Berita

Dari Rak Kitab ke Layar Digital, Sekolah Negarawan Belajar dari An Noor di Qom
Berita Terbaru

Dari Rak Kitab ke Layar Digital, Sekolah Negarawan Belajar dari An Noor di Qom

QOM, IRAN — Perkembangan teknologi digital tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi dan bekerja, tetapi juga membuka jalan baru dalam menjaga dan menyebarluaskan warisan intelektual keislaman. Fenomena tersebut menjadi salah satu perhatian Tim Sekolah Negarawan dalam kunjungannya ke An Noor Software di Qom, Iran. Kunjungan ini memberikan kesempatan kepada tim untuk melihat secara langsung bagaimana teknologi digunakan untuk mendokumentasikan, mengelola, dan menghadirkan kembali khazanah keilmuan Islam dalam bentuk digital sehingga dapat diakses melalui berbagai perangkat.

An Noor yang dikenal sebagai Computer Research Center of Islamic Sciences atau CRCIS merupakan lembaga yang mengembangkan perangkat lunak dan sumber daya digital untuk penelitian ilmu-ilmu Islam. Lembaga ini telah menghasilkan berbagai perangkat lunak yang memuat teks-teks Al-Qur’an, hadis, fikih, tafsir, filsafat, teologi, sejarah, biografi, hingga berbagai cabang keilmuan Islam. Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperluas akses terhadap sumber-sumber keilmuan yang sebelumnya hanya tersedia dalam bentuk fisik.

Dari Kitab Fisik Menuju Perpustakaan Digital

Salah satu hal yang menarik dari An Noor adalah cara lembaga tersebut memandang teknologi bukan sekadar sebagai perangkat teknis, tetapi sebagai instrumen untuk memperluas akses terhadap pengetahuan. Buku-buku yang selama berabad-abad tersimpan dalam bentuk manuskrip maupun cetakan kemudian diproses dan dikembangkan menjadi sumber digital yang dapat dicari, ditelusuri, dan dipelajari menggunakan teknologi komputer. Proses tersebut membuat literatur yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang untuk ditelusuri menjadi lebih mudah diakses oleh peneliti, mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Produk-produk An Noor mencakup koleksi yang sangat luas. Platform NoorLib, misalnya, menyediakan puluhan ribu judul buku dalam bidang ilmu-ilmu Islam dan humaniora, lengkap dengan kemampuan pencarian digital. Sementara itu, NoorMags dikembangkan sebagai basis data jurnal khusus untuk ilmu-ilmu Islam dan humaniora.

Transformasi tersebut mengubah cara seorang peneliti berinteraksi dengan literatur. Jika sebelumnya seorang peneliti harus membuka puluhan atau bahkan ratusan kitab untuk menemukan sebuah istilah atau pembahasan tertentu, teknologi memungkinkan pencarian dilakukan secara lebih cepat melalui sistem digital. Dengan demikian, digitalisasi bukan sekadar memindahkan buku dari rak ke layar, tetapi juga mengubah cara manusia menemukan dan mengelola pengetahuan.

Khazanah Syiah dan Sunni dalam Ruang Digital

Hal lain yang menarik dari kerja An Noor adalah luasnya cakupan literatur yang didigitalisasi. Sebagai lembaga yang berkembang di lingkungan keilmuan Islam Iran, An Noor memiliki koleksi besar literatur Syiah, termasuk karya-karya dalam bidang hadis, fikih, teologi, sejarah, tafsir, dan kajian Imamah. Namun, ekosistem digitalnya juga memuat dan mengolah berbagai karya keislaman yang lebih luas.

Katalog perangkat lunak An Noor mencakup berbagai tema seperti Al-Qur’an dan tafsir, hadis, fikih, filsafat, tasawuf, sejarah, sastra, biografi, dan humaniora. Beberapa koleksinya juga memuat karya-karya ulama dari berbagai periode dan tradisi keilmuan Islam. Hal tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi khazanah Islam dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai tradisi intelektual yang berkembang sepanjang sejarah.

Bagi Tim Sekolah Negarawan, keberagaman tersebut memberikan pelajaran penting dalam membangun budaya membaca sumber. Di tengah perbedaan pemikiran keagamaan, perpustakaan digital dapat menjadi ruang yang mendorong masyarakat untuk membaca karya secara langsung sebelum memberikan penilaian terhadap suatu pemikiran. Dengan cara tersebut, teknologi dapat membantu memperluas wawasan dan memperkaya tradisi dialog keilmuan.

Pengetahuan Islam Memasuki Era Multi-Device

An Noor juga mengembangkan berbagai platform yang memungkinkan sumber keilmuan Islam diakses melalui perangkat digital. Sumber-sumber tersebut tidak lagi terbatas pada komputer desktop, tetapi dikembangkan dalam bentuk layanan web maupun aplikasi untuk berbagai perangkat. Salah satu contohnya adalah NoorLib yang menyediakan akses terhadap koleksi buku digital.

Ada pula AbreNoor yang dirancang sebagai layanan untuk mengakses perangkat lunak Noor secara daring tanpa harus melakukan instalasi pada perangkat pengguna. Perkembangan aplikasi juga terus berlangsung dengan tersedianya berbagai aplikasi untuk perangkat mobile, termasuk aplikasi Al-Qur’an dan aplikasi untuk membaca literatur Islam. Pendekatan tersebut membuat perpustakaan dapat hadir di berbagai tempat dan mengikuti kebiasaan belajar masyarakat modern.

Dengan pendekatan tersebut, perpustakaan tidak lagi harus berada dalam satu ruangan. Perpustakaan dapat berada di dalam telepon genggam seorang mahasiswa, laptop seorang peneliti, atau perangkat digital seorang guru. Perubahan ini membuat akses terhadap sumber keilmuan menjadi lebih fleksibel dan memungkinkan proses belajar berlangsung tanpa terlalu dibatasi ruang dan waktu.

Menjaga Khazanah Agar Tidak Hilang di Tengah Perubahan Zaman

Digitalisasi juga memiliki dimensi pelestarian. Kitab-kitab lama menghadapi persoalan usia, kerusakan fisik, keterbatasan jumlah eksemplar, dan keterbatasan akses geografis. Ketika sebuah karya telah tersedia dalam format digital, akses terhadap isinya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada keberadaan satu eksemplar fisik.

Sejumlah penelitian akademik juga telah menggunakan koleksi Noor Software sebagai basis pencarian terhadap literatur Islam dan pengobatan tradisional Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya berguna untuk penyimpanan, tetapi juga telah menjadi instrumen yang mendukung kegiatan penelitian di berbagai bidang. Keberadaan koleksi digital membuat sumber-sumber lama dapat terus dimanfaatkan untuk kebutuhan akademik generasi berikutnya.

Di sinilah teknologi memperoleh fungsi kebudayaannya. Teknologi bukan hanya menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga dapat digunakan untuk menyelamatkan sesuatu yang lama agar tetap hidup dalam zaman baru. Digitalisasi pada akhirnya menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa warisan intelektual tidak terputus hanya karena perubahan bentuk dan teknologi.

Membangun Pusat Keilmuan yang Jujur

Dalam kunjungan tersebut, salah satu gagasan yang menarik perhatian Tim Sekolah Negarawan adalah semangat untuk menjadikan An Noor sebagai pusat keilmuan yang berpegang pada integritas akademik. Gagasan tersebut sejalan dengan pesan yang diwariskan Imam Khomeini mengenai pentingnya ilmu dan pusat-pusat keilmuan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dalam konteks digital, semangat tersebut memperoleh tantangan baru seiring dengan semakin cepatnya produksi dan penyebaran informasi.

Ketika informasi dapat diproduksi dan disebarkan dalam hitungan detik, persoalan terbesar bukan lagi sekadar ketersediaan informasi, tetapi kejujuran terhadap sumber informasi. Sebuah pusat keilmuan digital harus mampu membedakan antara sumber primer dan opini, antara teks asli dan interpretasi, serta antara pengetahuan dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, pengelolaan sumber digital membutuhkan standar akademik yang kuat.

Digitalisasi khazanah Islam memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar membuat buku tersedia secara daring. Sumber-sumber tersebut harus dapat ditelusuri, dibandingkan, dan dipelajari secara bertanggung jawab. Dengan demikian, teknologi tidak hanya mempercepat akses terhadap informasi, tetapi juga membantu membangun budaya penelitian yang lebih tertib dan dapat dipertanggungjawabkan.

Teknologi sebagai Alat untuk Memperluas Tradisi Ilmu

Kunjungan Sekolah Negarawan ke An Noor memberikan satu pelajaran penting tentang bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem pengetahuan. Iran memiliki tradisi panjang dalam pengembangan pusat-pusat keilmuan Islam, sementara Qom menjadi salah satu pusat utama tradisi tersebut. Namun, tradisi tersebut tidak dibiarkan hanya hidup dalam ruang madrasah dan perpustakaan konvensional, melainkan dibawa memasuki dunia digital.

Kitab menjadi database dan perpustakaan menjadi platform yang dapat diakses melalui perangkat digital. Pencarian kitab berkembang menjadi sistem pencarian yang mampu menemukan informasi dengan lebih cepat dan terstruktur. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas tradisi ilmu tanpa harus menghilangkan akar intelektual yang telah berkembang sebelumnya.

Dalam konteks tersebut, An Noor memperlihatkan sebuah pendekatan yang menarik. Modernisasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi, karena teknologi justru dapat digunakan untuk membuat tradisi intelektual tetap hidup. Perpaduan antara warisan keilmuan dan teknologi digital dapat menciptakan ruang baru bagi pembelajaran, penelitian, dan pengembangan pengetahuan.

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi Tim Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut juga membuka pertanyaan yang relevan bagi Indonesia. Indonesia memiliki khazanah Islam yang sangat besar, mulai dari kitab-kitab pesantren, manuskrip ulama Nusantara, karya intelektual organisasi Islam, arsip pesantren, manuskrip Melayu-Jawi, hingga koleksi perpustakaan dan lembaga pendidikan Islam. Sebagian di antaranya masih tersimpan dalam bentuk fisik dan belum terdigitalisasi secara sistematis.

Pengalaman An Noor menunjukkan bahwa digitalisasi dapat menjadi bagian dari strategi kebudayaan dan pembangunan pengetahuan. Tujuannya bukan hanya menyimpan buku dalam format digital, tetapi juga membangun ekosistem pengetahuan yang dapat digunakan oleh generasi berikutnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, proses digitalisasi perlu disertai pengelolaan metadata, sistem pencarian, preservasi, serta standar pengelolaan sumber yang baik.

Jika khazanah tersebut berhasil didigitalisasi dengan standar yang baik, generasi muda tidak harus kehilangan hubungan dengan warisan intelektual masa lalu hanya karena format pengetahuannya tidak lagi sesuai dengan kebiasaan mereka. Mereka dapat menemukan kitab-kitab tersebut melalui perangkat yang digunakan sehari-hari. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi baru dengan warisan keilmuan yang telah dibangun selama berabad-abad.

Dari Qom Menuju Masa Depan Ilmu

Kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke An Noor Software pada akhirnya memperlihatkan sebuah pertemuan menarik antara tradisi dan teknologi. Qom dikenal sebagai kota dengan tradisi keilmuan Islam yang sangat tua, tetapi di tengah kota tersebut berkembang sebuah lembaga yang menggunakan teknologi modern untuk menjaga tradisi tersebut tetap hidup. Kitab klasik bertemu teknologi digital, tradisi bertemu inovasi, dan warisan intelektual bertemu generasi baru.

Bagi Sekolah Negarawan, An Noor memberikan sebuah pesan sederhana namun penting bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki warisan ilmu yang besar. Bangsa juga harus memiliki kemampuan untuk menjaga, mengorganisasi, mengembangkan, dan menyebarkan warisan tersebut secara jujur dan terbuka. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika perubahan teknologi berlangsung begitu cepat.

Sebab pada akhirnya, khazanah keilmuan hanya akan benar-benar menjadi warisan apabila generasi berikutnya masih dapat menemukannya, membacanya, mengkritisinya, dan mengembangkannya. Di Qom, upaya tersebut sedang dibawa dari rak-rak kitab menuju dunia digital. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan bersama dengan upaya menjaga warisan ilmu agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.