CAPELLE AAN DEN IJSSEL, BELANDA – Pertemuan informal dapat menjadi ruang untuk membangun dialog yang lebih terbuka mengenai masa depan Indonesia. Suasana tersebut terlihat dalam pertemuan delegasi Sekolah Negarawan bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia di Belanda (ASPINA) di Koerillen, Capelle aan den IJssel. Dalam suasana barbeque yang berlangsung santai, para peserta berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan globalisasi, kepemimpinan, tata kelola, serta hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua ASPINA, Wakil Ketua ASPINA, dan sejumlah anggota yang selama ini terlibat dalam aktivitas bisnis dan perdagangan Indonesia di Belanda. Dari Sekolah Negarawan hadir Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya yang turut membawa hasil pengamatan dari perjalanan riset di sejumlah negara Eropa.
Suasana pertemuan menjadi semakin bermakna dengan kehadiran Prof. Ruard Ganzevoort, Rektor International Institute of Social Studies (ISS) Den Haag, Universitas Rotterdam. Kehadirannya mempertemukan unsur pengusaha diaspora, lembaga pendidikan, dan Sekolah Negarawan dalam satu ruang dialog yang berlangsung tanpa sekat formal.
Prayogi R. Saputra menjelaskan bahwa format pertemuan yang santai justru membuka kesempatan untuk membangun percakapan yang lebih dekat dan substantif. Menurutnya, dialog semacam ini sejalan dengan tradisi Sekolah Negarawan yang menempatkan pengalaman langsung dan pertukaran gagasan sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.
Dalam pertemuan tersebut, para pengusaha Indonesia di Belanda dapat menyampaikan pengalaman mereka mengenai iklim investasi, aktivitas usaha, dan birokrasi dari perspektif diaspora. Sementara itu, Prof. Ruard Ganzevoort memberikan perspektif dari bidang ilmu sosial serta kebijakan pembangunan internasional.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman praktis dengan perspektif akademik. Berbagai sudut pandang kemudian dibicarakan dalam suasana yang akrab sehingga pembahasan mengenai Indonesia dapat dilakukan secara lebih terbuka.

Selain membahas gagasan mengenai kepemimpinan dan tata kelola, Sekolah Negarawan juga memperkenalkan Enygma sebagai bagian dari ekosistem teknologi yang dikembangkan dalam kajiannya. Teknologi tersebut dinakhodai oleh CEO Enygma Erick Karya.
Dalam kerangka yang dikembangkan Sekolah Negarawan, Enygma diposisikan sebagai backbone tata kelola pemerintahan berbasis Artificial Intelligence atau AI. Sistem tersebut diarahkan untuk membantu pengambil kebijakan mengolah dan membaca data secara akurat sehingga kebutuhan masyarakat dapat diidentifikasi dan direspons secara lebih cepat.
Pengenalan Enygma mendapatkan perhatian dari pengurus dan anggota ASPINA. Mereka mengapresiasi pendekatan Sekolah Negarawan yang tidak hanya membicarakan gagasan mengenai kenegaraan, tetapi juga memperkenalkan pendekatan teknologi sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola yang berbasis data.
Bagi para pengusaha Indonesia yang berada di Belanda, kepastian tata kelola menjadi salah satu unsur penting dalam membangun hubungan ekonomi. Sistem pemerintahan yang cerdas, bersih, dan memiliki basis data yang kuat dinilai dapat mendukung terbentuknya ruang kolaborasi antara masyarakat Indonesia di Eropa dan berbagai daerah di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan turut membagikan pengalaman perjalanan tim selama melakukan pengamatan di berbagai kawasan Eropa. Rangkaian perjalanan tersebut mencakup Perancis, Belgia, Belanda, dan Jerman sebagai bagian dari penelusuran pengalaman tata kelola dan kehidupan masyarakat di Eropa Barat.
Pengamatan kemudian diperluas ke kawasan Nordik melalui kunjungan ke Finlandia. Negara tersebut menjadi salah satu objek pembelajaran karena dikenal memiliki capaian tinggi dalam kebahagiaan masyarakat dan sistem pendidikan.
Delegasi juga melakukan observasi di Estonia, negara yang memiliki sejarah sebagai bagian dari Uni Soviet. Perhatian diarahkan pada perkembangan sistem pemerintahan digital dan pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan publik.
Berbagai pengalaman tersebut kemudian dibawa kembali ke dalam ruang dialog bersama masyarakat Indonesia di Belanda. Dengan demikian, perjalanan riset tidak berhenti pada kunjungan lapangan, tetapi diteruskan melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas diaspora.
Pertemuan di Koerillen, Capelle aan den IJssel, mempertemukan Sekolah Negarawan, ASPINA, dan pimpinan ISS Den Haag Universitas Rotterdam dalam suasana yang akrab. Kehadiran berbagai unsur tersebut membuka ruang komunikasi mengenai pendidikan, tata kelola, teknologi, dunia usaha, dan hubungan Indonesia dengan masyarakat internasional.
Kehangatan jamuan barbeque menjadi bagian dari suasana dialog yang memungkinkan setiap pihak berbagi pengalaman tanpa batasan formal. Percakapan yang berlangsung juga memperlihatkan bahwa diaspora Indonesia memiliki ruang penting dalam membangun hubungan pengetahuan dan ekonomi antara Indonesia dan Eropa.
Bagi Sekolah Negarawan, pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran selama perjalanan lintas negara. Sementara bagi ASPINA dan mitra internasional, forum tersebut menjadi kesempatan untuk terus menjaga komunikasi serta bertukar gagasan mengenai berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia di tengah perubahan global.
Dari halaman belakang di Koerillen, sebuah pesan tentang pentingnya silaturahmi dan pertukaran pengetahuan kembali mengemuka. Dialog yang dibangun melalui perjumpaan sederhana dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan pengalaman diaspora, dunia usaha, akademisi, dan gagasan mengenai masa depan Indonesia.