BRUSSEL, BELGIA – Di tengah dinamika Brussel sebagai pusat berbagai aktivitas internasional Eropa, terdapat sebuah ruang yang menghadirkan cerita berbeda tentang Indonesia di luar negeri. Di kawasan Sint-Pieters-Leeuw, Brussel Selatan, berdiri Masjid Indonesia pertama di Belgia yang menjadi simbol perjalanan panjang diaspora Indonesia dalam menjaga identitas, nilai kebersamaan, dan hubungan antarbudaya. Pada September 2025, tempat tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi delegasi Sekolah Negarawan untuk memahami bagaimana komunitas Indonesia di luar negeri dapat berperan dalam memperkenalkan nilai bangsa sekaligus membangun hubungan sosial dengan masyarakat setempat.
Delegasi Sekolah Negarawan yang terdiri dari Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya mengunjungi Masjid Indonesia Belgia sebagai bagian dari perjalanan pembelajaran kepemimpinan. Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda formal, tetapi menjadi ruang dialog terbuka bersama Ustadz Bakhtiar Hasan, Ph.D., Syuriah PCINU Belgia. Diskusi yang berlangsung hampir tiga jam tersebut membahas berbagai isu mulai dari sejarah diaspora, kehidupan masyarakat Indonesia di Eropa, lingkungan, hingga tantangan pembangunan bangsa.
Pertemuan tersebut memberikan pemahaman bahwa sebuah komunitas dapat menjadi sumber pembelajaran penting dalam melihat bagaimana nilai kebangsaan dipertahankan di tengah lingkungan global. Masjid Indonesia Belgia tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, pertukaran gagasan, dan penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan lingkungan sekitarnya.

Simbol Identitas dan Diplomasi Budaya Indonesia
Keberadaan Masjid Indonesia Belgia memiliki cerita yang menggambarkan kekuatan kolektif diaspora. Bangunan tersebut lahir dari upaya bersama masyarakat Indonesia yang berada di Eropa dan mendapatkan dukungan moral serta jaringan dari berbagai pihak, termasuk PBNU. Proses tersebut menunjukkan bahwa sebuah pencapaian besar dapat terwujud melalui kerja bersama dan semangat gotong royong.
Bagi Sekolah Negarawan, perjalanan tersebut memberikan pelajaran bahwa seorang pemimpin perlu memahami proses di balik sebuah keberhasilan. Sebuah institusi tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari nilai, perjuangan, dan partisipasi masyarakat yang membangunnya. Masjid Indonesia Belgia menjadi contoh bagaimana kekuatan komunitas dapat menciptakan ruang yang memiliki nilai sosial dan kebangsaan. Keberadaan masjid di kawasan Brussel juga memiliki makna diplomasi budaya. Melalui aktivitas keagamaan, sosial, dan kebudayaan, komunitas Indonesia memperkenalkan karakter bangsa yang menjunjung nilai toleransi, keterbukaan, dan kehidupan berdampingan. Diaspora menjadi salah satu jalur yang memperkenalkan wajah Indonesia kepada masyarakat internasional.
Harmoni Kehidupan Beragama di Ruang Publik
Lokasi Masjid Indonesia Belgia menghadirkan gambaran menarik mengenai kehidupan masyarakat multikultural. Masjid tersebut berdiri berdampingan dengan kompleks katedral bersejarah Domain Coloma yang dikelilingi lingkungan hijau dan taman yang terawat. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana perbedaan latar belakang dapat berjalan bersama dalam suasana saling menghormati. Bagi pendidikan kenegarawanan, pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa kehidupan bersama membutuhkan kemampuan membangun ruang yang menghargai keberagaman. Sebuah masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki perbedaan, tetapi masyarakat yang mampu mengelola perbedaan tersebut menjadi kekuatan bersama. Masjid Indonesia Belgia menjadi contoh bahwa ruang keagamaan juga dapat memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Tempat tersebut menjadi ruang bertemu masyarakat, bertukar gagasan, dan membangun hubungan kemanusiaan. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana sebuah komunitas dapat berkontribusi terhadap lingkungan tempat mereka berada.
Dialog Lintas Ilmu untuk Membaca Masa Depan
Diskusi bersama Ustadz Bakhtiar Hasan memperlihatkan bahwa masjid bagi komunitas diaspora dapat menjadi ruang pembelajaran lintas sektor. Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga menyentuh isu lingkungan, tata kelola kota, kehidupan sosial, dan pembangunan bangsa. Sebagai seorang ilmuwan, Ustadz Bakhtiar memberikan perspektif mengenai perbandingan pengelolaan lingkungan dan kehidupan perkotaan antara Belgia dan Indonesia. Perbedaan pendekatan tersebut menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana pengalaman negara lain dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.
CEO Enygma Solusi Negeri Erick Karya turut melihat pentingnya memahami hubungan antara pembangunan, teknologi, dan lingkungan. Pengelolaan ruang yang memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan menjadi salah satu pelajaran yang dapat dikembangkan dalam konteks Indonesia. Sementara itu, Wakil Direktur Sekolah Negarawan Rinto Setiyawan menilai bahwa pembelajaran seperti ini memberikan perspektif yang sulit diperoleh hanya melalui ruang kelas. Pertemuan langsung dengan komunitas dan tokoh yang memiliki pengalaman internasional memberikan kedalaman analisis bagi proses pendidikan kepemimpinan.
Belajar Kepemimpinan dari Komunitas Diaspora
Kunjungan Sekolah Negarawan ke Masjid Indonesia Belgia memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan tidak hanya dapat dipahami melalui institusi besar atau pusat kekuasaan. Kepemimpinan juga dapat dipelajari dari komunitas yang membangun nilai, menjaga identitas, dan menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitar. Masjid Indonesia di Sint-Pieters-Leeuw menunjukkan bagaimana diaspora dapat menjadi bagian dari kekuatan bangsa. Mereka tidak hanya menjaga hubungan dengan tanah air, tetapi juga membawa nilai Indonesia ke ruang global. Melalui aktivitas sosial dan budaya, diaspora menjadi penghubung antara Indonesia dan masyarakat internasional.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut menegaskan bahwa memahami sebuah bangsa tidak cukup hanya melihat lembaga formalnya. Seorang calon negarawan juga perlu memahami masyarakat yang menjadi fondasi kehidupan bangsa. Dari Masjid Indonesia Belgia, Sekolah Negarawan memperoleh pelajaran bahwa nilai kebangsaan dapat tumbuh di mana saja, bahkan jauh dari tanah air, selama dijaga melalui kebersamaan, ilmu, dan semangat membangun masa depan.