YOGYAKARTA — Perhelatan budaya “Serambi Peradaban: Nusantara-Persia” yang berlangsung di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta, pada Kamis (24/9/2026) menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam mengkaji pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan nilai-nilai Nusantara dengan berbagai pengalaman peradaban dunia yang ditemukan melalui perjalanan intelektual lintas negara. Melalui pendekatan riset dan pembelajaran empiris, Sekolah Negarawan berusaha melihat bagaimana gagasan kebangsaan dapat berdialog dengan berbagai tradisi pemikiran global.
Acara tersebut dihadiri oleh Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Dr. Yahya Jahangiri, bersama jajaran pengampu Sekolah Negarawan dan mitra strategis. Hadir pula Adil Amrullah (Cak Dil) selaku Senior Advisor Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra selaku Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan selaku Wakil Direktur Sekolah Negarawan, serta Erick Karya selaku CEO Enygma Solusi Negeri. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membahas hasil perjalanan panjang yang telah dilakukan Sekolah Negarawan dalam membaca hubungan antara budaya, kepemimpinan, dan peradaban.
Selama dua tahun terakhir, Sekolah Negarawan melakukan perjalanan riset dan napak tilas ke berbagai negara untuk memahami kembali bagaimana pemikiran Cak Nun memiliki relevansi dalam konteks global. Hingga September 2026, tercatat sebanyak 12 negara telah dikunjungi sebagai bagian dari upaya memetakan hubungan antara gagasan kebangsaan Nusantara dengan perkembangan peradaban dunia. Perjalanan tersebut mencakup berbagai kawasan dengan latar sejarah dan karakter sosial yang beragam. Delegasi Sekolah Negarawan menjelajahi negara-negara Eropa Barat, kawasan Nordik seperti Finlandia, Estonia sebagai bagian dari kawasan Baltik, Turkiye sebagai titik pertemuan berbagai peradaban, wilayah Timur Tengah, Iran sebagai pusat kebudayaan Persia, hingga negara-negara Asia Tenggara.
Rangkaian perjalanan tersebut tidak hanya menjadi observasi terhadap tempat dan budaya, tetapi juga menjadi proses pembelajaran mengenai bagaimana berbagai bangsa membangun identitas, tata kelola masyarakat, serta hubungan antara nilai lokal dan perubahan global. Dari setiap kunjungan, Sekolah Negarawan mencoba menemukan benang merah mengenai pentingnya kepemimpinan yang memiliki wawasan luas sekaligus tetap berakar pada nilai kebangsaan.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan menjelaskan bahwa perjalanan ke berbagai negara, termasuk kunjungan langsung ke Iran sebelum acara di Kadipiro, memberikan pengalaman nyata mengenai pentingnya dialog antarperadaban. Menurut mereka, pemikiran Cak Nun memiliki ruang dialog yang luas karena tidak hanya berbicara mengenai persoalan lokal, tetapi juga menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.
Hasil pengamatan selama ekspedisi menunjukkan bahwa gagasan kenegaraan Cak Nun dapat berinteraksi dengan berbagai tradisi pemikiran dunia. Mulai dari tradisi filsafat Barat, pendekatan kesejahteraan negara-negara Nordik, hingga kedalaman spiritualitas Persia, seluruhnya memberikan perspektif baru dalam memahami bagaimana sebuah bangsa membangun arah peradabannya. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman lintas negara tersebut menjadi bukti bahwa pemikiran kebangsaan Indonesia memiliki ruang untuk berdialog dengan dunia. Nilai-nilai lokal tidak harus berdiri sendiri, tetapi dapat berkembang melalui pertemuan dengan berbagai pengalaman bangsa lain.
Selain melakukan perjalanan internasional, Sekolah Negarawan juga aktif menyebarluaskan hasil kajian tersebut ke berbagai daerah di Indonesia. Sepanjang perjalanan dua tahun terakhir, gagasan mengenai pemikiran kenegaraan dan kebangsaan hasil penggalian dari pemikiran Cak Nun telah dibawa dalam berbagai forum diskusi bersama masyarakat dan akademisi. Diseminasi tersebut menjangkau berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Medan, Sumatera Utara, hingga kawasan timur Indonesia seperti Ternate dan Tidore, Maluku Utara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa pembelajaran global tetap memiliki keterhubungan dengan realitas masyarakat Indonesia. Melalui proses tersebut, Sekolah Negarawan melihat bahwa perjalanan intelektual tidak berhenti pada pengumpulan pengalaman di luar negeri. Pengetahuan yang diperoleh harus kembali kepada masyarakat untuk menjadi bahan refleksi dalam membangun masa depan bangsa.
Kehadiran Dr. Yahya Jahangiri dalam kegiatan “Serambi Peradaban: Nusantara-Persia” menjadi simbol pertemuan antara pengalaman global dan nilai lokal. Forum tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun melalui kerja sama formal, tetapi juga melalui pertukaran budaya, pemikiran, dan pengalaman manusia. Sekolah Negarawan memandang bahwa perjalanan dari berbagai wilayah Indonesia hingga berbagai negara dunia merupakan bagian dari proses memahami peradaban secara lebih utuh. Dari Nusantara hingga Persia, dari Eropa hingga Asia Tenggara, seluruh pengalaman tersebut dirangkai menjadi satu pemahaman bahwa masa depan bangsa membutuhkan keterbukaan wawasan dan kedalaman nilai. Melalui perjalanan panjang tersebut, Sekolah Negarawan membawa pesan bahwa membangun kepemimpinan masa depan tidak cukup hanya memahami ruang domestik. Seorang pemimpin juga perlu memahami dinamika dunia, menghargai keberagaman peradaban, serta mampu menjadikan nilai budaya sebagai kekuatan untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antarbangsa.