HELSINKI, FINLANDIA – Gereja Munkkiniemi di Helsinki, Finlandia, menjadi tempat penting untuk menelusuri jejak diplomasi budaya dan pesan perdamaian lintas iman. Kunjungan ini dilakukan oleh para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan untuk menggali nilai toleransi yang pernah disampaikan melalui pertunjukan seni budaya Indonesia. Sebuah foto bersejarah menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang bagi perjumpaan antarmanusia. Melalui penelusuran langsung, mereka berupaya memahami kembali makna peristiwa yang mempertemukan tradisi spiritual Islam dengan ruang ibadah umat Kristen. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi sumber pembelajaran bagi pengembangan pendidikan karakter dan kepemimpinan yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Penjelajahan tersebut diikuti oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Perjalanan mereka mendapat panduan serta fasilitasi dari Wiwik H, diaspora Indonesia yang telah lama menetap di Finlandia. Mereka mendatangi Gereja Munkkiniemi untuk melihat secara langsung tempat berlangsungnya salah satu peristiwa kebudayaan Indonesia yang memiliki pesan universal. Kunjungan ini tidak sekadar menjadi perjalanan mengenang masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan nilai persaudaraan di tengah keberagaman. Melalui pengalaman tersebut, para pegiat Sekolah Negarawan berupaya menggali pelajaran yang relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.
Pada 2007, ruang utama Gereja Munkkiniemi menjadi tempat penampilan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun bersama kelompok musik Kiai Kanjeng. Pertunjukan tersebut membawa semangat diplomasi budaya Indonesia ke tengah masyarakat Finlandia melalui perpaduan selawat dan komposisi musik Nusantara. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan latar belakang keagamaan dan kebudayaan. Jemaat gereja serta masyarakat setempat menjadi bagian dari perjumpaan yang menghadirkan pesan cinta kasih dan penghormatan terhadap sesama. Peristiwa tersebut meninggalkan jejak penting tentang bagaimana kebudayaan mampu membuka ruang dialog tanpa harus menghapus identitas masing-masing.
Bagi jamaah Maiyah dan pemerhati kebudayaan di Indonesia, penampilan tersebut dikenang melalui sebuah foto yang memiliki makna simbolis kuat. Foto itu memperlihatkan Cak Nun bersama kelompok Kiai Kanjeng mengenakan peci dan membawakan lantunan spiritual Islam di dalam gereja. Di belakang mereka, tampak dinding putih dengan sebuah salib kayu sederhana yang menjadi bagian dari interior bangunan. Perpaduan visual tersebut menggambarkan perjumpaan dua tradisi keagamaan dalam suasana yang damai dan saling menghormati. Foto itu kemudian menjadi pengingat bahwa nilai Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dapat diwujudkan melalui sikap terbuka, kasih sayang, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menjelaskan bahwa kunjungan ke lokasi bersejarah tersebut bertujuan menghidupkan kembali keberanian dalam membangun perjumpaan lintas budaya. Nilai-nilai itu diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan Sekolah Negarawan. Menurut filosofi kenegaraan yang terinspirasi dari pemikiran Cak Nun, seorang negarawan perlu memiliki kelapangan hati untuk berdialog dengan siapa pun. Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan rasa aman kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan agama maupun latar belakang sosial. Prinsip tersebut menjadi landasan penting dalam membentuk kepemimpinan yang mengutamakan kemanusiaan, keterbukaan, dan kehidupan bersama yang harmonis.
Di dalam Gereja Munkkiniemi, Rinto Setiyawan bersama Wiwik H turut merefleksikan karakter bangunan yang sederhana dan tidak dipenuhi ornamen berlebihan. Dinding putih polos serta desain interior yang bersahaja menghadirkan suasana yang tenang dan memberi ruang bagi perenungan. Kesederhanaan tersebut menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya mengutamakan esensi dibandingkan penampilan luar. Nilai itu juga dipandang selaras dengan sejumlah prinsip kehidupan masyarakat Finlandia yang menghargai kejujuran, kesederhanaan, dan kualitas pelayanan. Pengalaman tersebut memperkaya pemahaman para pegiat Sekolah Negarawan mengenai hubungan antara lingkungan, kebudayaan, dan pembentukan karakter masyarakat.
Sementara itu, CEO Enygma, Erick Karya, menilai pesan perdamaian dari peristiwa 2007 perlu diterjemahkan ke dalam tata kelola pelayanan publik pada era digital. Melalui pengembangan arsitektur kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Enygma membawa gagasan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelayanan yang adil dan inklusif. Teknologi diharapkan mampu memastikan setiap warga memperoleh perlindungan dan pelayanan tanpa diskriminasi berdasarkan keyakinan agama. Semangat tersebut sejalan dengan pesan pertunjukan Kiai Kanjeng yang mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda melalui bahasa musik dan kebudayaan. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak hanya diarahkan pada efisiensi administrasi, tetapi juga pada penguatan nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
Penelusuran jejak Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Helsinki menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Sekolah Negarawan ke 12 negara. Perjalanan tersebut mencakup sejumlah kawasan, mulai dari negara-negara Nordik dan Baltik, termasuk Estonia, hingga Eropa Barat, Timur Tengah, Persia atau Iran, serta Asia Tenggara. Berbagai pengalaman yang diperoleh dari kunjungan tersebut dihimpun sebagai bahan pembelajaran mengenai kebudayaan, kepemimpinan, dan tata kehidupan masyarakat. Hasil refleksi itu tidak dimaksudkan berhenti sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi akan disebarluaskan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan publik. Penyebaran pembelajaran tersebut direncanakan menjangkau berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Medan di Sumatera hingga Ternate dan Tidore di Maluku, agar pesan perdamaian dan penghormatan terhadap keberagaman semakin luas dikenal.