Berita

Sekolah Negarawan Telaah Jejak Snouck Hurgronje di Leiden: Belajar dari Sejarah Menuju Kedaulatan Pengetahuan Bangsa
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Telaah Jejak Snouck Hurgronje di Leiden: Belajar dari Sejarah Menuju Kedaulatan Pengetahuan Bangsa

LEIDEN, BELANDA – Sejarah tidak hanya berisi catatan tentang kejadian masa lalu, tetapi juga menyimpan pelajaran penting mengenai bagaimana sebuah bangsa membangun kekuatan intelektual dan menjaga kedaulatannya. Perspektif tersebut menjadi perhatian para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan saat melakukan kunjungan reflektif ke bekas kantor dan kediaman Snouck Hurgronje di Leiden, Belanda, dalam rangkaian ekspedisi riset internasional mereka.

Kunjungan tersebut diikuti oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Agenda penelusuran sejarah tersebut dikoordinasikan oleh Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil, yang mendampingi delegasi memahami konteks sejarah hubungan antara Leiden, kajian sosial, dan perjalanan kolonialisme di Nusantara.

Nama Snouck Hurgronje menjadi salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah hubungan kolonial Belanda dengan masyarakat Indonesia. Melalui kajian sosial dan antropologinya terhadap masyarakat Nusantara, khususnya Aceh, ia menyusun berbagai pendekatan kebijakan kolonial yang dikenal dengan konsep Islam-Politiek. Strategi tersebut membedakan ruang praktik keagamaan dengan aktivitas sosial-politik masyarakat Muslim yang saat itu dianggap sebagai tantangan bagi pemerintahan kolonial.

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menjelaskan bahwa kunjungan ke lokasi bersejarah tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadi ruang refleksi untuk membangun kesadaran bangsa. Menurutnya, sebuah bangsa harus mampu mempelajari sejarah secara objektif agar tidak mengulangi kelemahan yang pernah terjadi.

Prayogi menegaskan bahwa nilai tersebut sejalan dengan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi fondasi utama kurikulum Sekolah Negarawan. Kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan material, tetapi juga melalui kemampuan berpikir mandiri, memahami dirinya sendiri, dan memiliki keberanian menentukan arah masa depannya.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menyampaikan bahwa salah satu pelajaran penting dari strategi Snouck Hurgronje adalah pentingnya memahami kekuatan sosial masyarakat secara mendalam. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa kurangnya konsolidasi pengetahuan dan pemahaman terhadap kondisi bangsa dapat membuka ruang bagi pihak lain untuk memanfaatkan kelemahan tersebut.

Syafiih Kamil menambahkan bahwa pengalaman menelusuri jejak sejarah di Leiden memberikan pesan penting bagi generasi muda Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Menurutnya, mahasiswa Indonesia di berbagai negara perlu mengambil posisi sebagai produsen gagasan dan pengetahuan, bukan hanya menjadi objek kajian dari perspektif pihak lain.

Dari sisi teknologi dan tata kelola modern, CEO Enygma Erick Karya melihat adanya keterkaitan antara metode pengumpulan informasi yang dilakukan Snouck Hurgronje dengan perkembangan teknologi data saat ini. Menurutnya, pengelolaan informasi memiliki kekuatan besar dalam menentukan arah kebijakan sebuah negara.

Namun, Erick menekankan bahwa teknologi modern harus ditempatkan dalam kerangka yang berbeda. Jika pada masa lalu informasi dapat digunakan untuk melemahkan masyarakat, maka di era modern data harus menjadi instrumen untuk memperkuat kedaulatan bangsa. Melalui konsep backbone tata kelola pemerintahan berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan Enygma bersama Sekolah Negarawan, teknologi diarahkan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat, transparan, dan berpihak kepada kesejahteraan masyarakat.

Kunjungan ke bekas kantor Snouck Hurgronje di Leiden menjadi bagian dari perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam mempelajari berbagai praktik sosial, budaya, pendidikan, dan tata kelola di dunia internasional. Selama dua tahun terakhir, Sekolah Negarawan telah melakukan ekspedisi riset ke 12 negara, mulai dari kawasan Eropa Barat, Finlandia di wilayah Nordik, Estonia dengan inovasi digitalnya, Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), hingga Asia Tenggara.

Berbagai pembelajaran lintas peradaban tersebut terus dikembangkan menjadi bahan kajian dan diseminasi di Indonesia. Dari Medan hingga Ternate dan Tidore, Sekolah Negarawan berupaya menghadirkan gagasan tentang kepemimpinan, kedaulatan pengetahuan, dan pembangunan bangsa yang berakar pada kesadaran sejarah.