Kedatangan rombongan disambut oleh Kantor Urusan Internasional kompleks tersebut. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan diisi dengan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam serta pengalaman masyarakat Muslim dalam menjaga tradisi keagamaan dan intelektual. Kunjungan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mengenal Qom tidak hanya melalui bangunan dan sejarahnya, tetapi juga melalui interaksi dengan masyarakat yang berada di lingkungan kompleks.
Bagi rombongan Sekolah Negarawan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses memahami salah satu episode penting dalam sejarah Iran modern. Qom memiliki posisi yang kuat sebagai pusat pembelajaran keagamaan dan kehidupan intelektual masyarakat Syiah. Dari lingkungan inilah berkembang berbagai gagasan dan jaringan sosial yang kemudian memiliki peran dalam perjalanan sejarah Iran pada abad ke-20.
Sayyidah Fatimah Ma’sumah dikenal dalam tradisi Syiah Imamiyah sebagai putri Imam Musa al-Kazhim dan saudara perempuan Imam Ali al-Ridha, Imam kedelapan dalam tradisi tersebut. Makamnya kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ziarah penting di Iran. Kehadiran kompleks tersebut juga turut membentuk karakter Qom sebagai kota yang memiliki kehidupan keagamaan yang kuat.
Pengaruh kompleks ini tidak hanya terlihat dalam aktivitas ziarah. Di sekitar kawasan tersebut berkembang berbagai lembaga pendidikan keagamaan dan kehidupan intelektual yang menjadikan Qom sebagai salah satu pusat pembelajaran Islam Syiah. Lingkungan pendidikan tersebut mempertemukan ulama, pelajar agama, dan masyarakat dalam ruang sosial yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan keagamaan.
Dalam memahami sejarah Iran modern, konteks tersebut menjadi penting. Perubahan besar yang terjadi pada akhir dekade 1970 tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berlangsung setelah melalui proses panjang yang melibatkan berbagai kelompok dan ruang sosial. Qom menjadi salah satu tempat penting dalam proses tersebut karena memiliki jaringan pendidikan dan kehidupan keagamaan yang telah berkembang selama berabad-abad.
Masjid, makam, madrasah, dan pusat pengajaran tidak hanya menjadi ruang ibadah dan pembelajaran. Tempat-tempat tersebut juga menjadi ruang bertemunya gagasan, membangun hubungan sosial, serta menyampaikan pemikiran keagamaan kepada masyarakat. Dari ruang-ruang inilah berbagai gagasan dapat berkembang dan memperoleh perhatian yang lebih luas.
Nama Imam Ruhollah Khomeini memiliki hubungan erat dengan sejarah Qom. Sebelum dikenal sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran, Khomeini merupakan ulama dan pengajar yang menjalani sebagian besar aktivitas keilmuannya di kota tersebut. Lingkungan pendidikan keagamaan Qom menjadi salah satu ruang penting dalam perkembangan pemikirannya.
Salah satu tempat yang memiliki arti penting adalah Madrasah Feyziyeh yang berada di kawasan pendidikan keagamaan dekat kompleks makam Sayyidah Ma’sumah. Khomeini pernah mengajar di lingkungan tersebut dan menyampaikan berbagai pandangan keagamaannya sebelum terjadinya Revolusi Islam Iran. Kawasan pendidikan itu kemudian menjadi salah satu tempat penting dalam berbagai peristiwa yang berkaitan dengan gerakan ulama pada masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Pada 3 Juni 1963, bertepatan dengan peringatan Asyura, Khomeini menyampaikan pidato di Feyziyeh yang berisi kritik keras terhadap Shah dan kebijakan pemerintahannya. Dua hari kemudian, Khomeini ditangkap. Penangkapan tersebut kemudian memicu demonstrasi besar pada 5 Juni 1963 yang dikenal sebagai gerakan 15 Khordad.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah Iran modern. Penangkapan dan berbagai tindakan pemerintah terhadap gerakan yang mendukung Khomeini turut memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh yang menentang pemerintahan Shah. Dari perspektif tersebut, Qom dapat dilihat sebagai salah satu ruang penting dalam perjalanan panjang yang kemudian mengarah pada perubahan besar di Iran.
Salah satu pelajaran dari sejarah Iran adalah bahwa perubahan besar dalam masyarakat tidak selalu bermula dari pusat pemerintahan. Dalam perjalanan Iran menuju Revolusi Islam, berbagai jaringan sosial dan keagamaan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat memiliki peran penting dalam menyebarkan gagasan dan membangun hubungan antarkelompok.
Kompleks makam Sayyidah Ma’sumah berada di tengah kehidupan keagamaan masyarakat Qom. Kawasan tersebut mempertemukan peziarah, ulama, pelajar agama, keluarga, pedagang, dan berbagai lapisan masyarakat. Pertemuan berbagai kelompok tersebut menciptakan jaringan sosial yang memungkinkan informasi dan gagasan bergerak lebih luas.
Dalam konteks tersebut, tradisi spiritual memiliki hubungan erat dengan pendidikan dan kehidupan sosial. Pendidikan keagamaan membentuk lingkungan intelektual, sementara jaringan sosial membantu menghubungkan gagasan dengan masyarakat. Hubungan antara ketiganya menjadi salah satu aspek penting dalam memahami posisi Qom dalam sejarah Iran modern.
Dalam membaca sejarah Revolusi Islam Iran, penting untuk membedakan antara Qom sebagai salah satu pusat perkembangan gerakan dan lokasi pidato pertama Khomeini setelah kembali dari pengasingan. Khomeini menyampaikan pidato pertamanya setelah kembali ke Iran pada 1 Februari 1979 di Pemakaman Behesht-e Zahra, Tehran, bukan di kompleks Sayyidah Ma’sumah.
Pidato tersebut disampaikan ketika pemerintahan Iran masih berada dalam masa transisi dan Perdana Menteri Shahpour Bakhtiar masih menjalankan pemerintahan. Namun, jauh sebelum momen tersebut, berbagai jaringan pendidikan dan keagamaan di Qom telah berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju perubahan pada 1979.
Karena itu, kompleks Sayyidah Ma’sumah lebih tepat dipahami sebagai bagian dari lingkungan spiritual, intelektual, dan sosial yang membantu membentuk ekosistem perkembangan gerakan tersebut. Kompleks ini bukan lokasi pidato pertama Khomeini setelah kembali ke Iran, tetapi berada dalam kawasan yang memiliki hubungan erat dengan sejarah pendidikan dan kehidupan keagamaan Qom.
Pemahaman semacam ini penting agar sejarah dapat dilihat secara utuh. Sebuah perubahan besar biasanya tidak lahir dari satu tempat atau satu peristiwa saja, tetapi melalui proses panjang yang melibatkan gagasan, lembaga, tokoh, dan masyarakat.
Hubungan antara kehidupan keagamaan dan pendidikan menjadi salah satu karakter penting Qom. Madrasah yang berkembang di sekitar kawasan makam tidak hanya menjadi tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang berlangsungnya diskusi mengenai kehidupan masyarakat dan berbagai persoalan yang dihadapi umat.
Dalam sejarah modern Iran, lingkungan pendidikan keagamaan turut menjadi tempat berkembangnya pembahasan mengenai hubungan agama dengan kehidupan masyarakat, keadilan, negara, dan kekuasaan. Karena itu, madrasah dan lembaga pendidikan memiliki posisi yang lebih luas daripada sekadar tempat belajar.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memberikan pelajaran mengenai bagaimana sebuah ruang spiritual dapat berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial ketika memiliki hubungan yang kuat dengan pendidikan dan masyarakat. Kekuatan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh bangunannya, tetapi juga oleh pengetahuan, tradisi, dan jaringan manusia yang berkembang di dalamnya.
Kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke kompleks Sayyidah Fatimah Ma’sumah pada akhirnya menjadi perjalanan yang lebih luas daripada sekadar mengunjungi situs keagamaan. Rombongan tidak hanya melihat arsitektur dan tradisi ziarah, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memahami kehidupan keagamaan masyarakat Qom. Pertemuan dengan Kantor Urusan Internasional kompleks tersebut turut membuka ruang dialog mengenai kebudayaan Islam dan pengalaman masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan serta intelektual.
Dari tempat ini, sejarah Revolusi Islam Iran dapat dilihat melalui perspektif yang lebih luas. Perubahan besar pada 1979 tidak hanya berkaitan dengan pergantian pemerintahan, tetapi juga merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan gagasan, pendidikan, jaringan sosial, dan kehidupan keagamaan. Qom menjadi salah satu ruang penting yang mempertemukan berbagai unsur tersebut dalam perjalanan sejarah Iran modern.
Kunjungan ini juga mengajarkan bahwa memahami sejarah membutuhkan kemampuan melihat hubungan antara tempat, manusia, dan gagasan. Sebuah makam dapat menjadi pusat ziarah sekaligus berada di tengah lingkungan pendidikan dan kehidupan sosial yang dinamis. Sebuah madrasah dapat menjadi tempat belajar sekaligus menjadi ruang bertemunya berbagai pemikiran dan pengalaman masyarakat.
Di Qom, spiritualitas bertemu dengan pendidikan, pendidikan bertemu dengan masyarakat, dan masyarakat menjadi bagian dari perjalanan sejarah. Karena itu, kompleks Sayyidah Ma’sumah tidak hanya penting untuk dipahami sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan yang membantu menjelaskan perkembangan kehidupan intelektual dan sosial Qom. Bagi peserta Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk membaca sejarah melalui ruang yang hidup sekaligus memahami bagaimana tradisi dapat membentuk perjalanan sebuah masyarakat.