Berita

Membaca Goro-Goro Cak Nun Sebagai Pesan Kesiapan Menghadapi Perubahan Bangsa
Berita Terbaru

Membaca Goro-Goro Cak Nun Sebagai Pesan Kesiapan Menghadapi Perubahan Bangsa

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

Istilah goro-goro yang pernah disampaikan Cak Nun dalam berbagai kesempatan kembali menarik perhatian ketika bangsa Indonesia menghadapi sejumlah perubahan dan peristiwa besar. Dalam kebudayaan Jawa, goro-goro tidak hanya dimaknai sebagai kekacauan, tetapi juga sebagai fase ketika sebuah tatanan mengalami keguncangan sebelum menuju keadaan yang baru. Karena itu, istilah tersebut dapat menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana manusia mempersiapkan diri menghadapi perubahan.

Salah satu pesan Cak Nun yang kembali dibaca adalah pernyataannya pada 27 September 2013 dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di halaman Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut, Cak Nun menyampaikan gagasan mengenai kemungkinan lima gunung mengalami erupsi secara bersamaan atau dalam waktu yang berdekatan. Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan tanggung jawab Yogyakarta untuk membangun masa depan setelah sebuah perubahan besar terjadi.

Tiga belas tahun setelah pernyataan tersebut disampaikan, Indonesia mengalami fenomena enam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung tercatat mengalami aktivitas erupsi pada hari yang sama. Peristiwa tersebut membuat sebagian masyarakat kembali mengingat pesan Cak Nun mengenai lima gunung yang pernah disampaikan sebelumnya.

Namun, fenomena tersebut tidak perlu dipahami sebagai pembuktian sebuah ramalan. Setiap aktivitas gunung api tetap harus dijelaskan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kajian para ahli. Perkembangan aktivitas vulkanik memiliki mekanisme ilmiah yang dapat dipahami melalui pengamatan kegempaan, perubahan bentuk gunung, kandungan gas, serta berbagai instrumen pemantauan lainnya.

Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya apakah ucapan Cak Nun memiliki hubungan langsung dengan kejadian tersebut. Hal yang lebih mendalam adalah bagaimana manusia membaca sebuah peristiwa dan mengambil pelajaran dari pesan yang terkandung di dalamnya. Sebuah kejadian dapat menjadi ruang refleksi mengenai kesiapan manusia menghadapi perubahan yang mungkin terjadi dalam kehidupan bangsa.

Jika melihat keseluruhan pesan Cak Nun, inti pembicaraannya bukan berada pada angka lima atau jumlah gunung yang mengalami erupsi. Pesan utamanya justru terletak pada gagasan tentang siapa manusia yang akan membangun masa depan setelah sebuah perubahan besar terjadi. Cak Nun berbicara mengenai pentingnya mempersiapkan manusia yang mampu memperbaiki keadaan dan menjaga keberlangsungan kehidupan.

Goro-goro dalam perspektif yang lebih luas tidak selalu hadir dalam bentuk bencana alam. Sebuah bangsa dapat mengalami keguncangan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, teknologi, budaya, maupun perubahan nilai masyarakat. Ketika sebuah tatanan lama mengalami perubahan, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menghadapi masalah, tetapi siapa yang memiliki kemampuan untuk membawa masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.

Pemikiran tersebut memiliki hubungan dengan gagasan Sekolah Negarawan mengenai pentingnya membangun manusia yang siap menghadapi masa depan. Sebuah bangsa tidak boleh menunggu krisis datang untuk mencari pemimpin yang mampu menyelesaikan persoalan. Negarawan harus dipersiapkan jauh sebelum sejarah membutuhkan kehadirannya.

Negarawan bukan hanya seseorang yang memiliki jabatan atau kewenangan. Negarawan adalah manusia yang memiliki visi panjang, integritas, kemampuan berpikir luas, serta kesadaran bahwa tanggung jawab kepada masyarakat berada di atas kepentingan pribadi. Bangsa membutuhkan ilmuwan yang berintegritas, pemimpin yang berbasis ilmu, masyarakat yang dewasa dalam berpikir, dan manusia yang memiliki kekuatan moral.

Pembangunan peradaban tidak hanya bergantung pada sistem atau teknologi yang dimiliki sebuah negara. Sistem yang baik tanpa manusia yang memiliki karakter dapat kehilangan arah. Teknologi yang maju tanpa nilai kemanusiaan dapat menimbulkan persoalan baru. Kekuasaan yang tidak disertai tanggung jawab dapat menjauhkan negara dari tujuan melayani masyarakat.

Karena itu, pesan Cak Nun mengenai Yogyakarta dapat dibaca sebagai ajakan untuk membangun manusia masa depan. Yogyakarta memiliki sejarah panjang sebagai ruang kebudayaan, pendidikan, keagamaan, seni, dan intelektualitas. Namun, warisan sejarah tidak otomatis melahirkan peradaban jika tidak diikuti dengan proses pembentukan manusia yang berkualitas.

Menjadi kota budaya tidak secara otomatis menghasilkan manusia berbudaya. Menjadi kota pendidikan tidak secara otomatis melahirkan negarawan. Peradaban membutuhkan proses panjang yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan moralitas, teknologi dengan kemanusiaan, serta pendidikan dengan realitas kehidupan masyarakat.

Jika pesan tersebut direnungkan kembali, tugas terbesar bukan hanya menunggu perubahan datang, tetapi menyiapkan manusia yang mampu menghadapi perubahan. Generasi muda perlu dibekali ilmu, karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan membaca tantangan zaman. Hubungan antara ulama, ilmuwan, budayawan, teknolog, akademisi, dan masyarakat perlu diperkuat agar pembangunan bangsa memiliki arah yang jelas.

Sebuah peradaban tidak dimulai ketika bangunan besar berdiri. Peradaban dimulai ketika kualitas manusia mengalami perubahan. Karena itu, fenomena enam gunung yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 tidak perlu dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa sebuah ramalan telah terbukti. Biarkan ilmu pengetahuan menjelaskan fenomena alam tersebut.

Namun, peristiwa tersebut tetap dapat menjadi pengingat bahwa bangsa harus selalu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan perubahan. Tiga belas tahun setelah Cak Nun berbicara mengenai lima gunung, pertanyaan terbesarnya bukan mengenai jumlah gunung yang sesuai dengan kejadian hari ini. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah waktu yang telah berlalu sudah digunakan untuk membangun manusia yang siap menghadapi masa depan.

Sering kali manusia sibuk mencari tanda perubahan, tetapi lupa mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Manusia bertanya kapan krisis datang, tetapi belum cukup bertanya siapa yang akan memimpin ketika krisis terjadi. Masa depan tidak cukup hanya diprediksi, tetapi harus dipersiapkan melalui pembentukan manusia yang memiliki kemampuan dan tanggung jawab.

Makna goro-goro tidak harus ditemukan pada kesamaan angka atau peristiwa tertentu. Maknanya dapat ditemukan dalam pertanyaan yang lebih mendalam mengenai kesiapan sebuah bangsa. Jika suatu hari terjadi perubahan besar, apakah Indonesia telah memiliki manusia yang mampu membangun kembali setelah keguncangan tersebut?

Gunung dapat mengalami erupsi tanpa menunggu manusia siap. Krisis dapat datang tanpa meminta izin. Dunia dapat berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri.

Karena itu, jangan menunggu keguncangan untuk mencari negarawan. Jangan menunggu masalah besar untuk membangun kualitas manusia. Sebab goro-goro mungkin datang tanpa memberi tanda, tetapi peradaban setelah goro-goro harus dipersiapkan mulai hari ini.