Berita

Sekolah Negarawan dan PT Enygma Dorong Kerja Sama Iran-Indonesia dalam Kedaulatan Data dan Artificial Intelligence
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan dan PT Enygma Dorong Kerja Sama Iran-Indonesia dalam Kedaulatan Data dan Artificial Intelligence

 

ISFAHAN — Perkembangan artificial intelligence tidak hanya berbicara mengenai kemampuan teknologi yang semakin canggih. Di balik perkembangan tersebut terdapat pertanyaan penting mengenai siapa yang memiliki data, siapa yang mampu mengolahnya menjadi pengetahuan, serta siapa yang memiliki kendali dalam memanfaatkan hasil pengolahan tersebut. Isu inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan Sekolah Negarawan dan PT Enygma Solusi Negeri dalam acara penutupan kompetisi AI di Islamic Azad University Isfahan–Khorasgan.

Seyed Abdullah Asqaf, Direktur Komunikasi Strategis dan Urusan Internasional Sekolah Negarawan yang merupakan bagian dari PT Enygma Solusi Negeri, menyampaikan bahwa Indonesia dan Iran memiliki peluang untuk membangun kerja sama di bidang kedaulatan data dan artificial intelligence. Menurutnya, upaya membangun kembali kapasitas peradaban Islam di era modern perlu berjalan seiring dengan kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. AI menjadi salah satu teknologi penting karena mampu mengubah data menjadi informasi dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.

Dalam pandangan tersebut, kedaulatan data tidak identik dengan menutup akses terhadap teknologi dari luar. Negara tetap dapat memanfaatkan berbagai teknologi global, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk menentukan teknologi apa yang digunakan dan bagian mana yang harus tetap berada dalam kendali sendiri. Prinsip tersebut menjadi penting agar pemanfaatan teknologi tidak menghilangkan kemampuan suatu negara untuk mengelola sumber daya datanya secara mandiri.

Asqaf menilai pembahasan mengenai kedaulatan data dapat dimulai dari sumber data yang paling mendasar. Data administrasi pemerintahan, kependudukan, perpajakan, perizinan, dan pelayanan publik merupakan aset informasi yang memiliki nilai strategis. Ketika data tersebut dapat dikumpulkan, diolah, dihubungkan, dan dianalisis secara tepat, hasilnya dapat menjadi pengetahuan yang mendukung perumusan keputusan dan kebijakan.

Karena itu, membangun kedaulatan data tidak selalu harus diawali dengan teknologi yang kompleks. Langkah awalnya justru dapat berupa kemampuan mengelola dan memahami data yang sudah dimiliki. Dari fondasi tersebut, teknologi AI dapat dikembangkan untuk menghasilkan analisis yang lebih cepat, akurat, dan relevan.

Perkembangan teknologi juga memungkinkan sumber data menjadi semakin beragam. Sensor dapat mengumpulkan informasi secara berkelanjutan, kamera menghasilkan data visual, sementara satelit mampu memberikan gambaran wilayah dalam cakupan yang luas. Seluruh data tersebut kemudian dapat diproses menggunakan teknologi komputasi dan AI untuk menghasilkan informasi serta pengetahuan baru.

Namun, kemampuan teknologi tersebut tetap perlu diikuti dengan pengendalian terhadap data. Menurut Asqaf, pemanfaatan AI seharusnya tidak membuat negara maupun masyarakat kehilangan kendali atas data yang mereka miliki. Penguasaan terhadap data menjadi salah satu bagian penting dari kemampuan untuk menentukan bagaimana teknologi digunakan dan untuk tujuan apa teknologi tersebut dikembangkan.

Dalam konteks Indonesia dan Iran, perbedaan pengalaman serta kapasitas teknologi justru dapat menjadi ruang untuk membangun kolaborasi. Tidak ada negara yang menguasai seluruh rantai teknologi secara sempurna sehingga kerja sama lintas negara tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan kemampuan teknologi. Indonesia dan Iran dapat saling bertukar pengetahuan, pengalaman, serta mengembangkan kapasitas yang saling melengkapi.

Kolaborasi tersebut juga tidak harus berarti meninggalkan teknologi global. Kedua negara tetap dapat menggunakan teknologi yang tersedia secara internasional sembari memperkuat kemampuan sendiri dalam mengelola data, membangun sistem, mengembangkan sumber daya manusia, dan menjaga kendali atas aset digital yang bersifat strategis. Pendekatan tersebut dapat menjadi jalan tengah antara keterbukaan terhadap inovasi dan upaya memperkuat kemandirian teknologi.

Bagi Sekolah Negarawan dan PT Enygma, kemampuan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Kemandirian teknologi bukan hanya mengenai kemampuan membuat perangkat atau sistem sendiri, tetapi juga mengenai kemampuan menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dalam kerangka tersebut, artificial intelligence dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kapasitas pengetahuan dan teknologi.

Kerja sama Indonesia dan Iran di bidang AI karena itu dapat diarahkan melampaui sekadar penggunaan teknologi. Kedua pihak dapat mengembangkan penelitian dan kolaborasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola data, mengolahnya menjadi pengetahuan, serta memanfaatkan hasil analisis tersebut untuk menjawab berbagai kebutuhan di masing-masing negara. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan institusi.

Momentum penutupan kompetisi AI di Islamic Azad University Isfahan–Khorasgan menjadi salah satu ruang awal bagi munculnya gagasan tersebut. Pertemuan yang semula berangkat dari kompetisi mahasiswa kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai masa depan teknologi, pengelolaan data, pengembangan talenta, dan peluang kolaborasi Indonesia-Iran. Dari ruang tersebut, muncul kemungkinan untuk membangun jejaring kerja sama yang lebih luas.

Pada akhirnya, tantangan ke depan bukan lagi sekadar apakah artificial intelligence akan digunakan. Teknologi tersebut akan semakin hadir dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah suatu negara hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau mampu menguasai data, menghasilkan pengetahuan, mengembangkan teknologi, serta menentukan pemanfaatannya sesuai dengan kebutuhan sendiri.

Bagi Sekolah Negarawan dan PT Enygma Solusi Negeri, pertanyaan tersebut menjadi salah satu dasar untuk mendorong kerja sama Indonesia dan Iran di masa mendatang. Kedaulatan data dan penguasaan AI dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kapasitas teknologi yang lebih mandiri. Dari Isfahan, gagasan tersebut menjadi salah satu peluang untuk mempertemukan pengetahuan, talenta, teknologi, dan kolaborasi antara kedua negara.