BRUSSEL, BELGIA – Sebuah kota tidak hanya dapat dinilai dari kemajuan infrastrukturnya, tetapi juga dari bagaimana kota tersebut menjaga hubungan antara sejarah, masyarakat, dan institusi negara. Brussel menjadi salah satu contoh bagaimana ruang kota dapat menyimpan pesan mengenai perjalanan sebuah bangsa. Pada September 2025, delegasi Sekolah Negarawan melakukan observasi langsung terhadap dua kawasan penting di Brussel, yaitu Grand-Place dan Royal Palace of Brussels, untuk memahami bagaimana tata ruang dapat menjadi bagian dari identitas dan tata kelola sebuah negara.
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya. Dalam perjalanan tersebut, delegasi juga didampingi Imam Syafiih Kamil selaku Head of Rep. Chapter Eropa. Observasi yang dilakukan bukan sekadar melihat keindahan arsitektur, tetapi menggali bagaimana sebuah bangsa mengelola ruang yang memiliki nilai sejarah dan menjadikannya bagian dari kehidupan modern. Dari Grand-Place hingga Royal Palace, terdapat pelajaran mengenai hubungan antara kekuatan masyarakat, kewibawaan negara, dan inovasi teknologi.

Foto Royal Palace of Brussel
Grand-Place dan Peran Masyarakat dalam Membangun Peradaban
Grand-Place menjadi salah satu ruang pertama yang diamati oleh delegasi Sekolah Negarawan. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu alun-alun bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi di Eropa. Namun, lebih dari sekadar keindahan bangunan, Grand-Place menyimpan cerita mengenai peran masyarakat dalam membangun identitas kota. Berbeda dengan banyak kawasan monumental yang lahir dari kekuatan kerajaan, bangunan-bangunan di sekitar Grand-Place banyak berkaitan dengan peran kelompok masyarakat seperti pedagang, pengrajin, dan berbagai komunitas profesi. Keberadaan guildhalls atau bangunan perkumpulan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat sipil memiliki kontribusi besar dalam membentuk wajah kota.
Bagi Sekolah Negarawan, kondisi tersebut memberikan pelajaran bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh institusi negara. Masyarakat yang aktif, produktif, dan memiliki kemampuan mengorganisasi diri menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun peradaban. Kota yang berkembang membutuhkan hubungan yang sehat antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai kelompok sosial. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra melihat bahwa Grand-Place menunjukkan bagaimana kekuatan masyarakat dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah negara. Ruang kota tersebut menggambarkan bahwa perkembangan ekonomi dan sosial tidak selalu berasal dari pusat kekuasaan, tetapi juga tumbuh dari kreativitas serta kontribusi masyarakat.
Royal Palace dan Simbol Keseimbangan Institusi Negara
Setelah mengamati Grand-Place, delegasi Sekolah Negarawan melanjutkan pembelajaran ke Royal Palace of Brussels. Jika Grand-Place menggambarkan energi masyarakat, maka Royal Palace memperlihatkan sisi lain dari kehidupan bernegara, yaitu kewibawaan institusi. Royal Palace of Brussels menjadi salah satu simbol keberadaan kepala negara Belgia. Letaknya yang berada di kawasan Place des Palais dan berdekatan dengan Brussels Park serta kawasan lembaga negara memperlihatkan bagaimana tata ruang dapat menggambarkan hubungan antara berbagai unsur dalam pemerintahan.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan melihat bahwa susunan ruang tersebut memberikan gambaran mengenai keseimbangan antara institusi negara, lembaga perwakilan, dan masyarakat. Keberadaan ruang publik di sekitar kawasan pemerintahan menunjukkan bahwa simbol negara dapat tetap hadir tanpa kehilangan hubungan dengan kehidupan masyarakat. Dari perspektif kepemimpinan, tata ruang tersebut memberikan pelajaran bahwa negara membutuhkan institusi yang kuat sekaligus keterhubungan dengan rakyat. Kewibawaan negara bukan berarti menciptakan jarak, tetapi membangun kepercayaan melalui sistem yang berjalan dengan baik.
Teknologi sebagai Penjaga Warisan Sejarah
Selain melihat aspek sejarah dan tata kelola ruang, delegasi juga mengamati bagaimana Brussel memadukan warisan masa lalu dengan teknologi modern. CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya memberikan perhatian pada bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjaga keberlangsungan kawasan bersejarah.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kota modern tidak hanya terlihat dari penggunaan teknologi terbaru, tetapi juga dari kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menjaga aset yang memiliki nilai sejarah. Sistem pengelolaan kawasan, pengaturan aktivitas masyarakat, hingga berbagai teknologi pendukung dapat bekerja tanpa menghilangkan karakter asli sebuah tempat. Pengalaman Brussel menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus berarti menggantikan masa lalu. Teknologi dapat menjadi alat yang membantu menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Pendekatan tersebut menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang memiliki banyak kawasan bersejarah dan membutuhkan strategi pengelolaan yang berkelanjutan.

Foto di Grand Place
Pelajaran Tata Kelola Kota untuk Indonesia
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan di Brussel memberikan pemahaman bahwa tata kota merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab terhadap pembangunan ekonomi atau institusi pemerintahan, tetapi juga bagaimana menciptakan ruang hidup yang memiliki nilai, identitas, dan manfaat bagi masyarakat. Indonesia memiliki banyak kota dengan sejarah panjang dan kekayaan budaya yang besar. Tantangannya adalah bagaimana mengelola warisan tersebut agar tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari pembangunan masa depan. Ruang publik, kawasan bersejarah, dan fasilitas kota perlu dirancang agar mampu menceritakan perjalanan bangsa sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat modern.
Pada akhirnya, pembelajaran dari Grand-Place dan Royal Palace of Brussels menunjukkan bahwa sebuah kota dapat menjadi cermin cara sebuah bangsa berpikir. Kota yang baik bukan hanya kota yang memiliki bangunan megah, tetapi kota yang mampu menghubungkan sejarah, masyarakat, institusi negara, dan teknologi dalam satu kesatuan. Dari Brussel, Sekolah Negarawan membawa pesan bahwa pemimpin masa depan harus mampu membaca ruang, memahami masyarakat, dan membangun peradaban yang tetap memiliki akar sejarah.