LEIDEN, BELANDA — Perjalanan intelektual Sekolah Negarawan di Eropa kembali membawa delegasi pada sebuah pusat pengetahuan yang memiliki peran besar dalam merekam perjalanan sejarah Indonesia. Dalam agenda riset di Leiden, Belanda, delegasi Sekolah Negarawan mengunjungi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) untuk mempelajari bagaimana arsip, literatur, dan berbagai sumber sejarah Nusantara dirawat sebagai fondasi penelitian global. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Sekolah Negarawan dalam memahami bagaimana sebuah bangsa menjaga memori kolektifnya. KITLV selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kajian Indonesia yang banyak menjadi rujukan para peneliti internasional, khususnya dalam bidang bahasa, budaya, masyarakat, sejarah, dan perkembangan sosial Nusantara.

Delegasi Sekolah Negarawan hadir dengan formasi Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Turut mendampingi agenda tersebut Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa Syafiih Kamil yang selama ini berperan dalam membangun jejaring pengetahuan Sekolah Negarawan di kawasan Eropa. Dalam kunjungan tersebut, delegasi juga mendapatkan pendampingan dari Una, mahasiswa program doktoral atau Ph.D. Universitas Leiden asal Indonesia. Sebagai bagian dari lingkungan akademik Leiden, Una berbagi pengalaman mengenai bagaimana para peneliti memanfaatkan koleksi arsip dan literatur KITLV untuk melakukan berbagai kajian mengenai Indonesia.
Di tengah koleksi literatur mengenai bahasa, geografi, dan etnologi Nusantara, delegasi Sekolah Negarawan melihat bagaimana sejarah Indonesia dikaji melalui sumber-sumber primer yang tersimpan secara sistematis. Berbagai arsip tersebut menjadi bahan penting bagi para akademisi dunia untuk memahami perjalanan masyarakat Indonesia dari berbagai sudut pandang. Una menjelaskan bahwa keberadaan KITLV memberikan gambaran mengenai pentingnya pengelolaan sumber pengetahuan sebagai bagian dari pembangunan peradaban. Arsip bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga menjadi dasar untuk memahami tantangan masa kini dan merancang masa depan.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut memperkuat pentingnya mendorong generasi Indonesia agar tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi pelaku utama yang membaca, mengkaji, dan menafsirkan sejarah bangsanya sendiri. Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menilai kunjungan ke KITLV memiliki hubungan erat dengan pemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi salah satu fondasi kurikulum Sekolah Negarawan. Menurut pandangan yang dikembangkan Sekolah Negarawan, sebuah bangsa harus memiliki kesadaran sejarah yang kuat agar mampu memahami identitas dan arah perjalanannya. Bangsa yang kehilangan hubungan dengan akar peradabannya akan kesulitan membangun kedaulatan dalam menentukan masa depannya.
Karena itu, pengelolaan arsip dan pengetahuan menjadi bagian penting dari pembangunan negara. Kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan sumber daya fisik, tetapi juga kemampuan sebuah bangsa menjaga, mengolah, dan memanfaatkan informasi yang dimilikinya.
Dari perspektif teknologi, CEO Enygma Erick Karya melihat sistem pengelolaan data di KITLV sebagai inspirasi bagi pengembangan tata kelola modern berbasis Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, pembangunan sistem pemerintahan masa depan membutuhkan fondasi data yang kuat. Melalui Enygma, Sekolah Negarawan memperkenalkan konsep backbone tata kelola pemerintahan berbasis AI yang membutuhkan kemampuan mengelola data secara akurat, terstruktur, dan berkelanjutan. Pengalaman dari KITLV menunjukkan bahwa data dan arsip memiliki nilai strategis dalam memahami pola sosial, budaya, serta perkembangan masyarakat. Dengan pengelolaan digital yang tepat, data sejarah dapat menjadi sumber pembelajaran untuk membantu negara mengambil keputusan yang lebih baik.

Kunjungan ke KITLV Leiden menjadi salah satu bagian dari rangkaian perjalanan riset internasional Sekolah Negarawan selama dua tahun terakhir. Dalam periode tersebut, Sekolah Negarawan telah melakukan ekspedisi ke 12 negara untuk menelusuri jejak intelektual, kebudayaan, dan pemikiran kenegaraan Cak Nun. Perjalanan tersebut mencakup kawasan Eropa Barat, Nordik seperti Finlandia, Baltik melalui Estonia, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, hingga Asia Tenggara. Setiap perjalanan menjadi sumber pembelajaran mengenai bagaimana berbagai bangsa membangun sistem sosial, budaya, teknologi, dan tata kelola mereka.
Hasil pembacaan lintas peradaban tersebut kemudian terus disebarluaskan melalui berbagai forum di Indonesia. Diseminasi gagasan dilakukan dari wilayah barat hingga timur Nusantara, mulai dari Medan di Sumatera Utara hingga Ternate dan Tidore di Maluku Utara. Melalui kunjungan ke KITLV, Sekolah Negarawan kembali menegaskan pentingnya memahami sejarah sebagai bekal membangun masa depan. Arsip bukan sekadar kumpulan dokumen lama, melainkan sumber pengetahuan yang dapat membantu bangsa mengenali dirinya dan menyusun langkah peradaban berikutnya.