Berita

Membangun Peradaban Berlandaskan Ilmu, Kesadaran, dan Kebenaran
Berita Terbaru

Membangun Peradaban Berlandaskan Ilmu, Kesadaran, dan Kebenaran

Mengapa Banyak Orang Berpendidikan Belum Menjamin Terwujudnya Kehidupan yang Adil dan Sejahtera

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Indonesia memiliki banyak orang pintar dengan latar belakang pendidikan dan keahlian yang beragam. Jumlah sarjana terus bertambah, profesor semakin banyak, dan para ahli tersebar di berbagai lembaga serta bidang keilmuan. Berbagai persoalan bangsa juga telah dibahas melalui seminar, penelitian, diskusi, dan forum ilmiah. Namun, korupsi masih terjadi, ketidakadilan belum sepenuhnya terselesaikan, dan kesejahteraan rakyat masih menjadi pekerjaan besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyaknya orang berilmu belum tentu berbanding lurus dengan kualitas kehidupan dan peradaban.

Persoalan mendasar yang perlu direnungkan bukan hanya mengenai jumlah orang pintar, melainkan bagaimana ilmu digunakan dalam kehidupan. Kepintaran tanpa arah dan tata nilai dapat membuat manusia semakin pandai mencari pembenaran bagi kepentingannya sendiri. Pengetahuan yang tidak diwujudkan melalui tindakan juga berisiko hanya menjadi kumpulan teori tanpa manfaat nyata. Karena itu, ilmu perlu disertai kesadaran moral, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Peradaban yang benar membutuhkan manusia yang tidak hanya mampu berpikir, tetapi juga memahami kebenaran dan bersedia mengamalkannya.

Kritik Cak Nun terhadap Hilangnya Kesadaran Moral

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pernah menyampaikan kegelisahan mengenai keadaan kehidupan bernegara melalui pernyataan yang mendalam. Kritik tersebut mengajak masyarakat untuk melihat kembali kesesuaian antara cita-cita kehidupan bernegara dan kenyataan yang dirasakan rakyat. Pernyataan tersebut merupakan kritik moral dan spiritual, bukan penyangkalan terhadap keberadaan Indonesia sebagai negara secara hukum. Pesan yang terkandung di dalamnya mengingatkan bahwa keberadaan negara harus disertai penyelenggaraan kehidupan yang mencerminkan keadilan dan kesejahteraan. Cak Nun menyampaikan kegelisahan tersebut melalui ungkapan berikut.

“Kalian ini jadi anggotanya negara, yang nggak pantas disebut negara. Kalian ini jadi rakyatnya pemerintah yang nggak pantas disebut pemerintah.”

Pernyataan tersebut mengajak kita mempertanyakan bagaimana sebuah negara dapat memiliki banyak orang berpendidikan, tetapi masih menghadapi persoalan mendasar dalam kehidupan masyarakat. Cak Nun kemudian mengingatkan pentingnya menghilangkan kesombongan, baik dalam perkataan maupun dalam hati manusia. Pesan tersebut menyentuh perilaku manusia ketika menggunakan ilmu, kedudukan, dan pengaruhnya. Kesombongan dapat membuat seseorang merasa paling benar dan sulit menerima nasihat. Cak Nun menyampaikan pengingat tersebut melalui pernyataan berikut.

“Hilangkan sombong-sombong, hilangkan perkataan-perkataan yang macam-macam, entah itu di koran, di televisi, di internet, di dalam hatimu sendiri.”

Pesan tersebut menyentuh salah satu akar persoalan dalam pembangunan peradaban. Manusia dapat memiliki ilmu yang tinggi, tetapi tetap dikuasai kesombongan dan kepentingan pribadi. Seseorang bisa memahami hukum, tetapi menggunakan pengetahuannya untuk mencari pembenaran atas tindakan yang tidak adil. Seseorang juga dapat menguasai ilmu ekonomi, tetapi hanya mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, penguasaan ilmu agama tidak otomatis menjamin seseorang mampu menghadirkan kasih sayang dan keadilan dalam perilakunya.

Orang pintar belum tentu benar, orang berilmu belum tentu bijaksana, dan orang yang memiliki jabatan tinggi belum tentu memiliki jiwa kenegarawanan. Kepintaran merupakan kemampuan memahami dan mengolah pengetahuan, sedangkan kebenaran menuntut kesediaan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab. Tanpa tata nilai, ilmu dapat digunakan untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Karena itu, kualitas manusia tidak cukup dinilai dari gelar akademik, kemampuan berbicara, atau penguasaan teknologi. Kejujuran, keadilan, kerendahan hati, dan tindakan yang memberikan manfaat juga menjadi ukuran penting dalam membangun peradaban.

Kesadaran sebagai Fondasi Peradaban

Dalam pemikiran Sekolah Negarawan, pembangunan peradaban harus dimulai dari kesadaran. Kesadaran menentukan tata nilai, tata nilai membentuk manusia, manusia membentuk keluarga, keluarga membentuk masyarakat, dan masyarakat melahirkan peradaban. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas kehidupan bersama sangat dipengaruhi oleh kualitas kesadaran setiap manusia. Apabila kesadaran dibangun berdasarkan nilai yang benar, pengetahuan dapat diarahkan untuk menghasilkan kebaikan. Sebaliknya, kesadaran yang dikuasai kesombongan dan kepentingan pribadi dapat membuat kemajuan ilmu justru memperbesar persoalan kehidupan.

Kualitas peradaban tidak cukup diukur dari banyaknya orang berpendidikan, kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, atau megahnya pembangunan fisik. Seluruh kemajuan tersebut memang penting, tetapi harus disertai kemampuan menghadirkan keadilan dan kemaslahatan. Peradaban juga perlu dinilai dari bagaimana manusia memperlakukan sesamanya dan menjalankan tanggung jawabnya. Jika kesadaran hanya berorientasi pada materi, ilmu berisiko digunakan untuk mengejar keuntungan pribadi. Jika kesadaran dikuasai ambisi kekuasaan, hukum dapat diperlakukan sebagai alat untuk mempertahankan jabatan dan kepentingan tertentu.

Apabila kesombongan menjadi bagian dari cara berpikir, nasihat dan kritik dapat dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, manusia semakin sulit menerima perbedaan pandangan dan memperbaiki kesalahan. Padahal, perkembangan pengetahuan membutuhkan keterbukaan terhadap pemeriksaan, koreksi, dan pembuktian. Kesediaan mengakui keterbatasan merupakan bagian penting dari sikap ilmiah sekaligus kedewasaan moral. Oleh sebab itu, pembangunan peradaban harus memperkuat kesadaran bahwa ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan sarana memperbaiki kehidupan.

Mengolah Pengetahuan dari Nur Menuju Tindakan

Dalam kerangka perenungan spiritual Sekolah Negarawan, Nur dipahami sebagai simbol petunjuk dan pencerahan. Pengetahuan kemudian dapat dibicarakan melalui empat jalur yang berbeda, yaitu wahyu, ilham, inspirasi, dan ide. Wahyu merupakan petunjuk Allah kepada nabi dan rasul yang memiliki otoritas kenabian. Ilham merupakan dorongan atau pemahaman batin yang dapat dialami manusia, sedangkan inspirasi merupakan pencerahan yang lahir melalui pengalaman, pengamatan, dan perenungan. Sementara itu, ide merupakan gagasan yang dibentuk melalui proses berpikir manusia.

Keempat jalur tersebut tidak memiliki kedudukan yang sama. Wahyu kenabian memiliki kekhususan tersendiri dan telah berakhir dengan Nabi Muhammad ﷺ. Adapun ilham, inspirasi, dan ide manusia tetap perlu diperiksa kebenaran serta akibatnya. Manusia tidak boleh menganggap setiap dorongan batin atau gagasan pribadi sebagai kebenaran yang tidak dapat dikritisi. Setiap pengetahuan perlu ditempatkan secara tepat agar dapat digunakan dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, proses memperoleh pengetahuan harus disertai kesadaran mengenai sumber, kedudukan, dan batasannya.

Pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai sesuatu yang diterima, dipikirkan, atau dibicarakan. Pengetahuan harus diolah agar dapat dipahami, disusun, dan diwujudkan dalam kehidupan. Karena itu, Sekolah Negarawan mengembangkan empat tahapan pengolahan pengetahuan, yaitu tulisan, sistematika, gambar atau visualisasi, dan panduan pelaksanaan. Keempat tahapan tersebut membantu menjembatani gagasan dengan tindakan nyata. Melalui proses yang terstruktur, pengetahuan diharapkan tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi juga menghasilkan perubahan yang dapat diperiksa dan dievaluasi.

Tulisan diperlukan agar pemikiran dapat dirumuskan secara jelas dan diperiksa kembali. Sistematika diperlukan agar hubungan antargagasan tersusun secara teratur dan tidak saling bertentangan. Gambar atau visualisasi membantu menjelaskan struktur, hubungan, serta alur pengetahuan agar lebih mudah dipahami. Sementara itu, panduan pelaksanaan diperlukan agar pemikiran dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata, terukur, dan dapat dievaluasi. Tanpa tulisan, gagasan mudah hilang, tanpa sistematika pengetahuan dapat menjadi kumpulan informasi yang tidak terhubung, tanpa visualisasi hubungan yang rumit sulit dipahami, dan tanpa panduan pelaksanaan pemikiran berisiko berhenti sebagai bahan seminar.

Namun, seluruh tahapan tersebut tetap membutuhkan fondasi berupa tata nilai yang benar. Sistem yang tersusun rapi belum tentu menghasilkan keadilan apabila tujuan pembentukannya keliru. Teknologi yang canggih juga belum tentu membawa kebaikan apabila digunakan untuk merugikan manusia. Kebijakan yang terlihat efisien belum tentu menyejahterakan masyarakat apabila mengabaikan kebutuhan rakyat. Bahkan, kecerdasan yang luar biasa dapat menjadi berbahaya apabila tidak disertai tanggung jawab moral. Karena itu, tata nilai harus menjadi dasar dalam mengolah dan menerapkan setiap pengetahuan.

Mengembalikan Orientasi Kehidupan kepada Allah

Cak Nun juga menyampaikan pengingat mengenai pentingnya menempatkan Allah sebagai orientasi tertinggi dalam kehidupan manusia. Beliau mengingatkan agar manusia tidak menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tujuan pengabdian yang berlebihan. Pesan tersebut disampaikan melalui pernyataan berikut.

“Supaya nggak ada tuhan lain di dalam hatimu, di dalam negaramu ini. Terlalu banyak yang kalian tuhankan.”

Dalam konteks spiritual, pesan tersebut mengajak manusia untuk kembali menempatkan Allah sebagai pusat pengabdian dan orientasi kehidupan. Dalam kehidupan bernegara, pesan tersebut dapat direnungkan sebagai kritik terhadap kecenderungan menjadikan kekuasaan, kekayaan, jabatan, dan kepentingan kelompok sebagai tujuan tertinggi. Ketika kekuasaan menjadi tujuan utama, kebenaran dapat dikorbankan. Ketika keuntungan materi menjadi ukuran segala sesuatu, keadilan berisiko diabaikan. Ketika jabatan menjadi kebanggaan utama, pengabdian kepada rakyat dapat kehilangan maknanya.

Padahal, negara dibentuk bukan untuk membesarkan kekuasaan pemerintah, melainkan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat. Dalam perspektif Sekolah Negarawan, rakyat merupakan komunitas pemilik kedaulatan yang membentuk negara dan memberikan mandat kewenangan kepada pemerintah. Pemerintah merupakan kepemimpinan periodik yang menerima mandat untuk menjalankan fungsi pemerintahan. Mandat tersebut harus digunakan untuk melindungi, melayani, dan mengatur kehidupan masyarakat demi terwujudnya keadilan serta kesejahteraan. Karena itu, seluruh kewenangan dan sumber daya negara harus diarahkan untuk kepentingan rakyat.

Mengukur Keberhasilan dari Keadilan dan Kesejahteraan

Keberhasilan negara tidak cukup dinilai dari banyaknya peraturan yang dibuat, besarnya anggaran yang dibelanjakan, atau tingginya gelar akademik para pejabatnya. Keberhasilan harus terlihat dari kemampuan negara menghadirkan keadilan, perlindungan, pelayanan, dan kesejahteraan bagi rakyat. Apa gunanya ahli hukum jika hukum tidak menghadirkan keadilan? Apa gunanya ahli ekonomi jika kekayaan negara tidak digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat? Apa gunanya ilmu kenegaraan jika penyelenggaraan negara tidak dijalankan untuk kepentingan pemilik kedaulatannya? Pertanyaan tersebut mengingatkan bahwa setiap bidang keilmuan harus memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya, ilmu harus ditempatkan pada kedudukan yang mulia sebagai sarana memahami kebenaran dan memperbaiki kehidupan. Sekolah Negarawan membutuhkan manusia yang tidak hanya pandai berpikir, tetapi juga memiliki kesadaran, tata nilai, dan kebijaksanaan. Indonesia membutuhkan ilmuwan yang menjunjung kejujuran, ahli hukum yang mengutamakan keadilan, serta ekonom yang memahami kesejahteraan rakyat. Masyarakat juga membutuhkan pemimpin yang bersedia menerima kritik dan memperbaiki kekeliruan, serta negarawan yang mampu mengutamakan kepentingan jangka panjang bangsa.

Cak Nun mengajak manusia membersihkan hati dari kesombongan dan kembali kepada Allah serta Rasulullah. Pesan spiritual tersebut mengingatkan bahwa kecerdasan manusia memiliki keterbatasan dan harus disertai kerendahan hati. Manusia perlu bersedia menerima nasihat, mengakui kesalahan, serta memperbaiki tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran. Sikap tersebut penting agar ilmu tidak berubah menjadi alat untuk membenarkan kesombongan dan kepentingan pribadi. Dengan demikian, pengetahuan dapat berkembang bersama tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap sesama.

Dari Kepintaran Menuju Peradaban yang Benar

Pada akhirnya, peradaban tidak akan menjadi benar hanya karena semakin banyak orang pintar. Peradaban akan berkembang ketika ilmu digunakan secara bertanggung jawab, kekuasaan dijalankan dengan adil, dan pengetahuan diwujudkan menjadi tindakan yang membawa kemaslahatan. Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu menjelaskan berbagai persoalan. Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana melahirkan manusia yang mampu menyusun penyelesaian dan memiliki kejujuran serta keberanian untuk melaksanakannya. Kepintaran menghasilkan pengetahuan, tetapi kesadaran dan tata nilai menentukan arah penggunaannya.

Maka, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukan lagi sekadar berapa banyak orang pintar yang dimiliki Indonesia. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa banyaknya pengetahuan belum sepenuhnya mampu menghadirkan tata kehidupan yang benar, adil, dan menyejahterakan rakyat. Jangan sampai bangsa ini berhasil mencetak generasi yang semakin pintar, tetapi gagal membangun manusia yang semakin benar. Tujuan akhir ilmu bukan sekadar mengetahui, melainkan memahami, mengamalkan, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan. Sebab, peradaban yang bermartabat hanya dapat dibangun ketika kecerdasan berjalan bersama kesadaran, kebenaran, dan tanggung jawab.