Berita

Java Cuisine di Laren Jadi Bukti Ketahanan Diaspora Indonesia Membawa Budaya Nusantara ke Dunia
Berita Terbaru

Java Cuisine di Laren Jadi Bukti Ketahanan Diaspora Indonesia Membawa Budaya Nusantara ke Dunia

LAREN, BELANDA – Membawa identitas bangsa ke tengah pergaulan global bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketekunan, kemampuan beradaptasi, serta kecintaan terhadap akar budaya agar nilai-nilai Nusantara tetap hidup jauh dari tanah air. Hal tersebut menjadi perhatian delegasi Sekolah Negarawan ketika melakukan kunjungan ke Java Cuisine di kawasan Velweg 1, Laren, Belanda, sebuah ruang kuliner yang menghadirkan cita rasa Indonesia di tengah masyarakat Eropa. Dalam kunjungan tersebut, delegasi Sekolah Negarawan yang terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya, didampingi oleh Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian ekspedisi riset untuk melihat secara langsung bagaimana diaspora Indonesia membangun peran strategis melalui jalur ekonomi, budaya, dan kewirausahaan.

Java Cuisine menjadi salah satu contoh nyata bagaimana budaya Nusantara dapat bertahan dan berkembang di luar negeri. Di balik keberadaan restoran tersebut terdapat sosok Mbak Atika, perempuan Indonesia yang telah menjalani kehidupan di Belanda selama lebih dari dua dekade. Berbekal pengalaman panjang sebagai perantau, ia berhasil membangun usaha kuliner yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga membawa cerita tentang Indonesia kepada masyarakat internasional.

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, melihat perjalanan Mbak Atika sebagai gambaran dari karakter masyarakat Nusantara yang mampu bertahan dalam berbagai situasi. Menurutnya, keberhasilan seorang diaspora bukan hanya diukur dari pencapaian ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga identitas budaya sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru. Prayogi menilai hal tersebut sejalan dengan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi dasar kurikulum Sekolah Negarawan. Seorang warga negara yang kuat adalah mereka yang mampu berdiri mandiri, memiliki daya juang, serta tetap membawa nilai-nilai kebudayaan asalnya ketika berinteraksi dengan dunia global.

Sementara itu, Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menyampaikan bahwa Java Cuisine memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat menikmati hidangan. Restoran tersebut menjadi ruang perjumpaan budaya yang memungkinkan masyarakat Belanda mengenal Indonesia melalui pengalaman langsung. Menurut Rinto, ketika masyarakat lokal menikmati makanan Nusantara di Java Cuisine, mereka tidak hanya mencicipi rasa, tetapi juga berinteraksi dengan keramahan, tradisi, dan nilai kebudayaan Indonesia. Dalam konteks tersebut, diaspora pengusaha kuliner memiliki posisi strategis sebagai duta budaya yang memperkenalkan wajah Indonesia secara nyata di tingkat internasional.

Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil, menambahkan bahwa kisah Mbak Atika dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia yang ingin membangun kehidupan di luar negeri. Kemampuan mempertahankan usaha, mengikuti regulasi lokal, menjaga standar kualitas, sekaligus mempertahankan keaslian produk menjadi contoh bagaimana profesionalisme dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas bangsa.

Dari sisi teknologi dan tata kelola, CEO Enygma Erick Karya melihat bahwa keberadaan bisnis diaspora seperti Java Cuisine memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui sistem yang lebih terintegrasi. Melalui konsep tata kelola berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan Enygma bersama Sekolah Negarawan, pemerintah masa depan diharapkan mampu memetakan potensi diaspora, menghubungkan jaringan usaha, serta memberikan dukungan berbasis data kepada pelaku ekonomi Indonesia di luar negeri. Erick menjelaskan bahwa diaspora bukan hanya kelompok masyarakat yang tinggal jauh dari tanah air, tetapi juga aset strategis bangsa yang dapat menjadi penghubung antara Indonesia dan dunia. Dengan dukungan sistem digital yang tepat, berbagai usaha diaspora dapat masuk ke dalam ekosistem ekonomi nasional secara lebih luas.

Kunjungan ke Java Cuisine di Laren menjadi bagian dari perjalanan panjang Sekolah Negarawan dalam memahami berbagai praktik kehidupan masyarakat global. Selama dua tahun terakhir, Sekolah Negarawan telah melakukan ekspedisi riset ke 12 negara, mulai dari Eropa Barat, Finlandia dengan sistem pendidikannya, Estonia dengan inovasi digitalnya, hingga Turkiye, Iran, dan kawasan Asia Tenggara. Berbagai pengalaman lintas budaya tersebut terus dikaji dan dikembangkan sebagai bahan pembelajaran kenegarawanan. Dari Medan hingga Ternate dan Tidore, Sekolah Negarawan berupaya menyebarluaskan gagasan tentang kepemimpinan, kemandirian masyarakat, serta pentingnya menjaga identitas bangsa dalam menghadapi tantangan dunia global.