Berita

Sekolah Negarawan Menggali Harmoni Tata Kelola dan Keberagaman dari Masjid Turki di Den Haag
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Menggali Harmoni Tata Kelola dan Keberagaman dari Masjid Turki di Den Haag

DEN HAAG, BELANDA — Den Haag dikenal sebagai kota yang menjadi pusat berbagai lembaga hukum dan pemerintahan internasional. Namun, di balik aktivitas institusional tersebut, kota ini juga menyimpan keberagaman masyarakat yang terbentuk dari berbagai latar belakang budaya dan agama. Salah satu ruang yang memperlihatkan keberagaman tersebut adalah Mescidi-Aksa Moskee, yang menjadi bagian dari kehidupan komunitas Turki di Den Haag. Bagi Sekolah Negarawan, keberadaan masjid tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memahami bagaimana komunitas diaspora mengelola rumah ibadah, menjaga identitas budaya, serta beradaptasi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas.

Kunjungan delegasi Sekolah Negarawan yang terdiri dari Prayogi R. Saputra, Rinto Setiyawan, Ahmad Syafii Kamil, dan Erick Karya memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung tata kelola masjid dalam lingkungan masyarakat sekuler. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan rumah ibadah dapat berjalan secara teratur dengan memperhatikan kebutuhan jamaah sekaligus mengikuti ketentuan yang berlaku di lingkungan perkotaan. Administrasi, pengelolaan fasilitas, serta pemanfaatan ruang menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas komunitas.

Tata Kelola Rumah Ibadah yang Terintegrasi

Mescidi-Aksa memberikan gambaran bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan. Masjid juga dapat menjadi ruang pelayanan dan interaksi masyarakat yang membutuhkan pengelolaan fasilitas secara baik. Keteraturan administrasi dan penataan ruang menjadi bagian dari upaya memastikan kegiatan jamaah dapat berlangsung dengan nyaman.

Erick Karya selaku CEO Enygma Solusi Negeri memberikan perhatian khusus terhadap aspek teknologi dan tata ruang fasilitas. Menurutnya, pemanfaatan ruang yang optimal menunjukkan bahwa pengelolaan rumah ibadah dapat menerapkan prinsip pelayanan publik modern. Area wudu, sanitasi, serta berbagai fasilitas pendukung dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna sehingga fungsi rumah ibadah dapat berjalan secara efektif.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kualitas pengelolaan fasilitas tidak harus dipisahkan dari nilai keagamaan. Justru, tata kelola yang baik dapat mendukung kenyamanan jamaah sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas komunitas. Pendekatan tersebut relevan untuk pengembangan berbagai fasilitas publik dan rumah ibadah di Indonesia.

Memahami Perbedaan Mazhab melalui Infrastruktur

Salah satu hal yang menarik perhatian delegasi adalah karakter jamaah Turki yang mayoritas mengikuti mazhab Hanafi. Perbedaan praktik tersebut dapat terlihat dalam beberapa aspek fasilitas ibadah, termasuk desain area wudu yang dilengkapi bangku kecil. Fasilitas tersebut memungkinkan jamaah melakukan wudu dalam posisi duduk sehingga memberikan kemudahan bagi mereka yang membutuhkan dukungan tambahan, termasuk jamaah lanjut usia.

Bagi Sekolah Negarawan, kondisi tersebut memberikan pelajaran bahwa perbedaan praktik keagamaan dapat diakomodasi melalui pendekatan yang sederhana dan rasional. Perbedaan mazhab tidak harus menjadi sumber pertentangan ketika masyarakat memahami bahwa terdapat beragam tradisi yang memiliki dasar keilmuan masing-masing. Infrastruktur bahkan dapat dirancang untuk mengakomodasi keberagaman tersebut tanpa menghilangkan identitas komunitas.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan melihat pengalaman tersebut sebagai pembelajaran mengenai pentingnya sikap saling menghormati. Perbedaan tata cara ibadah merupakan bagian dari keragaman tradisi keislaman. Ketika perbedaan dapat ditempatkan secara wajar dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk membangun hubungan yang harmonis.

Identitas Keagamaan dan Kehidupan Masyarakat

Ahmad Syafii Kamil menilai keberadaan Mescidi-Aksa juga memberikan gambaran mengenai bagaimana identitas budaya dan agama dapat tetap dipelihara dalam lingkungan masyarakat Eropa. Komunitas Turki mempertahankan karakter keagamaannya melalui masjid dan berbagai aktivitas komunitas, sementara pada saat yang sama mereka tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial di Den Haag.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa identitas tidak selalu harus berhadapan dengan keberagaman. Identitas budaya dapat tetap dijaga sekaligus hidup berdampingan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda. Pengalaman tersebut menjadi penting bagi pendidikan kepemimpinan karena seorang pemimpin perlu memahami masyarakat yang beragam dan mampu menciptakan ruang kehidupan yang saling menghormati.

Bagi Sekolah Negarawan, pembelajaran dari Mescidi-Aksa dapat memperkaya pemahaman mengenai kepemimpinan yang inklusif. Seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola institusi, tetapi juga perlu memahami dinamika sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. Kemampuan tersebut diperlukan agar perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan bersama.

Pada akhirnya, kunjungan Sekolah Negarawan ke Mescidi-Aksa Moskee di Den Haag memberikan pelajaran mengenai hubungan antara tata kelola, pelayanan, identitas budaya, dan toleransi. Masjid tersebut memperlihatkan bahwa rumah ibadah dapat dikelola secara modern sekaligus tetap mempertahankan karakter komunitasnya. Perbedaan mazhab juga dapat hadir secara wajar ketika masyarakat memiliki ruang untuk saling memahami dan menghormati. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bahan pembelajaran bagi Sekolah Negarawan dalam membentuk pemimpin masa depan yang mampu melihat keberagaman sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.