ISFAHAN, IRAN — Perjalanan Sekolah Negarawan di Isfahan memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan, tetapi juga dengan nilai nilai yang dapat dipelajari dari tradisi keislaman Persia. Setelah mengunjungi Institut Nahj al-Balaghah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Imam Ali yang berada tidak jauh dari kawasan tersebut. Perjalanan antara dua tempat ini memberikan ruang bagi peserta untuk melihat hubungan antara pengetahuan, kehidupan spiritual, dan pembentukan karakter seorang pemimpin.
Institut Nahj al-Balaghah menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal berbagai pemikiran yang bersumber dari kumpulan khotbah, surat, dan hikmah yang dinisbatkan kepada Imam Ali. Dalam tradisi kajian tersebut, Nahj al-Balaghah tidak hanya dipelajari sebagai karya keagamaan, tetapi juga sebagai sumber pemikiran mengenai kehidupan manusia, masyarakat, keadilan, pemerintahan, etika, serta hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Hal tersebut membuat kunjungan ke institut menjadi bagian penting dalam perjalanan pembelajaran Sekolah Negarawan.
Setelah mendapatkan berbagai penjelasan di institut, rombongan kemudian mengunjungi Masjid Imam Ali. Perjalanan tersebut memberikan pengalaman berbeda karena peserta dapat melihat secara langsung salah satu ruang keagamaan yang memiliki nilai sejarah dan spiritual. Masjid menjadi tempat yang mengajak seseorang untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan melihat kembali hubungan antara kehidupan pribadi dengan tanggung jawab kepada masyarakat.
Bagi peserta Sekolah Negarawan, perpindahan dari ruang kajian menuju ruang ibadah memberikan pengalaman pembelajaran yang menarik. Pengetahuan dapat membantu seseorang memahami berbagai persoalan, sementara kehidupan spiritual dapat menjadi ruang untuk membangun ketenangan dan pengendalian diri. Keduanya dapat saling melengkapi dalam proses membentuk pribadi yang memiliki wawasan sekaligus karakter.
Kunjungan tersebut juga membuka pembahasan mengenai makna kepemimpinan dalam tradisi pemikiran Islam. Kemampuan memimpin tidak hanya berkaitan dengan kecakapan menyampaikan gagasan atau menyusun strategi. Seorang pemimpin juga membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan diri, menjaga integritas, serta memahami tanggung jawab yang melekat pada amanah yang diberikan kepadanya.
Dalam konteks tersebut, pemikiran yang dikaitkan dengan Imam Ali memperlihatkan pentingnya hubungan antara kehidupan personal dan tanggung jawab sosial. Kesalehan pribadi tidak berdiri sendiri karena memiliki kaitan dengan cara seseorang memperlakukan masyarakat. Sebaliknya, kemampuan menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat juga membutuhkan fondasi moral agar kekuasaan dan kewenangan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi.
Pengalaman di Isfahan menjadi kesempatan bagi peserta untuk kembali memikirkan karakter seperti apa yang diperlukan dalam membangun kepemimpinan. Perubahan dunia yang berlangsung cepat membuat seorang pemimpin tidak cukup hanya menguasai pengetahuan teknis dan kemampuan mengelola berbagai persoalan. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta arus informasi yang semakin luas justru membuat kebutuhan terhadap karakter dan integritas menjadi semakin penting.
Karena itu, pendidikan kepemimpinan perlu memberikan ruang bagi pengembangan pengetahuan sekaligus pembentukan karakter. Peserta Sekolah Negarawan dapat melihat bahwa wawasan yang luas perlu berjalan bersama kemampuan untuk mengendalikan diri dan menjaga nilai moral. Keseimbangan tersebut menjadi salah satu pelajaran yang dapat diperoleh melalui perjalanan ke berbagai pusat sejarah dan kebudayaan Islam.
Kunjungan ke Institut Nahj al-Balaghah dan Masjid Imam Ali pada akhirnya menjadi bagian dari pengalaman belajar Sekolah Negarawan di Isfahan. Peserta tidak hanya mengenal tempat dan sejarah, tetapi juga diajak melihat bagaimana pengetahuan dan spiritualitas dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa gagasan mengenai kepemimpinan dapat dipelajari melalui teks, ruang sejarah, serta pengalaman langsung di tengah lingkungan masyarakat.
Dari perjalanan tersebut muncul sebuah pemahaman bahwa kepemimpinan yang baik membutuhkan pengetahuan yang luas sekaligus landasan moral yang kuat. Kemampuan berpikir membantu seorang pemimpin memahami persoalan, sementara karakter membantunya menggunakan pengetahuan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Nilai inilah yang membuat kunjungan ke Isfahan menjadi pengalaman penting dalam perjalanan pembelajaran Sekolah Negarawan.