Indonesia kini menghadapi ancaman serius terhadap sistem demokrasinya. Demokrasi tanpa negarawan menciptakan ketidakpastian di mana kebijakan lebih dipengaruhi oleh kepentingan pejabat daripada kebutuhan rakyat. Negara yang seharusnya dikelola oleh pemimpin yang bijaksana dan visioner, kini hanya menjadi ajang pertempuran kekuasaan tanpa arah yang jelas. Rakyat yang seharusnya menjadi pusat pengambilan keputusan malah terpinggirkan.
Ketiadaan negarawan dalam pemerintahan membuat keputusan-keputusan penting tidak mencerminkan kepentingan rakyat. Tanpa pemimpin yang mewakili suara rakyat, kebijakan yang diambil tidak terarah dan sering kali memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Hal ini semakin memperburuk ketidakpercayaan publik terhadap sistem demokrasi yang ada.
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengingatkan bahwa negara memiliki tiga tugas utama: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Namun, dalam kenyataannya, pemerintah gagal menjalankan tugas ini dengan baik. Pemerintah seharusnya hadir untuk melindungi, melayani, dan mengatur dengan bijaksana, namun kenyataannya lebih banyak terjebak dalam kepentingan yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat.
Demokrasi tanpa negarawan akan terus memperburuk ketimpangan dan ketidakpercayaan terhadap sistem pemerintahan. Tanpa pemimpin yang visioner dan mampu mewakili kepentingan rakyat, Indonesia akan terus terjebak dalam ketidakpastian. Negara harus kembali kepada prinsip dasar demokrasi yang berpihak pada rakyat, dengan memfokuskan diri pada melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat secara bijaksana. Hanya dengan kepemimpinan yang berintegritas, Indonesia bisa membangun masa depan yang lebih adil dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.