Pemimpin spiritual Iran, Ali Khameini, menegaskan bahwa pemuda sejati adalah mereka yang kuat secara batiniah dan hatinya bersama Allah, sehingga mampu berdiri tegak menentang kedigdayaan dan ancaman kekuasaan masa kini. Ia juga menekankan pentingnya identitas tunggal umat Islam tanpa memandang mazhab, di mana penderitaan sesama Muslim di belahan dunia mana pun seperti di Gaza atau Myanmar tidak boleh diabaikan karena empati adalah hakikat yang harus selalu ada. Senada dengan kepedulian terhadap sesama itu, Cak Nun mengingatkan tentang pentingnya mengayomi kelompok minoritas, dengan mendoakan agar perjuangan bangsa yang saat ini tertindas dan belum memiliki negara suatu saat nanti akan memiliki tempat berlindung dan balik melindungi.
Jejak Panjang Peradaban Nusantara hingga Kemerdekaan Indonesia
Jauh sebelum bernama Indonesia, jejak kehidupan di Nusantara telah terukir sejak 1,8 juta tahun lalu, bermula dari manusia purba hingga pelaut Austronesia yang membentuk peradaban awal. Seiring waktu, angin perdagangan membawa peradaban Hindu-Buddha yang melahirkan kerajaan megah seperti Kutai, Sriwijaya, dan Majapahit, disusul oleh cahaya Islam yang tumbuh mengakar melalui Samudra Pasai dan dakwah damai Wali Songo. Namun, pesona rempah Nusantara akhirnya memancing kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-16, mulai dari Portugis, Spanyol, hingga kongsi dagang VOC dari Belanda yang menguras kekayaan Nusantara dan memicu penderitaan berabad-abad lamanya. Penderitaan panjang ini akhirnya menumbuhkan benih perlawanan melalui Kebangkitan Nasional di abad ke-20, melewati masa pendudukan Jepang yang melatih kemandirian pemuda, hingga bermuara pada proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan pengakuan kedaulatan di tahun 1949.
Tragedi penjajahan masa lalu nyatanya menyimpan ironi yang mendalam. Sejarah mencatat bahwa bangsa Eropa sering kali tidak murni menggunakan kekuatan militer untuk menaklukkan, melainkan masuk melalui celah persaingan elite Nusantara, seperti pada konflik Ternate-Tidore. Pola ini disempurnakan oleh VOC yang berevolusi menjadi "mitra" bagi penguasa lokal yang sedang terdesak krisis internal, seperti dalam pusaran konflik takhta di Kesultanan Gowa dan Mataram.
Melalui penandatanganan perjanjian demi stabilitas kekuasaan sesaat, wilayah dan hak monopoli diserahkan, sehingga memecah belah kekuatan lokal. Inilah wajah asli Invited Colonialism, sebuah alarm peradaban yang mengingatkan bahwa penjajahan kerap kali dipersilakan masuk oleh tuan rumahnya sendiri; kedaulatan tidak dirampas, melainkan diserahkan.
Kritik terhadap Kepemimpinan dan Hilangnya Kepedulian terhadap Rakyat
Mengingat sejarah kelam tersebut, Cak Nun melontarkan kritik tajam kepada para pemimpin Indonesia saat ini yang dinilainya abai dan kejam terhadap rakyat. Ia mempertanyakan penderitaan macam apa yang pernah dialami para pejabat yang hidup serba lancar sehingga mereka tega merampok hak rakyat, bahkan menyamakan kelicikan mereka lebih buruk dari tokoh Sengkuni. Cak Nun memperingatkan bahwa pemerintah yang gagal menjalankan kewajibannya sama saja dengan menyatihkan rakyatnya, dan kondisi Indonesia lama-kelamaan mencerminkan peradaban yang hancur di mana agama dan ibadah sekadar dimanipulasi.
Demokrasi, Rakyat, dan Gagasan Amandemen Kelima UUD 1945
Kondisi politik pasca-Reformasi 1998 memang telah melahirkan kebebasan dan demokrasi elektoral, namun perubahan tersebut menyisakan lubang besar karena rakyat justru semakin hilang dari arsitektur kekuasaan. Rakyat direduksi sekadar menjadi "pemilih" dalam pemilu, "konsumen" di pasar digital, atau "wajib pajak", dan kedaulatan mereka seolah menguap setelah berada di bilik suara. Sebagai jalan keluar, Sekolah Negarawan menggagas perlunya Amandemen Kelima UUD 1945 untuk merespons tantangan zaman seperti perang pengetahuan, kecerdasan buatan (AI), dan kedaulatan data serta mengembalikan kedudukan rakyat sebagai pemilik sah negara.
Melalui amandemen ini, negara diharapkan memiliki struktur yang menghubungkan kehendak rakyat dengan haluan jangka panjang bangsa, karena perubahan sejati tidak dimulai dari perebutan kekuasaan, melainkan dari penyelamatan nilai-nilai luhur.
Pengorbanan dalam Perubahan Besar dan Pesan Revolusi Iran
Semangat pengorbanan demi perubahan struktural ini tecermin kuat dalam sejarah Revolusi Iran 1979 yang mengakhiri sistem monarki. Di balik lahirnya Republik Islam Iran, Imam Khomeini memikul pengorbanan pribadi yang luar biasa mulai dari 15 tahun hidup dalam pengasingan, kehilangan kenyamanan hidup, hingga harus merelakan kepergian putra sulungnya secara misterius di tengah perjuangan. Konstitusi yang lahir dari revolusi tersebut menjadi simbol bahwa perubahan besar selalu menuntut kesediaan seseorang untuk mengorbankan hampir segala yang dimilikinya. Sebagai penutup dari segala ikhtiar perjuangan, teruntai doa suci yang dilantunkan Ali Khameini, memohon kepada Allah Dzat yang membolak-balikkan hati, pengatur siang dan malam agar senantiasa mengubah keadaan umat menjadi sebaik-baiknya keadaan.