Berita

Sekolah Negarawan Tangkap Makna Persatuan yang Tumbuh dari Keberagaman di Teheran
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Tangkap Makna Persatuan yang Tumbuh dari Keberagaman di Teheran

TEHERAN — Persatuan tidak selalu berarti memiliki kesamaan dalam segala hal. Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan penting yang disimak delegasi Sekolah Negarawan saat menghadiri acara Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall, Teheran, Iran, Sabtu, 29 Agustus 2026. Forum yang memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ tersebut menghadirkan pesan tentang pentingnya membangun hubungan bersama di tengah keberagaman.

Acara Riwayat-e Rahmat dihadiri oleh berbagai tokoh Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi. Delegasi Sekolah Negarawan turut hadir dalam forum tersebut sebagai bagian dari rangkaian kunjungan ke Iran. Delegasi terdiri atas Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf.

Dalam pidatonya, Araghchi menyampaikan bahwa persatuan dunia Islam merupakan nilai penting yang harus terus diperkuat. Namun, ia memberikan pemahaman bahwa persatuan tidak berarti seluruh negara dan masyarakat harus memiliki bentuk, pandangan, maupun langkah yang sama. Menurutnya, perbedaan merupakan bagian dari kenyataan yang harus dikelola dengan cara menempatkan tujuan bersama sebagai prioritas utama.

Pesan tersebut menjadi perhatian bagi Sekolah Negarawan karena memiliki hubungan erat dengan nilai kepemimpinan. Seorang negarawan tidak hanya dituntut memahami adanya perbedaan, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk merawat perbedaan agar tidak berubah menjadi sumber perpecahan. Kepemimpinan yang matang membutuhkan kemampuan mendengar berbagai pandangan dan menemukan ruang bersama yang dapat memperkuat hubungan masyarakat.

Dalam konteks dunia Islam, keberagaman menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang panjang. Setiap negara memiliki budaya, tradisi, pengalaman, serta karakter masyarakat yang berbeda. Araghchi menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak harus menjadi penghalang untuk membangun hubungan yang lebih kuat, melainkan dapat menjadi dasar untuk menciptakan kerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Araghchi menyebut Saudi Arabia, Mesir, Turki, Pakistan, dan negara-negara lainnya sebagai bagian dari keluarga besar dunia Islam. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa persatuan dapat dibangun melalui penghormatan terhadap keberagaman yang ada. Persatuan bukan tentang menghilangkan identitas masing-masing, tetapi tentang kemampuan menemukan titik temu yang memberikan manfaat lebih luas.

Bagi delegasi Sekolah Negarawan, kehadiran dalam Riwayat-e Rahmat memberikan pengalaman mengenai hubungan antara kepemimpinan, kebudayaan, dan kehidupan bersama. Forum tersebut memperlihatkan bahwa pesan persatuan dapat hadir melalui berbagai ruang, mulai dari pertemuan tokoh, kegiatan kebudayaan, seni, musik, hingga peringatan keagamaan. Nilai kebersamaan dapat tumbuh melalui berbagai bentuk interaksi yang membangun rasa saling memahami.

Acara yang berlangsung di Vahdat Hall juga memberikan pengalaman tersendiri bagi delegasi Sekolah Negarawan. Tempat tersebut dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan seni dan budaya penting di Teheran yang menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi masyarakat. Dalam suasana tersebut, pesan persatuan tidak hanya disampaikan melalui pidato, tetapi juga hadir sebagai bagian dari narasi kebudayaan yang menghubungkan banyak pihak.

Sekolah Negarawan melihat bahwa pesan dari Vahdat Hall memiliki makna penting bagi pendidikan kepemimpinan. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola pembangunan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan dan menjaga hubungan harmonis di tengah perbedaan. Seorang pemimpin harus mampu melihat keberagaman sebagai kekuatan yang dapat memperkuat kehidupan bersama.

Pesan Araghchi menjadi refleksi bahwa persatuan membutuhkan kemampuan untuk melihat kepentingan yang lebih besar daripada perbedaan yang ada. Di tengah dunia yang semakin terhubung, kemampuan membangun dialog dan saling menghormati menjadi bagian penting dalam menciptakan hubungan yang lebih baik. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman dari Riwayat-e Rahmat memperkuat pemahaman bahwa kenegarawanan adalah kemampuan menghadirkan jembatan di tengah keberagaman.

Dari Teheran, delegasi Sekolah Negarawan membawa pelajaran bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tetapi kesempatan untuk membangun kerja sama yang lebih kuat. Persatuan yang kokoh lahir ketika setiap pihak mampu menghargai identitas masing-masing dan bergerak menuju tujuan bersama. Nilai tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disimak dalam forum Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall.