Berita

Mescidi-Aksa Den Haag dan Pelajaran Kepemimpinan tentang Adaptasi
Berita Terbaru

Mescidi-Aksa Den Haag dan Pelajaran Kepemimpinan tentang Adaptasi

DEN HAAG — Pembelajaran tentang kepemimpinan tidak selalu hadir melalui ruang kelas, forum resmi, atau diskusi mengenai tata kelola negara. Kunjungan delegasi Sekolah Negarawan ke Mescidi-Aksa Moskee di Den Haag justru memperlihatkan bahwa pelajaran penting dapat ditemukan dari fasilitas sederhana yang digunakan masyarakat sehari-hari. Salah satunya terlihat dari tata kelola tempat wudu yang memperkenalkan tradisi berbeda dengan kebiasaan yang umum ditemui di Indonesia.

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Rinto Setiyawan, Ahmad Syafii Kamil, dan Erick Karya mengamati langsung fasilitas bersuci di masjid tersebut. Komunitas Turki yang menjadi bagian dari jamaah Mescidi-Aksa menjalankan tradisi bermazhab Hanafi yang turut memengaruhi desain fasilitas ibadah. Area wudu dilengkapi tempat duduk khusus sehingga jamaah dapat melakukan proses bersuci dengan cara yang berbeda dari kebiasaan yang selama ini dikenal oleh delegasi asal Indonesia.

Perbedaan tersebut menjadi pengalaman sederhana yang memiliki makna penting dalam pendidikan kepemimpinan. Seorang pemimpin dituntut mampu menghadapi situasi yang tidak selalu sama dengan lingkungan asalnya. Kemampuan beradaptasi terhadap perbedaan tradisi menjadi bagian penting dari kompetensi seorang pemimpin ketika berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya dan kebiasaan yang beragam.

Pengalaman di Mescidi-Aksa menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang menghambat. Selama sebuah praktik tidak bertentangan dengan prinsip dasar, pemimpin perlu memiliki kemampuan memahami alasan di balik perbedaan tersebut. Sikap terbuka semacam ini membantu seorang pemimpin melihat persoalan secara lebih luas tanpa terburu-buru menilai sesuatu hanya berdasarkan kebiasaan yang telah dikenalnya.

Dalam konteks kepemimpinan, kekakuan terhadap satu kebiasaan dapat menjadi hambatan ketika seseorang harus bekerja dalam lingkungan yang lebih luas. Seorang negarawan tidak hanya berhadapan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang dan pengalaman seragam. Ia perlu memahami bahwa tradisi yang berkembang di satu komunitas dapat berbeda dengan tradisi komunitas lainnya.

Kunjungan tersebut juga memberikan gambaran mengenai pentingnya kemampuan melihat suatu keadaan dari sudut pandang orang lain. Perbedaan tata cara bersuci yang terlihat sederhana menjadi sarana untuk memahami bagaimana sebuah tradisi dapat diterjemahkan ke dalam bentuk fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan jamaah. Dari pengalaman tersebut, kebijaksanaan kepemimpinan dapat dibangun melalui kemauan untuk belajar dan memahami, bukan sekadar mempertahankan apa yang telah dianggap biasa.

Kekuatan Komunitas Diaspora

Selain aspek adaptasi terhadap perbedaan tradisi, Mescidi-Aksa juga memberikan pembelajaran mengenai kekuatan modal sosial komunitas diaspora Turki. Keberadaan masjid tersebut memperlihatkan kemampuan sebuah komunitas untuk membangun pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan di tengah lingkungan masyarakat Eropa.

Kemandirian komunitas menjadi salah satu unsur penting dalam proses tersebut. Solidaritas yang dibangun oleh masyarakat diaspora memungkinkan mereka mempertahankan identitas sekaligus membangun institusi yang dapat berfungsi secara baik di lingkungan baru. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa keterikatan komunitas tidak selalu berhenti pada batas wilayah tempat seseorang berasal.

Bagi Sekolah Negarawan, fenomena tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kepemimpinan yang lebih luas. Pemimpin perlu memahami bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh sumber daya material. Kepercayaan, solidaritas, jaringan sosial, serta kemampuan membangun institusi juga menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan sebuah komunitas.

Dua Pelajaran Strategis

Dari kunjungan ke Mescidi-Aksa, terdapat dua pembelajaran strategis yang dapat menjadi bagian dari pendidikan kepemimpinan Sekolah Negarawan. Pertama adalah pentingnya adaptabilitas dalam menghadapi keberagaman tradisi. Pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk memahami perbedaan dan menyesuaikan pendekatan tanpa kehilangan prinsip dasar yang menjadi pegangan.

Kedua adalah pentingnya kemandirian komunitas dalam membangun institusi yang bermartabat. Pengalaman komunitas Turki di Den Haag menunjukkan bahwa solidaritas sosial dapat menjadi kekuatan untuk membangun pusat keagamaan dan kebudayaan yang mampu bertahan di tengah lingkungan yang berbeda secara budaya.

Dengan demikian, kunjungan ke Mescidi-Aksa tidak hanya menjadi perjalanan untuk melihat sebuah rumah ibadah. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar mengenai bagaimana seorang pemimpin menghadapi perbedaan, memahami perspektif orang lain, serta membaca kekuatan sosial yang berkembang dalam sebuah komunitas. Dari tempat wudu yang sederhana hingga keberadaan institusi diaspora, terdapat pelajaran bahwa kepemimpinan membutuhkan kemampuan beradaptasi sekaligus keberanian untuk membangun kemandirian.