Berita

Sekolah Negarawan Perkuat Jejaring Akademik melalui FGD di Universitas Baqir Al Olum
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Perkuat Jejaring Akademik melalui FGD di Universitas Baqir Al Olum

 

QOM, IRAN — Upaya memperluas jejaring akademik dan pertukaran gagasan menjadi bagian penting dalam kunjungan Sekolah Negarawan ke Iran. Salah satu agenda yang berlangsung di Qom adalah Forum Group Discussion atau FGD bersama para akademisi Universitas Baqir Al Olum. Forum tersebut mempertemukan Tim Sekolah Negarawan dengan kalangan akademisi dalam suasana dialog yang hangat, terbuka, dan saling bertukar perspektif.

Dalam forum tersebut, Tim Sekolah Negarawan mempresentasikan sejumlah karya dan gagasan yang selama ini dikembangkan melalui berbagai program dan kajian. Presentasi tersebut kemudian mendapatkan respons dari para akademisi Universitas Baqir Al Olum melalui pandangan, pertanyaan, serta perspektif akademik terhadap gagasan yang disampaikan. Pertemuan ini tidak ditempatkan sekadar sebagai sesi presentasi, melainkan sebagai ruang untuk saling menguji gagasan dan memperkaya perspektif antara dua lingkungan akademik yang memiliki latar belakang tradisi intelektual berbeda.

Mempertemukan Dua Tradisi Intelektual

Universitas Baqir Al Olum merupakan salah satu institusi pendidikan tinggi yang berkembang di Qom dengan perhatian pada kajian keislaman, ilmu sosial, humaniora, serta isu-isu kontemporer. Pertemuan dengan akademisi Baqir Al Olum menjadi kesempatan bagi Sekolah Negarawan untuk memperkenalkan gagasan dan karya yang dikembangkan dari konteks Indonesia. Dalam presentasinya, Tim Sekolah Negarawan tidak hanya memperkenalkan institusi, tetapi juga memaparkan karya-karya yang menjadi bagian dari upaya membangun tradisi pemikiran dan pendidikan kepemimpinan.

Gagasan tersebut kemudian mendapat respons dari para akademisi. Pertanyaan dan tanggapan yang muncul menunjukkan adanya ruang yang luas untuk mempertemukan pengalaman Indonesia dan Iran dalam membaca persoalan masyarakat, pendidikan, kebudayaan, serta masa depan kepemimpinan. Perbedaan latar belakang kedua pihak justru memberikan kesempatan untuk melihat persoalan yang sama melalui perspektif yang berbeda.

Dari Presentasi Menuju Dialog

Salah satu kekuatan FGD tersebut terletak pada format dialogis yang berkembang setelah sesi presentasi. Para akademisi Baqir Al Olum memberikan tanggapan terhadap sejumlah gagasan yang dipresentasikan Tim Sekolah Negarawan. Beberapa respons diarahkan pada aspek konseptual, sementara lainnya berkembang menjadi diskusi mengenai konteks sosial dan pengalaman masing-masing negara.

Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka. Perbedaan perspektif tidak menjadi hambatan, tetapi justru menjadi bagian dari dinamika akademik. Pertanyaan dan tanggapan yang muncul membuka kesempatan bagi masing-masing pihak untuk melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi penting karena sebuah gagasan tidak cukup hanya dipresentasikan dan diterima. Gagasan justru menjadi lebih kuat ketika berani diuji melalui dialog. Melalui proses tersebut, sebuah pemikiran dapat memperoleh masukan, dikembangkan, dan dipertajam berdasarkan pengalaman serta perspektif yang lebih beragam.

Indonesia dan Iran dalam Ruang Pertukaran Pengetahuan

FGD tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan pengalaman Indonesia kepada akademisi di Iran. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki pengalaman tersendiri dalam mengelola keberagaman, pendidikan Islam, masyarakat sipil, demokrasi, serta hubungan antara agama dan kehidupan publik. Sementara itu, Iran memiliki tradisi intelektual Islam yang panjang dengan karakter dan pengalaman sejarah yang berbeda.

Pertemuan keduanya memberikan ruang bagi pertukaran pengetahuan yang tidak bersifat satu arah. Sekolah Negarawan hadir bukan hanya untuk belajar dari Iran, tetapi juga membawa pengalaman Indonesia untuk didiskusikan bersama para akademisi. Dengan demikian, forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman yang memungkinkan kedua pihak saling belajar.

Dalam konteks hubungan antarnegara, pendekatan semacam ini memiliki nilai penting. Pertukaran akademik tidak hanya membangun pengetahuan, tetapi juga membangun hubungan antarmanusia di antara komunitas intelektual kedua negara. Hubungan yang terbentuk melalui dialog dan pertukaran pengalaman dapat menjadi dasar bagi interaksi akademik yang lebih luas pada masa mendatang.

Mencari Titik Temu di Tengah Perbedaan

Salah satu hal yang menarik dari diskusi tersebut adalah bagaimana perbedaan latar belakang dapat menjadi sumber pengetahuan baru. Tradisi akademik Indonesia dan Iran memiliki sejarah dan karakter masing-masing. Namun, keduanya memiliki perhatian terhadap sejumlah persoalan mendasar seperti bagaimana pendidikan membentuk manusia, bagaimana pengetahuan berkontribusi bagi masyarakat, serta bagaimana generasi muda dipersiapkan menghadapi perubahan zaman.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat dialog berkembang melampaui batas-batas geografis. Di satu sisi, Sekolah Negarawan membawa perspektif Indonesia. Di sisi lain, akademisi Baqir Al Olum memberikan perspektif yang lahir dari tradisi intelektual Qom. Pertemuan tersebut akhirnya menjadi ruang pertukaran gagasan, tempat berbagai perspektif dipertemukan dan diuji melalui diskusi.

Perbedaan tidak selalu harus menghasilkan jarak. Dalam lingkungan akademik, perbedaan justru dapat menjadi sumber pembelajaran apabila setiap pihak memiliki kesediaan untuk mendengarkan. FGD tersebut memperlihatkan bahwa dialog dapat menjadi sarana untuk menemukan titik temu tanpa harus menghilangkan karakter masing-masing tradisi intelektual.

Memperkuat Jejaring Akademik

Bagi Sekolah Negarawan, FGD bersama akademisi Universitas Baqir Al Olum juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring kerja sama internasional. Pertemuan akademik seperti ini dapat menjadi pintu bagi berbagai kemungkinan ke depan, mulai dari pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, publikasi, diskusi akademik, hingga pengembangan program pendidikan. Hubungan yang dibangun melalui pertemuan semacam ini dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Namun, lebih dari sekadar membangun kerja sama kelembagaan, pertemuan tersebut menunjukkan pentingnya membangun hubungan antarmanusia dan antarkomunitas intelektual. Kerja sama yang berkelanjutan sering kali bermula dari hal sederhana, yaitu duduk bersama, memperkenalkan gagasan, lalu bersedia mendengarkan pandangan orang lain. Dari proses tersebut dapat tumbuh rasa saling memahami yang menjadi dasar bagi hubungan akademik jangka panjang.

Sekolah Negarawan Belajar dengan Cara Berdialog

Kunjungan Sekolah Negarawan ke Iran dirancang bukan sekadar sebagai perjalanan untuk melihat institusi dan tempat-tempat penting. Salah satu tujuan utamanya adalah memahami bagaimana pengalaman negara lain dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan kepemimpinan dan pemikiran di Indonesia. FGD bersama Universitas Baqir Al Olum menjadi salah satu bentuk nyata dari pendekatan tersebut.

Tim Sekolah Negarawan mempresentasikan karya-karyanya, kemudian membuka ruang bagi para akademisi untuk memberikan respons. Diskusi berlangsung hangat, kritis, dan menarik dengan berbagai pertanyaan serta tanggapan yang memperkaya pembahasan. Forum tersebut menunjukkan bahwa pertemuan akademik dapat menjadi ruang yang produktif ketika setiap pihak memiliki kesempatan untuk berbicara sekaligus mendengarkan.

Dari forum tersebut muncul satu pesan penting bahwa pengetahuan berkembang bukan ketika kita hanya berbicara, tetapi ketika kita bersedia mendengarkan dan menguji gagasan bersama. Pertemuan antara Sekolah Negarawan dan akademisi Universitas Baqir Al Olum di Qom pun menjadi bagian dari perjalanan membangun jembatan intelektual antara Indonesia dan Iran. Jembatan tersebut dibangun melalui dialog, karya, pertukaran pengalaman, dan kesediaan untuk terus belajar dari perspektif yang berbeda.