TEHERAN — Memahami kepemimpinan tidak selalu harus dilakukan melalui ruang kelas atau diskusi formal. Ada kalanya, pelajaran justru muncul dari tempat-tempat yang menyimpan jejak sejarah dan dari kisah tokoh yang pernah membentuk perjalanan sebuah bangsa.
Perspektif tersebut diperoleh Tim Sekolah Negarawan ketika mengunjungi makam Imam Khomeini di Teheran bersama para peserta 40th International Islamic Unity Conference.
Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian agenda konferensi yang mempertemukan peserta dari berbagai negara. Para tamu internasional berkesempatan memberikan penghormatan di makam Imam Khomeini sekaligus bertemu dengan Ayatollah Seyyed Hassan Khomeini.
Bagi Tim Sekolah Negarawan, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat hubungan antara sejarah, kepemimpinan, dan identitas sebuah bangsa.
Imam Khomeini merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah modern Iran. Ia menjadi figur sentral dalam Revolusi Islam 1979 sekaligus dikenal sebagai pendiri Republik Islam Iran.
Karena itu, memahami Iran tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari memahami pemikiran, perjuangan, dan posisi Imam Khomeini dalam sejarah politik serta kehidupan masyarakat Iran.
Kunjungan tersebut berlangsung setelah tim mengikuti konferensi yang secara khusus membahas isu persatuan Islam. Konteks itu memberikan makna tambahan terhadap perjalanan menuju makam Imam Khomeini.
Bagi Sekolah Negarawan yang membawa misi pendidikan kepemimpinan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang akademik.
Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan. Lebih dari itu, seorang pemimpin perlu memahami sejarah, membaca perubahan sosial, membangun visi, serta mengetahui bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi institusi dan kebijakan.
Pengalaman Iran memberikan contoh mengenai bagaimana gagasan politik dan keagamaan dapat memengaruhi pembentukan negara, sistem pemerintahan, sekaligus kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.
Selama berada di Iran, Tim Sekolah Negarawan juga mengunjungi berbagai institusi pendidikan, akademik, teknologi, kebudayaan, dan keagamaan. Rangkaian pengalaman tersebut kemudian dilengkapi dengan kehadiran dalam konferensi internasional serta kunjungan ke makam Imam Khomeini.
Berbagai pengalaman itu mempertemukan sejumlah dimensi sekaligus: akademik, kelembagaan, kebudayaan, dan sejarah.
Bagi generasi muda Indonesia, pengalaman semacam ini memberikan pelajaran penting bahwa kepemimpinan masa depan membutuhkan kemampuan memahami bangsa lain.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengenal negaranya sendiri. Ia juga perlu memahami bagaimana bangsa lain membentuk identitas, menjaga memori sejarah, membangun institusi, serta merespons perubahan zaman.
Karena itu, kunjungan ke makam Imam Khomeini bukan sekadar perjalanan ke sebuah situs bersejarah. Bagi Sekolah Negarawan, tempat tersebut menjadi ruang refleksi mengenai hubungan antara kepemimpinan, gagasan, sejarah, dan identitas nasional.
Dari Teheran, satu pelajaran kembali mengemuka: untuk memahami sebuah negara secara utuh, kita tidak cukup hanya melihat apa yang berlangsung hari ini. Kita juga perlu menelusuri sejarah dan gagasan yang membentuk perjalanan bangsa tersebut.