Berita

Jejak Cak Nun di ISS Den Haag Menjadi Pelajaran Diplomasi Intelektual
Berita Terbaru

Jejak Cak Nun di ISS Den Haag Menjadi Pelajaran Diplomasi Intelektual

DEN HAAG — Hubungan Indonesia dengan dunia internasional tidak selalu dibangun melalui pertemuan resmi antarnegara, perundingan ekonomi, atau forum diplomatik. Ada jalur lain yang dapat memperkenalkan gagasan dan identitas Indonesia kepada dunia, yaitu melalui kebudayaan dan pemikiran. Jejak Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun di Institute of International Studies (ISS) Den Haag menjadi salah satu contoh bagaimana gagasan seorang budayawan Indonesia pernah hadir dalam ruang intelektual Eropa.

Pada 1984 hingga 1985, Cak Nun berada di ISS sebagai seorang fellow dan berkesempatan mengajar mahasiswa program Master. Kehadirannya bukan dalam kapasitas sebagai diplomat negara, melainkan sebagai budayawan dan pemikir yang membawa pengalaman serta perspektif Indonesia ke lingkungan akademik internasional. Bagi Sekolah Negarawan, catatan tersebut menunjukkan bahwa pemikiran yang berakar pada pengalaman kultural Indonesia dapat memiliki ruang dialog dalam lingkungan akademik dunia.

Kunjungan delegasi Sekolah Negarawan ke ISS menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjalanan tersebut. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama jajaran delegasi menempatkan penelusuran jejak Cak Nun sebagai bagian dari pembelajaran mengenai sejarah intelektual Indonesia. Pengalaman tersebut sekaligus memperluas pemahaman bahwa keberadaan Indonesia di dunia internasional dapat dibangun melalui gagasan, kebudayaan, dan karya intelektual.

Membaca Kembali Pemikiran dari Den Haag

Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah buku Dari Pojok Sejarah, yang berkaitan dengan pengalaman dan perenungan Cak Nun selama berada di Den Haag. Buku tersebut memuat surat-surat Cak Nun kepada adiknya, Adil Amrullah atau Cak Dil, yang menjadi catatan mengenai pergulatan pemikiran selama berada di lingkungan Eropa.

Karya tersebut dapat dibaca sebagai gambaran mengenai perjumpaan antara pengalaman Indonesia dan realitas Barat. Dari tempat yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut, Sekolah Negarawan mencoba melihat kembali bagaimana pengalaman internasional dapat memengaruhi cara seorang intelektual membaca persoalan Indonesia.

Penelusuran semacam ini memberikan perspektif bahwa sejarah intelektual tidak hanya perlu dipahami melalui hasil akhirnya. Proses, lingkungan, pengalaman, dan ruang tempat sebuah pemikiran berkembang juga memiliki nilai penting untuk dipelajari oleh generasi berikutnya.

Estafet Intelektual Diaspora

Kegiatan tersebut juga melibatkan unsur diaspora Indonesia yang sedang menjalani aktivitas akademik di Eropa. Imam Syafiih Kamil dari Chapter Eropa Sekolah Negarawan serta Una, kandidat doktor dari Universitas Leiden, turut mendampingi proses penelusuran jejak intelektual tersebut.

Kehadiran generasi muda Indonesia di lingkungan akademik Eropa memperlihatkan adanya kesinambungan dalam perjalanan intelektual. Jika Cak Nun pada masa lalu membawa perspektif Indonesia ke ruang akademik internasional, generasi Indonesia yang kini berada di Eropa memiliki kesempatan untuk melanjutkan proses pertukaran gagasan tersebut dengan konteks zaman yang berbeda.

Hal ini menjadi penting agar Indonesia tidak hanya hadir sebagai objek yang dipelajari dari luar negeri. Indonesia juga perlu terus menjadi subjek yang menghasilkan gagasan, penelitian, kebudayaan, dan perspektif yang dapat dibawa ke ruang diskusi internasional.

Menghubungkan Warisan Kultural dengan Teknologi

Kehadiran Erick Karya, CEO Enygma Solusi Negeri, memberikan dimensi lain dalam kunjungan tersebut. Penelusuran terhadap sejarah dan warisan intelektual kemudian dipertemukan dengan perspektif teknologi yang berkembang pada masa kini.

Warisan pemikiran dan kebudayaan memiliki tantangan baru ketika berhadapan dengan perubahan teknologi. Dokumen, buku, surat, dan berbagai catatan sejarah membutuhkan sistem pengelolaan yang mampu menjaga keberadaannya sekaligus membuatnya mudah diakses oleh generasi mendatang.

Karena itu, narasi kebangsaan yang berasal dari masa lalu perlu memiliki ruang dalam ekosistem digital masa depan. Teknologi dapat menjadi sarana untuk mendokumentasikan, menyimpan, dan memperluas akses terhadap warisan intelektual sehingga gagasan penting tidak berhenti sebagai arsip yang hanya diketahui oleh kalangan tertentu.

Kedaulatan dalam Berpikir dan Berbudaya

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman di ISS memberikan pelajaran bahwa pendidikan kepemimpinan dapat mengambil sumber pembelajaran dari berbagai bidang kehidupan. Kepemimpinan tidak hanya dipelajari melalui sejarah pejabat negara atau perjalanan tokoh dalam peperangan, tetapi juga melalui perjalanan budayawan, intelektual, dan pemikir yang membawa gagasan Indonesia ke ruang internasional.

Jejak Cak Nun di ISS memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia. Ketika pemikiran yang berakar dari pengalaman masyarakat Indonesia mampu berdialog dengan lingkungan akademik internasional, terbuka ruang untuk memperkenalkan Indonesia melalui kekuatan gagasan.

Penelusuran Sekolah Negarawan di Den Haag pada akhirnya menjadi refleksi mengenai pentingnya membangun generasi yang memiliki wawasan global tanpa kehilangan akar kebudayaannya. Kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola wilayah dan sumber daya, tetapi juga dengan kemampuan suatu bangsa untuk menghasilkan, menjaga, dan menyuarakan pemikirannya sendiri di tengah percakapan dunia.