Berita

Yahya Al Fatih Raih Juara 1 Regional 6 Juara Kelas Indonesia 2026, Kader Cilik Sekolah Negarawan Melaju ke Nasional
Berita Terbaru

Yahya Al Fatih Raih Juara 1 Regional 6 Juara Kelas Indonesia 2026, Kader Cilik Sekolah Negarawan Melaju ke Nasional

 

Surabaya — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh kader cilik Sekolah Negarawan, Yahya Al Fatih. Siswa kelas V Sekolah Dasar Unggulan Permata Jingga, Kabupaten Malang, tersebut berhasil meraih Juara 1 Ajang Juara Kelas Indonesia 2026 tingkat Regional 6, yang mencakup Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau.

 

Kompetisi regional ini berlangsung pada 3 Oktober 2026 di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur (BBPMP Jatim), Jalan Ketintang Wiyata No. 15, Surabaya. Kemenangan tersebut sekaligus memastikan langkah Yahya Al Fatih untuk mewakili Regional 6 dalam kompetisi tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 22–31 Oktober 2026 di Jakarta.

 

Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting bagi Al Fatih. Di tengah usianya yang masih belia, ia telah menunjukkan kemampuan akademik sekaligus memiliki pengalaman dalam berbagai kegiatan kebangsaan, kenegarawanan, dan dialog peradaban bersama Sekolah Negarawan.

 

Al Fatih merupakan putra dari Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, yang menjabat sebagai Wakil Direktur Sekolah Negarawan. Lingkungan keluarga dan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas Sekolah Negarawan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang tidak semata-mata berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada penguatan karakter, kedisiplinan, keberanian, wawasan kebangsaan, serta tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.

 

Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Usia Dini

Perjalanan Al Fatih dalam berbagai kegiatan Sekolah Negarawan telah dimulai sejak 25 Januari 2024. Saat itu, ia turut tampil dalam acara Doa untuk Indonesia yang diselenggarakan di Graha Cakrawala, Universitas Negeri Malang. Pengalaman tersebut menjadi salah satu langkah awal dalam mengenalkannya pada ruang-ruang kegiatan kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat.

 

Pengalaman Al Fatih semakin berkembang pada April 2026 ketika ia mendapat kesempatan berpidato di Istana Dam, Amsterdam, Belanda. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pidato berjudul "Kembalikan Kedaulatan kepada Rakyat, Menuju Perubahan Kelima UUD Tahun 1945."

 

Melalui penampilan itu, Al Fatih mulai diperkenalkan pada berbagai pemikiran mengenai konstitusi, kedaulatan rakyat, tanggung jawab warga negara, serta pentingnya mempersiapkan masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengalaman berbicara di hadapan publik internasional tersebut juga menjadi sarana untuk melatih keberanian dan kepercayaan dirinya.

 

Pada Agustus 2026, Al Fatih kembali memperoleh pengalaman berharga dengan mengikuti dialog bersama intelektual Iran, Dr. Abdolreza Alami, di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan tersebut membuka kesempatan baginya untuk mengenal perspektif lintas negara dan memperluas pemahaman mengenai perbedaan budaya, pemikiran, serta peradaban.

 

Keterlibatan Al Fatih dalam forum intelektual dan kebudayaan berlanjut pada Kamis malam, 24 September 2026, melalui kegiatan Tafsir Nadjibiyah bertema "Serambi Peradaban Nusantara-Persia". Acara yang diselenggarakan oleh Sekolah Negarawan bersama Rumah Maiyah dan kelompok musik Gamelan KiaiKanjeng tersebut berlangsung di Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta.

 

Kegiatan itu dihadiri sekitar 150 jamaah Maiyah dan turut dihadiri oleh Dr. Yahya Jahangiri, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia. Sejumlah perwakilan Sekolah Negarawan yang hadir di antaranya Prayogi R. Saputra, Erick Karya, Rinto Setiyawan, Adil Amrullah, serta Yahya Al Fatih.

 

Berbagai pengalaman tersebut mencerminkan upaya Sekolah Negarawan dalam membangun pendidikan kepemimpinan sejak usia dini. Pemahaman mengenai kepemimpinan tidak hanya diberikan melalui teori di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, dialog, keteladanan, dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan yang memperluas wawasan.

 

"Tukul Winih-Winihku": Merawat Benih Pemimpin Masa Depan

Proses pendidikan yang dijalani Al Fatih selaras dengan harapan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai lahirnya generasi muda yang mampu membawa Indonesia menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, matang, bijaksana, dan bertanggung jawab.

 

Generasi penerus, dalam pandangan tersebut, tidak seharusnya dipersiapkan hanya untuk mengkritik atau menentang generasi sebelumnya. Lebih dari itu, mereka perlu dibentuk agar mampu menjadi pemimpin yang memiliki kualitas lebih baik, memahami persoalan bangsa, serta sanggup mengambil tanggung jawab demi kepentingan masyarakat luas.

 

Harapan tersebut tergambar dalam ungkapan Cak Nun, "Tukul winih-winihku," yang bermakna "Tumbuhlah benih-benihku."

 

Ungkapan ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk menanam, merawat, dan memberikan kesempatan kepada generasi muda agar dapat berkembang sesuai dengan potensi terbaiknya. Anak-anak bukan hanya perlu dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga harus memiliki landasan moral, kedisiplinan, kemampuan berpikir, serta kesiapan menghadapi berbagai perubahan zaman.

 

Dalam pemikiran Cak Nun mengenai pendidikan anak, terdapat empat bekal penting yang perlu diperkuat sejak dini, yakni akhlak, disiplin, kemampuan berhitung atau memperhitungkan, serta penguasaan teknologi informasi.

 

Akhlak menjadi dasar utama dalam membangun pribadi yang memiliki arah dan tanggung jawab. Kecerdasan intelektual perlu diimbangi dengan nilai moral agar ilmu dan kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk kebaikan.

 

Disiplin merupakan unsur penting dalam membentuk karakter yang tangguh. Melalui kedisiplinan, anak-anak belajar menghargai waktu, menaati tanggung jawab, mengendalikan diri, serta konsisten dalam menjalankan berbagai kewajiban.

 

Kemampuan berhitung dan memperhitungkan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan matematika, tetapi juga kecakapan dalam menganalisis situasi, mempertimbangkan risiko, memahami konsekuensi, dan mengambil keputusan secara bijaksana.

 

Sementara itu, penguasaan teknologi informasi menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan dunia yang semakin dinamis. Generasi muda diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga mampu memahami, mengembangkan, dan memanfaatkannya untuk menciptakan solusi bagi berbagai persoalan.

 

Keempat bekal tersebut menjadi landasan penting dalam membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara moral, sosial, dan intelektual.

 

Prestasi sebagai Awal Perjalanan yang Lebih Panjang

Keberhasilan Yahya Al Fatih meraih Juara 1 Juara Kelas Indonesia 2026 tingkat Regional 6 merupakan salah satu wujud dari proses belajar dan pengembangan diri yang telah dijalaninya. Namun, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tantangan yang lebih besar.

 

Pada 22–31 Oktober 2026 mendatang, Al Fatih akan membawa nama Regional 6 untuk berkompetisi dalam Ajang Juara Kelas Indonesia tingkat Nasional di Jakarta. Ia akan berhadapan dengan para peserta terbaik dari berbagai regional di Indonesia.

 

Keikutsertaan dalam kompetisi nasional ini diharapkan menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas pergaulan, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun mental yang tangguh dalam menghadapi persaingan.

 

Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, pengalaman tersebut diharapkan mampu membentuk sikap sportif, ketekunan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk terus belajar dari setiap proses yang dijalani.

 

Bagi Sekolah Negarawan, pendidikan calon pemimpin tidak seharusnya baru dimulai ketika seseorang telah dewasa atau mulai memasuki lingkungan kekuasaan. Proses tersebut justru perlu dibangun sejak masa kanak-kanak, ketika nilai-nilai dasar seperti kejujuran, akhlak, tanggung jawab, disiplin, keberanian menyampaikan pendapat, dan kemampuan berpikir kritis mulai ditanamkan.

 

Pendidikan kepemimpinan merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan, pendampingan, keteladanan, serta kesempatan untuk memperoleh pengalaman secara langsung. Setiap proses pembelajaran menjadi bagian dari pembentukan pribadi yang kelak diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

 

Oleh karena itu, prestasi yang diraih Al Fatih patut disyukuri dan diapresiasi. Pada saat yang sama, keberhasilan ini diharapkan menjadi motivasi baginya untuk terus mengembangkan diri, menjaga akhlak, memperkuat kedisiplinan, memperluas pengetahuan, dan senantiasa bersikap rendah hati.

 

Pencapaian tersebut juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia lainnya bahwa semangat untuk berprestasi, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada bangsa dapat dimulai sejak usia dini.

 

Menyiapkan Generasi yang Lebih Baik untuk Indonesia

Masa depan bangsa tidak hanya bergantung pada kualitas para pemimpin yang menjalankan pemerintahan saat ini, tetapi juga pada bagaimana generasi berikutnya dipersiapkan. Anak-anak yang memperoleh pendidikan, keteladanan, dan pengalaman yang tepat sejak dini memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

 

Dalam konteks inilah, perjalanan Yahya Al Fatih bersama Sekolah Negarawan menjadi bagian dari ikhtiar menumbuhkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan, moralitas, keberanian, dan tanggung jawab.

 

Harapan besarnya bukan semata-mata melahirkan anak-anak yang berhasil meraih prestasi akademik atau memenangkan berbagai kompetisi, melainkan membentuk manusia yang mampu menggunakan ilmu pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan manfaat bagi sesama.

 

Generasi yang diharapkan adalah mereka yang cerdas tanpa meninggalkan akhlak, berani tanpa kehilangan kebijaksanaan, memiliki kekuatan tanpa mengabaikan kasih sayang, serta mampu memikul tanggung jawab ketika bangsa dan negara membutuhkan peran mereka.

 

Bagi Al Fatih, perjalanan menuju kompetisi nasional di Jakarta merupakan salah satu kesempatan untuk terus bertumbuh dan menempa diri. Apa pun hasil yang akan diraih, pengalaman, proses belajar, dan nilai-nilai yang diperoleh diharapkan menjadi bekal penting bagi perjalanan hidupnya pada masa mendatang.

 

Semangat "Tukul winih-winihku" menjadi pengingat bahwa setiap generasi merupakan benih masa depan yang perlu dirawat dengan kesungguhan, kesabaran, dan keteladanan.

 

Tumbuhlah benih-benih Indonesia. Tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, berdisiplin, berwawasan luas, serta memiliki keberanian dan kebijaksanaan untuk mengemban amanah demi masa depan bangsa yang lebih baik.