Berita

Sekolah Negarawan Menggali Pesan Kemanusiaan dari Museum Multatuli Amsterdam
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Menggali Pesan Kemanusiaan dari Museum Multatuli Amsterdam

AMSTERDAM, BELANDA — Perjalanan intelektual Sekolah Negarawan di Eropa kembali membawa delegasi pada ruang refleksi sejarah yang sarat pesan kemanusiaan. Melalui kunjungan ke Museum Multatuli di Amsterdam, Belanda, delegasi mempelajari bagaimana sebuah karya sastra mampu menjadi kekuatan moral yang membangkitkan kesadaran publik dan mendorong perubahan sosial. Museum yang mengabadikan perjalanan hidup Eduard Douwes Dekker atau Multatuli tersebut menjadi salah satu tujuan penting dalam rangkaian riset Sekolah Negarawan. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memahami hubungan antara literasi, keberanian menyampaikan kritik, serta perjuangan menghadirkan keadilan bagi masyarakat yang mengalami ketidakadilan.

Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir dalam agenda tersebut terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Untuk memperkaya pemahaman historis selama kunjungan, rombongan didampingi oleh Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil. Di Museum Multatuli, delegasi menelusuri berbagai koleksi sejarah, termasuk edisi awal karya terkenal Max Havelaar serta arsip yang menggambarkan perjalanan penerbitan dan pengaruh buku tersebut terhadap masyarakat Eropa.

Karya yang oleh Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai "buku yang membunuh kolonialisme" tersebut merekam kritik terhadap praktik eksploitasi yang terjadi di wilayah Lebak, Banten. Melalui kisah dan narasi kemanusiaan, Multatuli berhasil membuka mata masyarakat Eropa mengenai kondisi rakyat yang mengalami tekanan akibat sistem kolonial dan praktik kekuasaan yang tidak adil. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kekuatan fisik atau struktur kekuasaan, tetapi juga dapat tumbuh melalui gagasan, tulisan, dan keberanian moral seseorang dalam menyuarakan kebenaran.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menyampaikan bahwa keberhasilan Multatuli membangun empati publik melalui karya sastra menjadi bukti bahwa kebudayaan memiliki kekuatan besar dalam memengaruhi perjalanan sebuah bangsa. Menurutnya, pendekatan kultural yang digunakan Multatuli memiliki keterkaitan dengan semangat yang selama ini dikembangkan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), yang pemikiran kenegaraan dan kebangsaannya menjadi salah satu fondasi utama Sekolah Negarawan.

Melalui budaya, seni, dan pemikiran, masyarakat dapat diajak memahami persoalan bangsa secara lebih mendalam. Perubahan tidak hanya membutuhkan sistem, tetapi juga kesadaran batin mengenai nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Dalam diskusi selama kunjungan, Syafiih Kamil menyoroti bagaimana masyarakat Belanda saat ini terus mempelajari sejarah Multatuli secara kritis. Museum tersebut tidak hanya menjadi tempat mengenang masa lalu, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memahami dampak kolonialisme dan pentingnya evaluasi terhadap perjalanan sejarah.

Menurut Syafiih, cara masyarakat Eropa melihat kembali masa lalu menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Kesadaran sejarah diperlukan agar bangsa dapat menghindari munculnya kembali praktik-praktik yang menjauhkan negara dari nilai pelayanan dan keadilan bagi masyarakat. Salah satu refleksi yang muncul adalah pentingnya memastikan birokrasi modern tidak terjebak dalam pola hubungan yang terlalu hierarkis dan jauh dari kepentingan rakyat.

Dari perspektif inovasi, CEO Enygma Erick Karya melihat bahwa tantangan tata kelola modern membutuhkan dukungan teknologi yang mampu memperkuat transparansi dan akuntabilitas. Menurutnya, reformasi tata kelola negara tidak hanya bergantung pada perubahan budaya kepemimpinan, tetapi juga membutuhkan sistem yang mampu membantu pengambilan keputusan secara tepat. Enygma yang diperkenalkan Sekolah Negarawan sebagai backbone pemerintahan berbasis Artificial Intelligence (AI) dirancang untuk mendukung pengelolaan kebijakan berbasis data. Dengan teknologi tersebut, proses pemerintahan diharapkan mampu berjalan lebih efektif, objektif, dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Kunjungan ke Museum Multatuli Amsterdam menjadi salah satu bagian dari ekspedisi internasional Sekolah Negarawan yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Dalam perjalanan tersebut, Sekolah Negarawan telah mengunjungi 12 negara untuk mempelajari berbagai aspek sejarah, budaya, pendidikan, teknologi, dan tata kelola. Rangkaian perjalanan tersebut mencakup kawasan Eropa Barat, Finlandia di wilayah Nordik, Estonia sebagai negara eks-Uni Soviet, Turkiye, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara.

Berbagai temuan dari perjalanan tersebut terus dikembangkan dan disebarluaskan melalui kegiatan Sekolah Negarawan di Indonesia. Gagasan mengenai kepemimpinan, kebangsaan, dan tata kelola negara dibawa kembali ke masyarakat luas, mulai dari Medan di wilayah barat hingga Ternate dan Tidore di kawasan timur Nusantara. Melalui kunjungan ke Museum Multatuli, Sekolah Negarawan kembali menegaskan bahwa memahami sejarah adalah langkah penting dalam membangun masa depan. Karya sastra yang lahir dari keberanian moral menjadi pengingat bahwa setiap bangsa membutuhkan pemimpin yang mampu melihat manusia sebagai pusat utama dari seluruh perjalanan peradaban.