Berita

Belajar dari Belanda, Sekolah Negarawan Menggali Makna Pertahanan yang Terbuka dan Modern
Berita Terbaru

Belajar dari Belanda, Sekolah Negarawan Menggali Makna Pertahanan yang Terbuka dan Modern

DEN HAAG — Wibawa sebuah negara tidak selalu tercermin dari tingginya pagar, ketatnya penjagaan, atau jarak yang dibangun antara institusi negara dengan masyarakat. Pandangan tersebut menjadi salah satu pelajaran penting yang diperoleh delegasi Sekolah Negarawan saat melakukan observasi ke Kementerian Pertahanan Belanda atau Ministerie van Defensie di Den Haag. Dari kunjungan tersebut, delegasi melihat bagaimana sebuah institusi pertahanan dapat tetap memiliki kewibawaan tanpa kehilangan kedekatan dengan masyarakat.

Kunjungan yang dilakukan oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan menjadi bagian dari pembelajaran mengenai tata kelola negara modern. Didampingi oleh Imam Syafiih Kamil dari Sekolah Negarawan Chapter Eropa serta CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya, delegasi mengamati bagaimana sistem pertahanan Belanda mengelola hubungan antara keamanan nasional, teknologi, dan keterbukaan institusi.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman di Den Haag memberikan perspektif bahwa kekuatan negara tidak hanya dilihat dari kemampuan menjaga wilayah dan menghadapi ancaman. Sebuah negara juga perlu membangun hubungan kepercayaan dengan masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan berbangsa.

Selama ini, institusi pertahanan sering dipersepsikan sebagai ruang yang sangat tertutup dengan pembatas ketat antara aparat dan masyarakat. Namun, pengamatan di Kementerian Pertahanan Belanda menunjukkan pendekatan yang berbeda. Lingkungan institusi tetap menjalankan fungsi strategisnya tanpa menghadirkan suasana yang menciptakan jarak berlebihan dengan warga.

Prayogi R. Saputra melihat kondisi tersebut sebagai refleksi penting mengenai hubungan antara negara dan masyarakat. Menurutnya, kewibawaan sebuah institusi tidak hanya dibangun melalui simbol kekuatan, tetapi juga melalui kemampuan menghadirkan rasa percaya.

Dalam sistem pemerintahan modern, lembaga pertahanan tetap memiliki tanggung jawab menjaga keamanan negara, tetapi pada saat yang sama tetap menjadi bagian dari institusi publik. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlindungan negara dan keterbukaan masyarakat dapat berjalan secara bersamaan.

Teknologi sebagai Fondasi Keamanan Modern

Dari perspektif teknologi, Erick Karya menjelaskan bahwa keterbukaan ruang publik pada institusi strategis tidak terlepas dari sistem keamanan yang semakin berkembang. Perubahan zaman membuat pendekatan keamanan tidak hanya bergantung pada kehadiran fisik personel penjaga, tetapi juga pada kemampuan teknologi dalam mendeteksi dan mengelola risiko.

Sistem digital, sensor, pengolahan data, dan kecerdasan buatan dapat menjadi bagian dari infrastruktur keamanan modern. Dengan dukungan teknologi yang tepat, sebuah negara dapat menjaga fasilitas strategisnya tanpa harus menciptakan suasana yang terlalu tertutup.

Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan tata kelola yang bertanggung jawab. Keamanan modern bukan hanya persoalan kemampuan teknis, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan negara dan kenyamanan masyarakat.

Hubungan Sipil dan Institusi Negara

Imam Syafiih Kamil menyoroti bahwa pengalaman di Eropa menunjukkan pentingnya membangun hubungan yang sehat antara masyarakat sipil dan institusi negara. Dalam sistem yang telah berkembang, warga dipandang sebagai bagian dari pemilik ruang publik sehingga keberadaan institusi negara tidak seharusnya menciptakan rasa keterasingan.

Hubungan yang baik antara masyarakat dan lembaga pertahanan dapat memperkuat kepercayaan publik. Ketika warga memahami fungsi institusi negara dan merasa memiliki hubungan yang dekat dengan lembaga tersebut, maka terbentuk fondasi sosial yang mendukung stabilitas nasional.

Perspektif ini menjadi salah satu pembelajaran penting bagi calon pemimpin masa depan. Kepemimpinan tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola kekuatan negara, tetapi juga kemampuan membangun hubungan yang konstruktif dengan masyarakat.

Refleksi bagi Kepemimpinan Indonesia

Bagi Sekolah Negarawan, kunjungan ke Kementerian Pertahanan Belanda memberikan pelajaran mengenai pentingnya perubahan cara pandang dalam mengelola institusi strategis. Keamanan tidak hanya berkaitan dengan perlindungan terhadap ancaman eksternal, tetapi juga bagaimana negara menghadirkan rasa aman bagi rakyatnya. Indonesia sebagai negara besar memiliki tantangan untuk terus memperkuat sistem pertahanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Pengelolaan ruang-ruang strategis perlu mempertimbangkan aspek keamanan, teknologi, pelayanan publik, dan hubungan sosial.

Melalui pembelajaran lapangan tersebut, Sekolah Negarawan melihat bahwa pemimpin masa depan harus mampu memahami keseimbangan antara kekuatan dan keterbukaan. Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki sistem pertahanan yang tangguh, tetapi juga negara yang mampu membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari institusi yang melindunginya. Pengalaman dari Den Haag memberikan pesan bahwa wibawa negara tidak semata-mata hadir dari batas yang tinggi atau penjagaan yang ketat. Wibawa tumbuh ketika negara mampu menjaga keamanan sekaligus membangun kepercayaan. Inilah salah satu prinsip penting dalam menciptakan tata kelola negara modern yang kuat, aman, dan dekat dengan masyarakat.