Berita

Doa Tahlukah Dibacakan, Sekolah Negarawan Ingatkan Bahaya Makar atas Keadilan
Berita Terbaru

Doa Tahlukah Dibacakan, Sekolah Negarawan Ingatkan Bahaya Makar atas Keadilan

Malang, Jawa Timur — Sekolah Negarawan menggelar pembacaan Doa Tahlukah sebagai ikhtiar spiritual dan peringatan moral terhadap kondisi ketatanegaraan, Rabu (24/12/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB hingga selesai ini berlangsung di Kota Malang, Jawa Timur, dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang.

Acara tersebut dihadiri oleh kalangan akademisi, pegiat kebangsaan, tokoh masyarakat, serta warga yang memiliki perhatian terhadap isu keadilan dan tata kelola negara. Pembacaan Doa Tahlukah dilakukan secara khidmat, dengan suasana reflektif dan tanpa atribut politik praktis.

Dalam penjelasan panitia, Doa Tahlukah dipahami sebagai doa permohonan kepada Tuhan agar keadilan ditegakkan dan kebatilan yang terstruktur—baik dalam kekuasaan, hukum, maupun sistem sosial—tidak terus berlangsung. Doa ini juga dimaknai sebagai ekspresi kegelisahan moral atas praktik-praktik yang dinilai menyimpang dari prinsip keadilan substantif, meskipun kerap dibenarkan secara formal dan prosedural.

“Doa Tahlukah bukan doa kebencian dan bukan pula ajakan kekerasan. Ini adalah doa penyerahan diri kepada keadilan Tuhan, agar segala bentuk makar terhadap kebenaran dan keadilan tidak terus merusak kehidupan bernegara,” ujar salah satu perwakilan Sekolah Negarawan dalam pengantar kegiatan.

Penyelenggara menilai, pembacaan doa tersebut relevan di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan kekecewaan publik terhadap praktik hukum yang dinilai tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Menurut mereka, kondisi tersebut berpotensi melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara jika tidak disertai koreksi moral dan keberanian untuk menegakkan keadilan secara utuh.

Sekolah Negarawan menegaskan bahwa kegiatan ini tidak dimaksudkan sebagai kritik personal terhadap pihak tertentu, melainkan sebagai pengingat kolektif bahwa kekuasaan dan hukum memiliki batas etis. Ketika hukum dijalankan tanpa keadilan dan nurani, maka yang terjadi bukan ketertiban, melainkan pembenaran atas ketidakadilan itu sendiri.

Selain pembacaan doa, acara juga diisi dengan refleksi singkat mengenai pentingnya menjaga akal sehat, integritas, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan bernegara. Peserta diajak untuk tetap menempuh jalur konstitusional dan intelektual dalam menyampaikan kritik, tanpa terjebak pada kebencian, kekerasan, atau disinformasi.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ajakan agar masyarakat sipil terus berperan aktif menjaga nilai keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.