Sebuah peristiwa terkadang tidak hanya menarik karena kejadian yang terlihat, tetapi juga karena pesan yang kembali muncul setelah perjalanan waktu. Fenomena enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026 menjadi salah satu peristiwa yang mengingatkan kembali sebuah gagasan yang pernah disampaikan Cak Nun tiga belas tahun sebelumnya. Peristiwa tersebut tidak harus dipahami sebagai sebuah ramalan, tetapi dapat menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana manusia mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar.
Enam gunung yang mengalami erupsi tersebut adalah Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung. Dalam perspektif ilmu pengetahuan, aktivitas gunung api merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan kondisi geologi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire. Para ahli menjelaskan bahwa setiap gunung memiliki sistem vulkaniknya sendiri sehingga satu erupsi tidak secara langsung menyebabkan gunung lain mengalami aktivitas serupa.
Namun, terdapat sebuah catatan menarik yang membuat peristiwa tersebut kembali diperbincangkan. Pada 27 September 2013 dalam acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di halaman Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, Cak Nun pernah menyampaikan gagasan mengenai kemungkinan lima gunung mengalami erupsi secara bersamaan atau dalam waktu yang berdekatan. Pesan tersebut pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai fenomena alam, tetapi juga mengenai tanggung jawab manusia dalam membangun masa depan setelah menghadapi perubahan.
Tiga belas tahun kemudian, ketika enam gunung mengalami erupsi pada waktu yang sama, perhatian publik kembali tertuju pada ucapan tersebut. Namun, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya mengenai apakah peristiwa hari ini memiliki hubungan dengan ucapan masa lalu. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia membaca sebuah pesan dan mengambil nilai pembelajaran dari perjalanan sejarah.
Fenomena alam tetap harus dipahami melalui pendekatan ilmiah. Para ahli menggunakan berbagai data seperti aktivitas kegempaan, perubahan bentuk gunung, kandungan gas vulkanik, serta pengamatan lapangan untuk memahami perkembangan gunung api. Karena itu, setiap kejadian alam perlu dilihat berdasarkan kajian objektif agar masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat.
Akan tetapi, membaca sebuah peristiwa tidak selalu berarti mencari hubungan sebab akibat secara langsung. Terkadang sebuah kejadian dapat menjadi pengingat untuk melihat kembali nilai yang terkandung di dalamnya. Jika pesan Cak Nun dilihat secara lebih luas, inti utamanya bukan berada pada jumlah gunung yang mengalami erupsi, melainkan pada bagaimana manusia membangun kesiapan menghadapi perubahan.
Pesan mengenai masa depan berkaitan erat dengan kemampuan manusia untuk memperbaiki keadaan setelah menghadapi tantangan besar. Sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan kemampuan menghadapi krisis, tetapi juga membutuhkan manusia yang mampu membangun kembali setelah perubahan terjadi. Dari sudut pandang tersebut, pembentukan karakter manusia menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah bangsa.
Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Sekolah Negarawan mengenai pentingnya mempersiapkan pemimpin sebelum sejarah membutuhkan mereka. Bangsa tidak dapat hanya bergerak berdasarkan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Pemimpin dengan visi panjang harus dibentuk melalui proses pendidikan, pengalaman, dan pembelajaran yang berlangsung dalam waktu yang panjang.
Seorang negarawan tidak lahir ketika krisis sudah terjadi. Negarawan harus dipersiapkan melalui pembentukan manusia yang memiliki integritas, wawasan luas, serta tanggung jawab terhadap masyarakat. Perubahan besar dalam kehidupan bangsa membutuhkan manusia yang mampu melihat jauh ke depan dan memahami kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Pembangunan peradaban juga membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Ilmuwan yang memiliki integritas, ulama dengan keluasan pandangan, budayawan yang menjaga nilai kehidupan, teknolog yang menghadirkan solusi, birokrat yang bekerja berdasarkan kompetensi, serta pemimpin yang memiliki tanggung jawab moral harus berjalan bersama. Peradaban tidak hanya dibangun melalui kemajuan fisik, tetapi melalui kualitas manusia yang menggerakkannya.
Karena itu, pesan Cak Nun dapat dibaca sebagai ajakan untuk mempersiapkan diri, bukan sebagai alasan untuk menunggu tanda perubahan. Bangsa tidak boleh hanya sibuk membaca kemungkinan masa depan, tetapi harus mulai membangun manusia yang mampu menjalani masa depan tersebut. Kesiapan menghadapi perubahan menjadi bagian penting dari keberlangsungan sebuah masyarakat.
Penyebutan Yogyakarta dalam pesan tersebut juga memiliki makna yang perlu direnungkan. Yogyakarta dikenal sebagai ruang yang memiliki tradisi pendidikan, kebudayaan, pesantren, seni, dan kehidupan intelektual yang kuat. Namun, identitas sebagai kota budaya dan pendidikan tidak otomatis menjamin lahirnya manusia yang memiliki karakter negarawan.
Lembaga pendidikan dapat menghasilkan lulusan, organisasi dapat menghasilkan pemimpin, dan institusi dapat menghasilkan pejabat. Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana membentuk manusia yang memiliki tanggung jawab, moralitas, dan kemampuan melihat kepentingan bangsa dalam jangka panjang. Di sinilah pendidikan kepemimpinan memiliki peran penting.
Sebuah peradaban tidak dimulai ketika bangunan besar berdiri, tetapi ketika kualitas manusianya berubah. Ilmu pengetahuan harus berjalan bersama moralitas, teknologi harus berjalan bersama kemanusiaan, dan kewenangan harus berjalan bersama tanggung jawab. Hubungan antara akademisi, masyarakat, budaya, dan nilai kehidupan menjadi fondasi dalam membangun masa depan.
Fenomena enam gunung yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 tidak harus dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa sebuah ramalan telah terbukti. Ilmu pengetahuan tetap memiliki peran utama dalam menjelaskan aktivitas alam tersebut. Namun, peristiwa tersebut dapat menjadi pengingat bahwa bangsa harus selalu menyiapkan diri menghadapi berbagai perubahan.
Tiga belas tahun setelah Cak Nun menyampaikan gagasannya mengenai lima gunung, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah jumlah gunung tersebut sesuai dengan kejadian hari ini. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah selama tiga belas tahun tersebut manusia Indonesia telah mempersiapkan generasi yang mampu membangun masa depan.
Sering kali manusia menunggu perubahan datang sebelum mulai bersiap. Padahal, krisis tidak selalu memberikan waktu untuk mempersiapkan diri. Dunia dapat berubah lebih cepat daripada kemampuan manusia beradaptasi. Karena itu, pembangunan manusia harus dilakukan sebelum tantangan besar muncul.
Makna dari pesan Cak Nun dapat ditemukan dalam pertanyaan sederhana namun mendalam. Jika suatu hari terjadi perubahan besar, apakah Indonesia telah memiliki manusia yang siap membangun kembali dan menciptakan masa depan yang lebih baik?
Gunung dapat mengalami erupsi tanpa menunggu manusia siap. Perubahan dapat terjadi tanpa meminta izin. Karena itu, bangsa harus terus membangun kapasitas manusia agar mampu menghadapi berbagai keadaan. Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan tentang berapa banyak gunung yang mengalami erupsi, tetapi tentang siapa manusia yang sedang dipersiapkan untuk membangun masa depan setelah perubahan terjadi.