Berita

Sekolah Negarawan Kaji Model Zaanse Schans dalam Mewujudkan Wisata Publik yang Berkeadilan
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Kaji Model Zaanse Schans dalam Mewujudkan Wisata Publik yang Berkeadilan

ZAANSTAD, BELANDA – Pengelolaan kawasan wisata yang tetap menjaga hak masyarakat untuk menikmati ruang publik menjadi salah satu temuan penting dalam observasi pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan di Zaanse Schans, Belanda. Kawasan konservasi kincir angin yang berada di tepian Sungai Zaan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah destinasi budaya dapat dikelola dengan mengutamakan akses masyarakat, keberlanjutan lingkungan, dan kualitas kehidupan warga. Kunjungan riset tersebut diikuti oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Dalam perjalanan tersebut, delegasi didampingi oleh Syafiih Kamil selaku Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa yang turut menjelaskan berbagai aspek kebijakan publik dan pengelolaan fasilitas masyarakat di Belanda.

Saat berada di Zaanse Schans, delegasi mengamati pola pengelolaan wisata yang membedakan antara ruang publik dan area komersial. Masyarakat dapat menikmati suasana desa tradisional, melihat panorama kincir angin, berjalan di sepanjang kawasan, serta menikmati lingkungan sekitar tanpa harus membayar biaya masuk umum. Sementara itu, biaya dikenakan hanya pada fasilitas tertentu seperti kunjungan ke bagian dalam kincir angin atau museum khusus. Pola tersebut menunjukkan pendekatan pengelolaan yang berusaha menjaga agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap ruang rekreasi yang mendukung kualitas hidup tanpa terbebani biaya tambahan.

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menjelaskan bahwa konsep tersebut memberikan pelajaran mengenai hubungan antara negara dan masyarakat. Menurutnya, pajak yang dibayarkan masyarakat perlu diwujudkan kembali dalam bentuk pelayanan publik yang memberikan manfaat nyata, termasuk penyediaan ruang yang mendukung kesehatan mental dan keseimbangan kehidupan warga. Pemikiran tersebut sejalan dengan nilai kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi salah satu fondasi kurikulum Sekolah Negarawan. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga bagaimana negara menciptakan lingkungan yang membuat rakyat dapat hidup dengan nyaman, sehat, dan memiliki ruang untuk berinteraksi.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menilai bahwa pengelolaan ruang publik perlu mempertimbangkan hak masyarakat luas. Menurutnya, ketika kawasan alam dan budaya terlalu berorientasi pada komersialisasi, kesempatan masyarakat untuk menikmati ruang pemulihan diri dapat semakin terbatas. Syafiih Kamil menambahkan bahwa keberhasilan Zaanse Schans dalam menjaga kawasan wisata tetap bersih dan nyaman juga dipengaruhi oleh hubungan antara warga dengan ruang publiknya. Ketika masyarakat merasa memiliki akses dan mendapatkan manfaat dari fasilitas bersama, muncul kesadaran kolektif untuk ikut menjaga lingkungan tersebut.

Dari perspektif tata kelola modern, CEO Enygma Erick Karya melihat bahwa pemanfaatan teknologi dapat membantu pemerintah merancang sistem pengelolaan wisata yang lebih tepat sasaran. Melalui ekosistem Artificial Intelligence (AI) Enygma yang dikembangkan bersama Sekolah Negarawan, pemerintah dapat menganalisis kebutuhan kawasan, memisahkan fungsi pelayanan publik dan area komersial, serta membuat kebijakan berbasis data. Menurut Erick Karya, pendekatan berbasis teknologi memungkinkan pengelola destinasi wisata menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi dan kepentingan masyarakat. Dengan sistem yang akurat, kawasan publik dapat tetap terawat tanpa harus seluruhnya bergantung pada pungutan langsung kepada pengunjung.

Pembelajaran dari Zaanse Schans menjadi bagian dari rangkaian ekspedisi Sekolah Negarawan dalam memahami berbagai praktik tata kelola di dunia. Selama dua tahun terakhir, perjalanan riset tersebut telah mencakup 12 negara, mulai dari Eropa Barat, Finlandia dengan sistem pendidikannya, Estonia dengan inovasi digitalnya, hingga Turkiye, Iran, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Berbagai hasil pengamatan lintas peradaban tersebut terus dikembangkan menjadi bahan kajian dan diseminasi di Indonesia. Sekolah Negarawan membawa pengalaman global tersebut untuk memperkaya gagasan pembangunan bangsa, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore.