Coba perhatikan gambar bagan ini deh. Sekilas, ini terlihat seperti teori konspirasi soal bagaimana dunia ini bekerja. Ada Elit Global di puncak, ada Raksasa Investasi di sampingnya, terus turun ke Elit Nasional, sampai akhirnya menekan kita, Rakyat biasa.
Mungkin dulu kita berpikir, 'Ah, ini cuma hoax.' Tapi, setelah ribuan halaman dokumen Epstein Files (Éps-tain Fáil) dirilis baru-baru ini, rasanya kita perlu melihat gambar ini sekali lagi. Karena ternyata, dokumen itu seolah-olah menjadi 'kunci jawaban' yang memvalidasi setiap kotak di diagram ini. Yuk, kita bedah satu per satu, dan kalian nilai sendiri, apakah ini cuma kebetulan atau memang pola yang nyata?

"Pertama, lihat kotak paling atas: Elit Global. Di situ tertulis mereka punya agenda dan menjaga 'Stabilitas Sistem'.
Dulu kita bingung, siapa sih mereka? Nah, Epstein Files (Éps-tain Fáil) membukanya secara gamblang. Ternyata, orang-orang paling berkuasa di dunia mulai dari Pangeran Kerajaan Inggris, mantan Presiden Amerika Serikat, sampai miliarder teknologi mereka semua berada di lingkaran yang sama. Mereka saling kenal, saling berkunjung, dan punya rahasia bersama.
Di dokumen itu terungkap kalau Jeffrey Epstein (Jéf-ri Éps-tain) bukan cuma pelaku kejahatan biasa, tapi dia seperti pemegang 'kartu as'. Banyak teori bilang, dia merekam aib-aib tokoh dunia ini supaya mereka tetap patuh. Jadi, 'Stabilitas Sistem' yang dimaksud di gambar itu mungkin dijaga dengan cara saling sandera rahasia. Kalau ada yang macam-macam, aibnya dibongkar."
"Sekarang geser ke kotak hijau di kanan: Global InvestmentGiants(Gló-bal In-vést-men Jái-ants). Coba lihat nama bank yang tertulis di situ: J.P. Morgan(Jé-Pé Mór-gen).
Apakah ini kebetulan? Ternyata tidak. Fakta hukumnya, bank raksasa J.P. Morgan memang terbukti memfasilitasi aliran uang Jeffrey Epstein (Jéf-ri Éps-tain) selama bertahun-tahun, bahkan setelah dunia tahu dia bermasalah.
Bayangkan, bank sekelas itu sampai setuju membayar denda triliunan rupiah (sekitar 290 juta dolar) ke para korban untuk menyelesaikan gugatan. Ini membuktikan panah di diagram itu benar, dimana ada aliran dana besar dari raksasa investasi untuk melindungi 'hobi' gila para elit global ini. Uang menyeselesaikan segalanya."
"Lalu, apa hubungannya sama kita? Lihat kotak biru: Elit Nasional. Fungsinya sebagai 'Penerjemah Kebijakan' atau penjaga gerbang (gatekeeper) (Gét-kí-per).
Beberapa waktu lalu sempat heboh kalau kata kunci 'Indonesia' muncul ratusan kali (sekitar 902 kali) di dokumen Epstein. Memang, banyak yang bilang itu cuma data penerbangan atau nama hotel. Tapi kalau kita pakai kacamata teori di gambar ini, jadi masuk akal kenapa kita patut curiga.
Kalau ternyata ada elit-elit di negara kita yang juga terseret atau punya 'kartu as' yang dipegang oleh jaringan global ini, maka wajar kalau kebijakan di negeri ini kadang terasa aneh. Seolah-olah mereka lebih takut sama antek asing daripada sama rakyatnya sendiri. Mereka cuma jadi perantara agenda global."
"Terakhir, lihat posisi kita di bawah: Rakyat. Di situ tertulis 'terperangkap dalam sistem' dan 'kehilangan keadilan'.
Kasus Epstein adalah bukti nyata betapa tumpulnya hukum ke atas. Bayangkan, dia bisa bebas bertahun-tahun, punya kekebalan hukum, sementara korbannya gadis-gadis muda yang tidak punya kuasa dibiarkan hancur hidupnya.
Sistem hukum yang harusnya melindungi rakyat, malah dipakai untuk menutupi jejak para elit. Jadi, tulisan di gambar yang bilang rakyat 'hidup di negeri sendiri tapi terperangkap' itu terasa sangat relevan, kan?"
Kesimpulan
"Jadi, teman-teman, apakah bagan ini masih terlihat seperti khayalan? Atau jangan-jangan, Epstein Files (Éps-tain Fáil) adalah celah kecil yang Tuhan kasih supaya kita sadar kalau 'Penjajahan Modern' itu nyata? Strukturnya ada, dan korbannya adalah kita semua. Silakan sampaikan pandangan kalian di kolom komentar. Jika pembahasan ini relevan, dukung dengan like dan subscribe agar diskusi berbasis fakta seperti ini bisa terus berlanjut. Sampai jumpa di pembahasan berikutnya.