Berita

Sekolah Negarawan dan Watch Indonesia! Bertukar Gagasan Tata Kelola Berbasis Transparansi di Berlin
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan dan Watch Indonesia! Bertukar Gagasan Tata Kelola Berbasis Transparansi di Berlin

BERLIN, JERMAN – Komitmen terhadap perbaikan tata kelola bangsa dapat terus dibangun meskipun berada jauh dari tanah air. Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) antara pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan dengan Watch Indonesia! yang berlangsung di Kompleks Patrice Lumumba, Berlin, Jerman. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog mengenai tantangan pengelolaan negara, pentingnya pengawasan masyarakat, serta peran diaspora dalam memberikan perspektif terhadap perkembangan Indonesia. Diskusi berlangsung dengan suasana terbuka yang mempertemukan pengalaman aktivisme, kajian kenegaraan, dan inovasi teknologi. Forum tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian ekspedisi riset Sekolah Negarawan dalam memahami berbagai model tata kelola di berbagai negara.

Delegasi Ekosistem Sekolah Negarawan yang hadir dalam kegiatan tersebut terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Kehadiran mereka disambut oleh sejumlah tokoh Watch Indonesia! serta perwakilan diaspora Indonesia yang berada di Jerman. Beberapa tokoh yang turut hadir dalam diskusi tersebut antara lain pengamat sistem pemilu Pipit R. Kartawidjaja, aktivis Jantie Jie, serta berbagai elemen masyarakat Indonesia yang memiliki perhatian terhadap perkembangan bangsa. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman mengenai peran masyarakat dalam menjaga kualitas tata kelola. Diskusi juga membahas bagaimana kontribusi warga Indonesia di luar negeri dapat tetap memberikan manfaat bagi perkembangan tanah air.

Dalam forum tersebut, Watch Indonesia! berbagi pengalaman mengenai perjalanan panjang organisasi tersebut dalam melakukan kajian dan advokasi terkait berbagai isu masyarakat Indonesia. Para peserta diskusi membahas bagaimana lembaga masyarakat dapat berperan dalam menyampaikan masukan melalui pendekatan yang rasional dan konstruktif. Jantie Jie bersama para peserta lainnya menyampaikan bahwa kepedulian terhadap Indonesia dapat diwujudkan melalui kontribusi pemikiran dan perhatian terhadap berbagai persoalan bangsa. Peran masyarakat sipil dan diaspora dinilai memiliki nilai penting dalam memperluas ruang dialog dan pertukaran gagasan. Diskusi tersebut menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat hadir melalui berbagai bentuk kontribusi di berbagai belahan dunia.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi para diaspora Indonesia yang terus menjaga kepedulian terhadap perkembangan bangsa. Menurutnya, keberadaan komunitas seperti Watch Indonesia! memberikan perspektif tambahan melalui pengalaman mereka berada di lingkungan internasional. Pandangan dari luar negeri dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami berbagai persoalan secara lebih luas dan objektif. Pertemuan tersebut juga memperlihatkan bahwa jarak geografis tidak menghilangkan hubungan emosional dan tanggung jawab masyarakat terhadap Indonesia. Kerja sama lintas negara menjadi salah satu cara untuk memperkaya pemahaman mengenai tata kelola yang lebih baik.

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menjelaskan bahwa sistem pengelolaan negara membutuhkan nilai pengawasan dan tanggung jawab agar amanah dapat dijalankan dengan baik. Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi salah satu dasar kurikulum Sekolah Negarawan. Menurut Prayogi, pertemuan dengan Pipit R. Kartawidjaja yang memiliki kedekatan pemikiran dengan Cak Nun menjadi ruang silaturahmi intelektual yang memperkuat semangat membangun bangsa. Diskusi tersebut menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan dan martabat masyarakat melalui proses pengelolaan negara yang bertanggung jawab. Nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi benang merah dalam pertemuan tersebut.

Dari sisi teknologi, CEO Enygma Erick Karya memperkenalkan pendekatan tata kelola berbasis Artificial Intelligence yang dikembangkan bersama Sekolah Negarawan. Menurut Erick, teknologi dapat membantu menghadirkan sistem pengelolaan data yang lebih terbuka, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui pemanfaatan AI, berbagai lembaga pengawasan masyarakat dapat memiliki akses terhadap informasi yang lebih akurat sebagai dasar melakukan kajian. Sistem data yang baik dinilai mampu mendukung terciptanya pengambilan keputusan yang lebih terukur. Inovasi teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola masa depan yang berbasis informasi dan pengetahuan.

Pertemuan antara Sekolah Negarawan dan Watch Indonesia! di Berlin menjadi bagian dari perjalanan panjang riset internasional Sekolah Negarawan di 12 negara. Berbagai pengalaman yang diperoleh dari Finlandia terkait sistem sosial, Estonia mengenai perkembangan teknologi digital, serta kawasan Persia, Timur Tengah, dan Eropa menjadi sumber pembelajaran dalam memahami peradaban global.

Seluruh hasil pengamatan tersebut terus dikembangkan menjadi materi literasi dan edukasi bagi masyarakat Indonesia. Sekolah Negarawan berupaya membawa berbagai pengalaman internasional tersebut untuk memperkaya gagasan mengenai kepemimpinan dan tata kelola. Diseminasi pemikiran tersebut terus dilakukan dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore.