Demokrasi Indonesia saat ini menghadapi ancaman besar yang datang dari kekuatan-kekuatan pemodal besar. Seiring dengan meningkatnya kekuatan uang dalam pemerintahan, semakin nyata bahwa pemilu kita yang seharusnya menjadi cerminan suara rakyat sering kali oligarki kendalikan yang memiliki akses lebih terhadap sumber daya. Apa dampaknya bagi rakyat dan bagaimana seharusnya negara merespons ketika oligarki kendalikan pemilu?
Dalam sistem demokrasi liberal yang berjalan saat ini, biaya pemerintahan sangat tinggi. Hal ini membuka celah bagi pemodal besar untuk mempengaruhi hasil pemilu. Partai-partai membutuhkan dana besar untuk menjalankan kampanye mereka, yang sering kali diperoleh dari sponsor-sponsor yang memiliki kepentingan pribadi. Dengan dana tersebut, mereka dapat membeli pengaruh, membeli suara pemilih. Bahkan mengendalikan media yang memainkan peran krusial dalam membentuk opini publik.
Kondisi ini menciptakan ketidaksetaraan yang jelas dalam sistem pemilu. Rakyat yang seharusnya memiliki kekuasaan tertinggi dalam menentukan masa depan negara, justru menjadi korban dari praktek yang sarat dengan intervensi kekuatan uang. Rakyat yang tidak memiliki dana untuk mempengaruhi pemilu harus menerima kenyataan bahwa suara mereka mungkin tidak seberharga suara mereka yang didukung oleh kekuatan modal.
Salah satu faktor yang membuat demokrasi kita terancam adalah bagaimana partai, survei, dan bahkan media sering kali bisa dibeli dan dikuasai. Banyak pemimpin yang hanya berfokus pada kemenangan dengan cara yang tidak adil. Mereka yang memiliki uang atau dukungan dari pemodal besar cenderung lebih mudah untuk memenangkan kursi. Media yang seharusnya berperan untuk memberikan informasi yang objektif, terkadang berbalik menjadi alat untuk mendukung kepentingan yang lebih besar.
Survei yang seharusnya mencerminkan opini rakyat sering kali dipengaruhi oleh pemodal yang ingin membentuk citra tertentu. Di sisi lain, media yang lebih banyak dimiliki oleh segelintir orang, dapat dengan mudah mengarahkan opini publik sesuai dengan kepentingan mereka. Ini semakin memperburuk ketidakadilan dalam proses pemilu.
Untuk mengembalikan demokrasi yang adil, kita perlu mengambil langkah-langkah yang konkret:
Demokrasi Indonesia sedang terancam oleh oligarki yang mengendalikan proses pemilu dan mengabaikan kepentingan rakyat. Dengan reformasi yang tepat dalam pembiayaan, pengawasan media dan survei, serta pendidikan politik bagi rakyat, kita bisa mengembalikan demokrasi yang sesungguhnya. Negara harus kembali pada prinsip dasar: demokrasi adalah untuk rakyat, bukan untuk mereka yang memiliki uang.