GRONINGEN, BELANDA – Konferensi Internasional PCINU Belanda yang berlangsung di Rijksuniversiteit Groningen menjadi ruang pertemuan gagasan mengenai masa depan tata kelola pemerintahan Indonesia. Universitas yang merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi tertua di wilayah utara Belanda tersebut menjadi tempat berkumpulnya para pemikir dan akademisi Islam Nusantara di Eropa. Dalam forum tersebut, Ekosistem Sekolah Negarawan turut menghadirkan gagasan mengenai pemanfaatan teknologi dalam membangun tata kelola pemerintahan masa depan. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pemikiran kenegaraan dengan perkembangan teknologi digital. Pembahasan juga menunjukkan bagaimana inovasi dapat dikembangkan tanpa melepaskan nilai kebangsaan dan akar spiritual masyarakat Indonesia.
Delegasi Ekosistem Sekolah Negarawan yang hadir dalam konferensi tersebut terdiri dari Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Rombongan turut didampingi oleh Syafiih Kamil selaku Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa. Kehadiran Syafiih Kamil turut memperkuat hubungan antara Sekolah Negarawan dengan komunitas diaspora serta kalangan akademisi Indonesia di Belanda. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi delegasi untuk memperkenalkan berbagai hasil kajian dan pengembangan yang telah dilakukan. Forum konferensi juga menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai kebutuhan tata kelola Indonesia di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Salah satu agenda utama dalam konferensi tersebut adalah pemaparan Erick Karya mengenai sistem pemerintahan berbasis Artificial Intelligence atau AI. Sebagai CEO Enygma Solusi Negeri, Erick menjelaskan teknologi IOP yang dikembangkan untuk mendukung proses tata kelola pemerintahan. Sistem tersebut disebut memiliki kemampuan untuk membaca demografi, memproyeksikan kebutuhan ekonomi daerah, serta mendeteksi anomali dalam birokrasi. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari gagasan tata kelola yang dikembangkan bersama Ekosistem Sekolah Negarawan. Pemaparan tersebut mendapat perhatian dari peserta karena memperlihatkan kemungkinan pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses pengambilan keputusan berbasis data.
Erick Karya menjelaskan bahwa kolaborasi antara Enygma dan Sekolah Negarawan diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan perangkat lunak. Menurutnya, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun infrastruktur digital yang dapat mendukung kedaulatan tata kelola Indonesia. Perkembangan teknologi membuat kemampuan sebuah negara dalam mengelola data dan sistem digital menjadi semakin penting. Karena itu, keberadaan backbone AI yang dikembangkan untuk kebutuhan pemerintahan dinilai dapat menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat ketahanan digital. Penguasaan teknologi tata kelola tersebut juga dipandang sebagai bagian dari kesiapan negara menghadapi berbagai tantangan pada era digital.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra memberikan perspektif nilai terhadap pemanfaatan teknologi dalam pemerintahan. Menurut Prayogi, kecanggihan sistem AI harus tetap disertai dengan adab, akhlak, dan orientasi terhadap kepentingan masyarakat. Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi salah satu pilar kurikulum Sekolah Negarawan. Teknologi tidak cukup hanya menghasilkan keputusan yang cepat dan akurat, tetapi juga perlu diarahkan untuk memperhatikan kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi lemah. Karena itu, pengembangan algoritma tata kelola harus tetap menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai salah satu pertimbangan utama.
Rinto Setiyawan dan Syafiih Kamil turut mencatat antusiasme peserta konferensi terhadap pemaparan mengenai Ekosistem Sekolah Negarawan dan teknologi pemerintahan berbasis AI. Antusiasme tersebut menunjukkan adanya ruang dialog yang luas antara tradisi intelektual Islam Nusantara dengan perkembangan teknologi pemerintahan modern. Bagi peserta dari lingkungan PCINU Belanda, gagasan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan tata kelola masa depan. Pengembangan tersebut juga tidak harus memutus hubungan dengan tradisi, nilai kebangsaan, dan spiritualitas yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia. Pertemuan di Groningen menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan dua dimensi tersebut dalam diskusi akademik.
Gagasan mengenai tata kelola berbasis AI yang diperkenalkan di Universitas Groningen merupakan bagian dari perjalanan riset panjang Sekolah Negarawan. Berbagai pengalaman dari sejumlah negara menjadi bahan pembelajaran dalam memahami hubungan antara teknologi, pendidikan, masyarakat, dan tata kelola. Kajian tersebut mencakup pengamatan terhadap perkembangan teknologi informasi di Estonia, sistem sosial dan pendidikan di Finlandia, serta tradisi intelektual dan kebudayaan di Persia dan kawasan Timur Tengah. Berbagai pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi materi edukasi dan pembelajaran mengenai peradaban serta kepemimpinan. Hasil perjalanan dan kajian tersebut terus didiseminasikan di Indonesia, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore.