BERLIN, JERMAN – Koridor Unter den Linden di pusat Kota Berlin menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan dalam memahami hubungan antara sejarah, pendidikan, dan tata kelola negara modern. Kawasan yang membentang dari Humboldt University hingga Brandenburg Gate ini menyimpan berbagai lapisan perjalanan peradaban Eropa, mulai dari perkembangan ilmu pengetahuan, konflik kemanusiaan, masa Perang Dingin, hingga lahirnya sistem pemerintahan yang lebih terbuka. Melalui observasi langsung di kawasan bersejarah tersebut, delegasi Sekolah Negarawan melihat bagaimana sebuah bangsa mampu mengolah pengalaman masa lalu menjadi fondasi untuk membangun masa depan. Perjalanan ini menjadi bagian dari agenda riset internasional Sekolah Negarawan dalam mempelajari berbagai model tata kelola di berbagai negara. Dari jalur sejarah tersebut, delegasi menemukan bahwa keterbukaan informasi, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, dan keberanian mengevaluasi masa lalu menjadi unsur penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Eksplorasi di Berlin ini diikuti oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Ketiganya menelusuri berbagai titik penting yang berada di sepanjang Unter den Linden dengan melihat keterkaitan antara pusat pendidikan, ruang refleksi sejarah, serta institusi negara. Kawasan tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah kota dapat menyatukan kampus, museum, monumen, dan pusat pemerintahan dalam satu ekosistem pembelajaran publik. Perjalanan dimulai dari Humboldt University yang dikenal dengan tradisi pendidikan tinggi berbasis kebebasan akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dari lingkungan kampus tersebut, delegasi kemudian melanjutkan perjalanan menuju berbagai lokasi bersejarah yang merekam perjalanan panjang bangsa Jerman.
Di kawasan Humboldt University dan Bebelplatz, delegasi Sekolah Negarawan mengamati bagaimana masyarakat Jerman merawat ingatan sejarah melalui ruang publik. Bebelplatz menjadi salah satu lokasi penting yang mengingatkan dunia mengenai bahaya ketika kebebasan berpikir dan akses terhadap ilmu pengetahuan dibatasi. Setelah itu, rombongan melanjutkan pengamatan menuju Museum Perang Dingin yang menyimpan berbagai catatan mengenai ketegangan global pada abad ke-20. Museum tersebut menggambarkan bagaimana Berlin pernah menjadi titik penting dalam persaingan dua kekuatan besar dunia dan bagaimana masyarakat menjadi pihak yang merasakan dampak dari konflik tersebut. Bagi Sekolah Negarawan, jejak sejarah tersebut menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya menjaga kebijaksanaan dalam mengelola negara.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra menjelaskan bahwa perjalanan di Unter den Linden memberikan pelajaran mengenai pentingnya membangun karakter kepemimpinan yang memiliki kesadaran sejarah. Berlandaskan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi bagian dari kurikulum Sekolah Negarawan, Prayogi menilai bahwa sebuah bangsa harus memiliki kemandirian berpikir agar tidak mudah kehilangan arah dalam menghadapi perubahan dunia. Menurutnya, pengalaman masa lalu harus menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah negara. Sejarah bukan hanya catatan masa lampau, tetapi juga menjadi cermin untuk memperbaiki tata kelola masa kini. Dengan memahami perjalanan bangsa lain, Indonesia dapat mengambil nilai positif yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakatnya.
Perjalanan delegasi kemudian berlanjut menuju Brandenburg Gate, kawasan ikonik yang dahulu menjadi simbol keterpisahan Berlin dan kini berubah menjadi ruang publik yang terbuka bagi masyarakat dunia. Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat Gedung Parlemen Jerman atau Reichstag serta berbagai monumen yang merekam peristiwa penting dalam sejarah kemanusiaan. Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menilai bahwa keberanian Jerman dalam menghadapi masa lalunya menjadi salah satu contoh penting dalam membangun kedewasaan sebuah negara. Menurutnya, pengakuan terhadap sejarah dan penyediaan ruang publik untuk belajar menjadi fondasi bagi terciptanya masyarakat yang lebih sadar. Transparansi sejarah tersebut menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya dibangun melalui ekonomi dan teknologi, tetapi juga melalui keberanian melakukan evaluasi diri.
Dalam perspektif tata kelola masa depan, CEO Enygma Erick Karya melihat adanya hubungan erat antara ruang pendidikan, institusi negara, dan pemanfaatan teknologi. Menurut Erick, perkembangan teknologi kecerdasan buatan dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan negara. Melalui sistem Artificial Intelligence atau AI yang dikembangkan Enygma bersama Sekolah Negarawan, pengambilan keputusan publik dapat didukung oleh data yang lebih akurat dan terukur. Teknologi tersebut diharapkan mampu membantu negara memahami kebutuhan masyarakat secara lebih tepat sekaligus mengurangi kesenjangan informasi antara lembaga pemerintahan dan warga. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat modernisasi, tetapi juga sarana untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
Observasi dari Humboldt University hingga Brandenburg Gate menjadi bagian dari perjalanan riset global Sekolah Negarawan yang telah menjangkau 12 negara selama dua tahun terakhir. Ekspedisi tersebut mencakup berbagai kawasan seperti Eropa Barat, Finlandia dengan sistem sosialnya, Estonia dengan inovasi digitalnya, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara. Berbagai pengalaman yang diperoleh dari perjalanan internasional tersebut terus dikaji dan dikembangkan menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat Indonesia. Sekolah Negarawan berkomitmen membawa berbagai inspirasi tata kelola global untuk memperkuat kesadaran kebangsaan di dalam negeri. Diseminasi gagasan tersebut terus dilakukan dari berbagai wilayah mulai dari Medan hingga Ternate dan Tidore.