan menemukan lima kepingan puzzle.

Lima Kepingan Puzzle, Satu Kesatuan Nilai Pancasila

Dalam cerita Petualangan Seru di Negeri Dongeng, Alifia mengajak pembaca mengikuti perjalanan para tokoh untuk menemukan lima kepingan puzzle yang terpisah. Setiap kepingan memiliki gambar dan makna yang mewakili lima sila Pancasila. Kepingan pertama bergambar bintang sebagai lambang Ketuhanan Yang Maha Esa. Kepingan kedua menampilkan rantai emas sebagai simbol Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sementara itu, kepingan ketiga bergambar pohon beringin yang melambangkan Persatuan Indonesia.

Perjalanan tersebut berlanjut dengan pencarian kepingan keempat bergambar kepala banteng. Simbol tersebut mewakili Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Kepingan terakhir menampilkan padi dan kapas sebagai lambang Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setelah seluruh kepingan ditemukan, para tokoh menyatukannya menjadi sebuah puzzle yang utuh. Gambaran tersebut menghadirkan pesan bahwa lima sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Melalui pendekatan dongeng, Alifia menyampaikan pemahaman kebangsaan menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Petualangan, persahabatan, rasa ingin tahu, dan tantangan menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut. Cerita ini menunjukkan bahwa pendidikan Pancasila tidak harus selalu disampaikan melalui penjelasan formal atau hafalan. Imajinasi dapat menjadi jembatan untuk membantu anak memahami makna kebersamaan dan kehidupan berbangsa. Dengan cara tersebut, nilai kebangsaan dapat dikenalkan melalui pengalaman membaca yang menyenangkan.

Saudara Kembar dengan Potensi dan Jalan Berbeda

Alifia Ariana merupakan putri dari Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, Wakil Direktur Sekolah Negarawan. Ia juga merupakan saudara kembar Yahya Al Fatih, Kader Cilik Sekolah Negarawan yang sebelumnya meraih Juara 1 Ajang Juara Kelas Indonesia 2026 tingkat Regional 6. Kompetisi tersebut meliputi wilayah Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau. Saat ini, keduanya sama-sama menempuh pendidikan di SD Unggulan Permata Jingga, Kabupaten Malang.

Meskipun terlahir sebagai saudara kembar, Alifia dan Yahya mulai menunjukkan kecenderungan serta kemampuan yang berbeda. Yahya Al Fatih beberapa kali tampil dalam kegiatan kenegarawanan, dialog, dan forum publik bersama Sekolah Negarawan. Sementara itu, Alifia memperlihatkan potensinya melalui kegiatan literasi dan penulisan cerita fiksi. Perbedaan tersebut menjadi gambaran bahwa setiap anak mempunyai cara tersendiri dalam mengekspresikan kemampuan dan mengembangkan dirinya.

Bagi Sekolah Negarawan, setiap anak tidak harus tumbuh menjadi pribadi yang seragam. Pendidikan seharusnya membantu anak mengenali kekuatan, minat, dan kemampuan yang dimilikinya. Ada anak yang menonjol dalam bidang akademik, olahraga, seni, maupun kepemimpinan. Ada pula yang memiliki kemampuan dalam menyusun gagasan, membaca, menulis, dan bercerita. Seluruh potensi tersebut perlu mendapatkan ruang berkembang tanpa meninggalkan nilai moral dan tanggung jawab sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Cerita Anak sebagai Media Pendidikan Kebangsaan

Karya Alifia memberikan gambaran bahwa literasi dapat menjadi salah satu sarana memperkenalkan nilai kebangsaan sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar mengenali lambang negara, tetapi juga dapat memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Lima simbol Pancasila dalam cerita tersebut menggambarkan hubungan antarnilai yang saling melengkapi. Ketuhanan menjadi landasan moral, kemanusiaan mengajarkan penghormatan terhadap sesama, dan persatuan menjaga kebersamaan. Selanjutnya, permusyawaratan mengajarkan kebijaksanaan, sedangkan keadilan sosial menjadi tujuan kehidupan bersama.

Puzzle yang digunakan dalam cerita tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar permainan mencari gambar. Selama kepingan masih terpisah, gambaran keseluruhan belum dapat terlihat secara sempurna. Setiap bagian memiliki fungsi penting untuk membentuk susunan yang lengkap. Pesan ini dapat menjadi bahan pembelajaran bahwa kehidupan bersama membutuhkan kesediaan untuk menghargai perbedaan. Berbagai unsur masyarakat perlu ditempatkan dalam hubungan yang saling mendukung demi mencapai tujuan bersama.

Untuk mengembangkan pendekatan pendidikan semacam ini, sekolah dan keluarga dapat memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk menghasilkan karya. Kegiatan membaca buku, menulis cerita, berdiskusi, dan membuat permainan edukatif dapat menjadi pilihan pembelajaran. Guru juga dapat mengajak anak menghubungkan nilai Pancasila dengan peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua perlu memberikan apresiasi terhadap proses kreatif anak, bukan hanya hasil akhirnya. Dengan demikian, literasi dapat berkembang menjadi sarana pembentukan karakter sekaligus penguatan pemahaman kebangsaan.

Pendidikan Kenegarawanan Dimulai dari Usia Dini

Prestasi Alifia Ariana dan Yahya Al Fatih sejalan dengan semangat pendidikan yang dikembangkan Sekolah Negarawan, yaitu menanam benih sejak dini. Pendidikan kenegarawanan tidak semestinya baru diperkenalkan ketika seseorang memasuki perguruan tinggi atau lingkungan organisasi. Pondasinya dapat dibangun sejak anak belajar membedakan tindakan baik dan buruk. Anak juga perlu dibiasakan bertanggung jawab, menghargai orang lain, bekerja sama, serta berani menyampaikan gagasan. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan bersama.

Dalam pandangan tersebut, keberhasilan anak tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penghargaan yang diperoleh. Gelar juara memang patut diapresiasi, tetapi proses belajar dan pertumbuhan karakter juga harus mendapatkan perhatian. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, berimajinasi, dan menyampaikan pendapat. Mereka juga perlu memperoleh ruang untuk melakukan kesalahan serta belajar memperbaikinya. Lingkungan pendidikan yang mendukung akan membantu setiap anak menemukan kemampuan terbaiknya.

Semangat tersebut sejalan dengan ungkapan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, yaitu, "Ayo, tukul winih-winihku." Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan agar benih-benih kehidupan terus tumbuh dan berkembang. Setiap benih memiliki karakter dan jalur pertumbuhan yang berbeda. Ada yang berkembang melalui matematika, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ada pula yang tumbuh melalui seni, kebudayaan, olahraga, kepemimpinan, serta kemampuan membaca dan menulis.

Bangsa yang besar membutuhkan generasi dengan beragam kemampuan dan keahlian. Namun, keberagaman tersebut perlu dipertemukan melalui nilai moral, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Pendidikan memiliki tugas membantu anak mengembangkan kecerdasannya sekaligus membangun karakter. Karena itu, proses pendidikan perlu memberikan ruang bagi kreativitas tanpa mengabaikan pembentukan nilai. Semangat menanam benih sejak dini menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan generasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mengembangkan Potensi, Merawat Benih Masa Depan

Melalui Petualangan Seru di Negeri Dongeng, Alifia Ariana telah memperlihatkan bahwa sebuah cerita sederhana dapat membawa pesan pendidikan yang bermakna. Ia berhasil memadukan imajinasi, kemampuan menulis, dan pengenalan nilai Pancasila dalam satu karya. Lima kepingan puzzle yang ditemukan para tokoh menjadi gambaran pentingnya kesatuan di tengah keberagaman. Karya tersebut juga memperlihatkan bahwa anak-anak dapat menjadi penyampai pesan kebangsaan melalui kreativitasnya. Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi Alifia untuk terus mengembangkan kemampuan literasinya.

Selamat kepada Alifia Ariana, Kader Cilik Sekolah Negarawan, atas keberhasilannya meraih Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi Fase C dalam rangka Bulan Bahasa SD Unggulan Permata Jingga 2026. Semoga pencapaian tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang dalam dunia literasi dan pengembangan kreativitas. Teruslah membaca, menulis, berimajinasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Sebab, setiap anak merupakan benih yang memiliki potensi untuk tumbuh melalui jalannya masing-masing.

Tukul, winih-winihku.