Berita

East Side Gallery Berlin Jadi Cermin Pentingnya Kedaulatan Rakyat dan Tata Kelola Terbuka
Berita Terbaru

East Side Gallery Berlin Jadi Cermin Pentingnya Kedaulatan Rakyat dan Tata Kelola Terbuka

BERLIN, JERMAN – Jejak sejarah Tembok Berlin menjadi ruang pembelajaran bagi para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan dalam memahami hubungan antara negara, masyarakat, dan nilai kemanusiaan. Melalui kunjungan ke East Side Gallery di Berlin, Jerman, para pegiat Sekolah Negarawan mengamati langsung bagian dari Tembok Berlin yang dahulu membelah kehidupan masyarakat di wilayah timur dan barat kota tersebut. Kawasan yang pernah menjadi simbol keterpisahan kini berubah menjadi ruang seni publik yang menyampaikan pesan perdamaian dan kebebasan. Pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya membangun sistem negara yang menghormati hak masyarakat serta menjunjung nilai keterbukaan. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian riset internasional Sekolah Negarawan dalam mempelajari berbagai model kehidupan sosial dan tata kelola di dunia.

Dalam agenda tersebut, rombongan Ekosistem Sekolah Negarawan yang hadir terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Mereka menyusuri area East Side Gallery yang membentang di sepanjang Mühlenstraße sambil mengamati berbagai karya seni yang menghiasi sisa tembok bersejarah tersebut. Panel-panel beton yang dahulu menjadi pembatas wilayah kini dipenuhi mural dari berbagai seniman dunia yang membawa pesan tentang kemanusiaan, perdamaian, dan harapan. Dari kawasan tersebut, para pegiat Sekolah Negarawan melihat bagaimana sebuah simbol keterbatasan dapat diubah menjadi ruang edukasi yang terbuka bagi masyarakat internasional. Transformasi itu menjadi gambaran bahwa sejarah dapat dikelola sebagai sumber pembelajaran untuk memperkuat kesadaran bersama.

Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menjelaskan bahwa pengalaman di East Side Gallery memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara kekuasaan dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Menurutnya, sejarah Tembok Berlin menunjukkan bahwa sebuah sistem dapat kehilangan makna apabila negara tidak lagi menempatkan manusia sebagai pusat pengelolaan kehidupan bersama. Ia menilai bahwa penggunaan istilah atau aturan tertentu tidak boleh menjauhkan negara dari nilai keadilan dan kemanusiaan. Berdasarkan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun yang menjadi fondasi Sekolah Negarawan, negara harus hadir untuk menjaga martabat masyarakat. Kedaulatan rakyat menjadi nilai utama yang harus terus dirawat agar negara tidak berubah menjadi ruang yang menjauh dari kebutuhan warganya.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menyoroti bagaimana Berlin saat ini mengelola East Side Gallery sebagai ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat secara luas. Menurutnya, kawasan tersebut bukan hanya menjadi tempat mengenang perjalanan sejarah, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, budaya, dan ekonomi kreatif. Pemerintah dan masyarakat Berlin mampu menjaga nilai sejarah tanpa menghilangkan fungsi kawasan sebagai ruang terbuka. Model pengelolaan tersebut menunjukkan bahwa peninggalan masa lalu dapat menjadi aset edukasi sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan modern. Bagi Sekolah Negarawan, pendekatan tersebut menjadi contoh penting dalam mengelola ruang publik yang tetap menghormati nilai sejarah.

CEO Enygma Erick Karya menyampaikan bahwa pengalaman Berlin memberikan gambaran mengenai pentingnya membangun tata kelola yang berbasis keterbukaan dan teknologi. Ia membandingkan perubahan berbagai wilayah yang pernah berada dalam pengaruh Uni Soviet, termasuk Estonia yang mampu melakukan transformasi melalui pengembangan sistem digital pemerintahan. Menurut Erick, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat pelayanan publik apabila dikelola dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui arsitektur Artificial Intelligence (AI) Enygma yang diperkenalkan oleh Sekolah Negarawan, sistem pengelolaan negara diarahkan agar lebih akurat, transparan, dan berbasis data. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan tata kelola modern yang tetap berlandaskan nilai kemanusiaan.

Kunjungan ke East Side Gallery menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan intelektual Sekolah Negarawan selama dua tahun terakhir yang telah menjangkau 12 negara. Rangkaian riset tersebut mencakup pembelajaran dari Finlandia mengenai sistem sosial dan pendidikan, Estonia dalam pengembangan teknologi digital, serta berbagai pengalaman dari Eropa Barat, Turkiye, Timur Tengah, Persia atau Iran, dan Asia Tenggara. Setiap perjalanan memberikan perspektif baru mengenai bagaimana sebuah bangsa membangun masa depan melalui pembelajaran dari sejarah. Dari sisa Tembok Berlin, Sekolah Negarawan membawa pesan bahwa keterbukaan, keadilan, dan penghormatan terhadap manusia menjadi fondasi penting dalam membangun negara yang kuat. Gagasan tersebut terus dikembangkan dan disebarluaskan melalui berbagai kegiatan literasi di Indonesia dari Medan hingga Ternate dan Tidore.