Berita

Sekolah Negarawan Menghidupkan Gagasan Cak Nun sebagai Jembatan Peradaban Nusantara dan Dunia
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Menghidupkan Gagasan Cak Nun sebagai Jembatan Peradaban Nusantara dan Dunia

YOGYAKARTA — Pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) kembali menjadi bahan refleksi dalam menjawab berbagai tantangan kemanusiaan global melalui kegiatan “Serambi Peradaban: Nusantara-Persia” yang digelar Sekolah Negarawan di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta, pada Kamis (24/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara nilai budaya Nusantara dan pengalaman peradaban Persia untuk membahas bagaimana kebudayaan dapat menjadi fondasi dalam membangun hubungan antarmanusia dan antarbangsa yang lebih bermakna.

Sebagai lembaga pendidikan dan riset yang menjadikan pemikiran kenegaraan Cak Nun sebagai salah satu landasan pembelajaran, Sekolah Negarawan menghadirkan Serambi Peradaban sebagai ruang dialog lintas budaya. Kegiatan tersebut tidak hanya membahas gagasan secara teoritis, tetapi juga menghadirkan perjumpaan langsung antara berbagai perspektif mengenai kebangsaan, kemanusiaan, dan tata kehidupan masyarakat. Pemilihan Rumah Maiyah Kadipiro sebagai lokasi kegiatan memiliki nilai historis karena tempat tersebut selama ini menjadi ruang berkembangnya berbagai diskursus kebudayaan dan kemasyarakatan.

Dalam kegiatan tersebut, Senior Advisor Sekolah Negarawan Adil Amrullah atau Cak Dil bersama Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra dan Wakil Direktur Rinto Setiyawan menyambut kehadiran Atase Kebudayaan Republik Islam Iran di Indonesia, Dr. Yahya Jahangiri. Turut hadir CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya yang memberikan perspektif mengenai hubungan antara nilai kebudayaan, inovasi, dan tata kelola modern. Pertemuan tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai bagaimana warisan pemikiran lokal dapat memiliki relevansi dalam menghadapi perubahan dunia.

Kebudayaan sebagai Fondasi Perdamaian

Melalui diskusi yang berpadu dengan penampilan musik KiaiKanjeng, Serambi Peradaban mengangkat gagasan bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun hubungan antarbangsa. Pemikiran Cak Nun melihat kebudayaan sebagai bagian mendasar dalam membentuk cara manusia memahami kehidupan, sementara berbagai sistem sosial dan tata kelola menjadi bagian yang berkembang setelahnya.

Dalam perspektif tersebut, hubungan antarnegara tidak cukup hanya dibangun melalui kepentingan ekonomi atau hubungan kelembagaan. Perdamaian yang berkelanjutan membutuhkan pemahaman yang lebih dalam terhadap nilai, identitas, dan martabat manusia. Melalui perjumpaan budaya, masyarakat dapat saling memahami latar belakang, pengalaman sejarah, serta nilai yang dimiliki oleh bangsa lain. Konsep inilah yang menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Serambi Peradaban. Sekolah Negarawan melihat bahwa dialog kebudayaan dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan yang lebih kuat karena tidak hanya berbicara mengenai kepentingan, tetapi juga mengenai penghormatan terhadap kemanusiaan.

Pertemuan Nilai Nusantara dan Persia

Pertemuan antara tradisi Nusantara dan Persia dalam forum tersebut menunjukkan adanya ruang dialog antara dua peradaban yang memiliki sejarah panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat. Kedua tradisi tersebut memiliki pengalaman dalam membangun kebudayaan yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan material, tetapi juga memperhatikan nilai dan makna kehidupan.

Dr. Yahya Jahangiri mengapresiasi langkah Sekolah Negarawan yang berupaya menggali kembali pemikiran tokoh bangsa seperti Cak Nun untuk dijadikan bagian dari dialog dengan dunia internasional. Upaya tersebut dinilai penting karena memperlihatkan bahwa gagasan yang tumbuh dari Indonesia dapat berinteraksi dengan berbagai peradaban lain, termasuk Persia.

Bagi Sekolah Negarawan, pertukaran gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman bahwa Indonesia memiliki kontribusi dalam percakapan global mengenai kebudayaan dan perdamaian. Nilai-nilai yang berkembang di Nusantara tidak hanya menjadi identitas lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk memberikan perspektif bagi dunia.

Riset Lintas Negara dan Diseminasi Nasional

Penyelenggaraan Serambi Peradaban merupakan bagian dari rangkaian perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam mengkaji pemikiran Cak Nun. Selama dua tahun terakhir, tim Sekolah Negarawan telah melakukan perjalanan riset dan napak tilas ke 12 negara untuk memahami bagaimana gagasan kebangsaan Indonesia dapat berdialog dengan berbagai pengalaman peradaban dunia.

Perjalanan tersebut mencakup berbagai kawasan, mulai dari Eropa Barat, Finlandia di kawasan Nordik, Estonia, Turkiye, Timur Tengah, Iran, hingga Asia Tenggara. Setiap wilayah memberikan pengalaman berbeda mengenai bagaimana masyarakat membangun identitas, menjaga nilai budaya, dan mengelola kehidupan bersama.

Selain melakukan pembelajaran internasional, Sekolah Negarawan juga melakukan penyebaran hasil kajian tersebut di berbagai wilayah Indonesia. Diskusi mengenai pemikiran kenegaraan dan kebangsaan telah dilakukan mulai dari Medan di wilayah barat Indonesia hingga Ternate dan Tidore di wilayah timur Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengalaman global dengan realitas masyarakat di dalam negeri.

Pada akhirnya, Serambi Peradaban: Nusantara-Persia menjadi ruang yang mempertemukan perjalanan intelektual, kebudayaan, dan pengalaman lintas bangsa. Melalui kegiatan tersebut, Sekolah Negarawan menegaskan bahwa nilai-nilai Nusantara memiliki ruang untuk berkontribusi dalam membangun pemahaman dunia yang lebih damai. Kebudayaan tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi energi untuk menghadapi tantangan masa depan.