Qom, Iran — Sebuah kegiatan masyarakat dalam skala besar tidak hanya dapat dilihat sebagai peristiwa berkumpulnya banyak orang. Di balik sebuah parade rakyat terdapat proses sosial yang lebih dalam: kemampuan masyarakat membangun kerja sama, mengorganisasi diri, menyediakan dukungan, dan menjaga semangat kebersamaan. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian tim Sekolah Negarawan ketika mengamati parade rakyat di Kota Qom, Iran.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan pembelajaran Sekolah Negarawan selama berada di Iran. Bagi tim, parade rakyat memberikan perspektif berbeda mengenai kehidupan bernegara, terutama tentang bagaimana masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan ruang publik yang hidup. Jika berbagai kunjungan sebelumnya memperlihatkan bagaimana institusi formal bekerja, maka kegiatan masyarakat di Qom menunjukkan sisi lain dari kekuatan sebuah negara: kapasitas masyarakat untuk bergerak secara mandiri dan kolektif.
Masyarakat sebagai Penggerak, Bukan Sekadar Peserta
Dalam kegiatan publik berskala besar, masyarakat sering kali dipandang hanya sebagai pihak yang mengikuti atau menghadiri sebuah acara. Namun, pengalaman di Qom memperlihatkan gambaran yang berbeda. Masyarakat tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menjadi bagian dari sistem yang membuat kegiatan tersebut berjalan.
Sebagian menyediakan makanan dan minuman, sebagian memberikan pelayanan kepada peserta, sebagian membantu kebutuhan di sepanjang jalur kegiatan, dan sebagian lainnya berkontribusi melalui berbagai bentuk dukungan sesuai kemampuan mereka. Fenomena tersebut menunjukkan adanya kekuatan modal sosial dalam masyarakat.
Modal sosial tidak selalu hadir dalam bentuk materi atau infrastruktur fisik. Ia dapat berupa rasa saling percaya, kepedulian, jaringan hubungan sosial, serta kemauan untuk bekerja bersama demi tujuan yang dianggap penting.
Dalam berbagai kegiatan masyarakat di Qom, keberadaan mowkeb atau pos pelayanan menjadi salah satu contoh nyata dari partisipasi sosial tersebut.
Pada rangkaian kegiatan jalan kaki menuju Jamkaran dalam momentum Arbain 2026, sejumlah laporan menyebut terdapat sekitar 250 mowkeb yang memberikan pelayanan kepada masyarakat dan peserta kegiatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah aktivitas publik tidak selalu harus sepenuhnya bergantung pada struktur formal. Masyarakat juga memiliki kemampuan untuk menciptakan mekanisme pelayanan melalui inisiatif bersama.
Gotong Royong dalam Ekspresi yang Berbeda
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan nilai gotong royong. Meski memiliki konteks sejarah, budaya, dan agama yang berbeda, terdapat nilai yang memiliki kesamaan: kesediaan masyarakat untuk memberikan waktu, tenaga, serta sumber daya demi kepentingan bersama. Dalam semangat gotong royong, seseorang tidak selalu bergerak karena kepentingan pribadi. Ada kesadaran bahwa sebuah kegiatan bersama membutuhkan kontribusi dari banyak pihak.
Bagi Sekolah Negarawan, hal tersebut menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan sebuah negara tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau kekuatan institusi formal. Negara yang kuat juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk bekerja sama, membangun kepercayaan, dan menciptakan solusi secara kolektif. Pemerintah dapat menyediakan regulasi, fasilitas, dan layanan publik. Namun, masyarakat memiliki peran penting dalam mengisi ruang-ruang sosial yang membutuhkan partisipasi langsung.
Ketika Masyarakat Menjadi Mitra Negara
Pengalaman di Qom juga membuka refleksi mengenai hubungan antara negara dan masyarakat. Masyarakat tidak harus selalu ditempatkan sebagai penerima layanan. Dalam banyak situasi, masyarakat juga dapat menjadi mitra yang ikut membangun dan mendukung keberlangsungan sebuah kegiatan publik. Dalam penyelenggaraan kegiatan besar, kapasitas negara tetap dibutuhkan untuk mengelola aspek seperti keamanan, transportasi, kebersihan, dan pelayanan administratif.
Namun, di sisi lain, masyarakat dapat menghadirkan kekuatan sosial melalui jaringan solidaritas yang mereka miliki. Dalam kegiatan menuju Jamkaran, misalnya, keberadaan ratusan mowkeb berjalan bersama dengan dukungan berbagai unsur pelayanan kota.Hal tersebut menunjukkan adanya kombinasi antara dua kekuatan: kapasitas institusi dan partisipasi masyarakat. Bagi Sekolah Negarawan, model hubungan seperti ini menarik untuk dipelajari karena memperlihatkan bahwa kehidupan publik merupakan hasil kerja bersama berbagai aktor.
Mengapa Masyarakat Mau Terlibat?
Dari fenomena tersebut muncul pertanyaan penting: apa yang membuat masyarakat bersedia memberikan kontribusinya?
Jawabannya tidak sederhana. Partisipasi sosial biasanya tumbuh dari berbagai faktor, seperti nilai bersama, identitas kolektif, pengalaman sejarah, rasa memiliki, serta kepercayaan antaranggota masyarakat.
Dalam konteks Qom, dimensi keagamaan menjadi salah satu unsur yang memiliki peran dalam membentuk kehidupan sosial masyarakat. Ketika sebuah kegiatan dipandang memiliki makna spiritual sekaligus sosial, keterlibatan masyarakat tidak lagi hanya dipahami sebagai aktivitas sukarela biasa. Ia menjadi bagian dari ekspresi identitas, kepedulian, dan hubungan antarwarga. Bagi Sekolah Negarawan, hal tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar sistem yang efektif. Ia juga membutuhkan nilai bersama yang mampu menggerakkan manusia untuk bertindak.
Pelajaran Kepemimpinan dari Kehidupan Masyarakat
Sebagai lembaga yang berfokus pada pendidikan kepemimpinan dan kenegarawanan, Sekolah Negarawan melihat pengalaman tersebut sebagai bahan refleksi penting. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami bagaimana menyusun kebijakan atau mengelola institusi. Pemimpin juga harus memahami bagaimana masyarakat bergerak.
Sebuah kebijakan akan lebih kuat ketika masyarakat merasa memiliki dan mampu mengambil bagian dalam pelaksanaannya. Sebaliknya, masyarakat dengan solidaritas tinggi dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung berbagai agenda publik. Karena itu, memahami modal sosial menjadi bagian penting dalam membangun perspektif seorang negarawan. Seorang negarawan perlu memahami bagaimana membangun kepercayaan, memperkuat partisipasi, serta menghubungkan kapasitas pemerintah dengan energi sosial yang ada di masyarakat.
Dari Parade Rakyat Menuju Pemahaman tentang Negara
Apa yang terlihat di jalan-jalan Qom membawa Sekolah Negarawan pada refleksi yang lebih luas mengenai makna kehidupan bernegara. Sebuah negara bukan hanya terdiri dari institusi pemerintahan, birokrasi, lembaga politik, dan struktur administratif. Negara juga dibangun oleh masyarakat yang memiliki kemampuan untuk menciptakan solidaritas, menjaga kebersamaan, dan mengorganisasi kehidupan sosial.
Karena itu, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dapat diukur dari kapasitas pemerintahannya, tetapi juga dari kualitas masyarakatnya. Parade rakyat di Qom menjadi contoh bagaimana nilai, keyakinan, solidaritas, dan organisasi sosial dapat bertemu dalam satu ruang publik. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memberikan satu pelajaran penting: membangun negara berarti juga membangun masyarakat yang mampu bergerak bersama. Dari jalanan Qom, pelajaran tentang kenegarawanan tidak hadir melalui teori semata. Ia hadir melalui masyarakat melalui orang-orang yang berjalan bersama, saling membantu, dan menunjukkan bahwa solidaritas sosial tetap menjadi salah satu kekuatan utama dalam kehidupan publik.