TEHERAN — Kepemimpinan yang mampu bertahan dalam ingatan sejarah tidak selalu ditentukan oleh besarnya kewenangan yang dimiliki. Pertanyaan tersebut menjadi salah satu refleksi delegasi Sekolah Negarawan ketika mengikuti pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei dalam Gala Dinner konferensi di Teheran. Dari pembahasan tersebut, terlihat bahwa kepemimpinan juga berkaitan dengan ilmu, keteladanan, visi, serta kemampuan membaca perubahan zaman.
Tiga unsur yang menonjol dalam paparan mengenai kedua tokoh tersebut adalah ilmu, keteladanan, dan kemampuan memahami sejarah. Ketiga unsur tersebut memperlihatkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kewenangan untuk menentukan arah. Pemimpin juga membutuhkan kualitas pribadi, keluasan wawasan, serta kemampuan menerjemahkan berbagai persoalan menjadi arah yang dapat dipahami dan diikuti masyarakat.
Imam Khomeini dalam paparan tersebut digambarkan sebagai ulama yang memiliki basis keilmuan agama sekaligus perhatian terhadap persoalan sosial masyarakat. Ilmu dalam konteks tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan yang berada dalam ruang pemikiran. Ilmu perlu diterjemahkan menjadi kemampuan memahami keadaan, membaca persoalan masyarakat, serta menentukan langkah yang dinilai membawa manfaat.
Perspektif mengenai ilmu kemudian dikaitkan dengan kepemimpinan Imam Ali Khamenei. Seorang pemimpin menghadapi perubahan lingkungan yang terus berlangsung, termasuk perkembangan teknologi, perubahan hubungan antarbangsa, serta kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Kemampuan memahami kewenangan harus berjalan bersama kemampuan membaca perubahan agar kepemimpinan tetap memiliki relevansi dalam menghadapi tantangan baru.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman dari negara lain perlu dipelajari secara objektif dengan memahami konteks sejarah dan kebudayaannya. Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, memandang bahwa setiap pengalaman kenegaraan memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak dapat dilepaskan dari kondisi yang membentuknya. Karena itu, pembahasan mengenai kepemimpinan di Iran ditempatkan sebagai bahan pembelajaran untuk memahami bagaimana sebuah model kepemimpinan tumbuh dan diwariskan.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mengikuti berbagai diskusi serta pertemuan selama rangkaian kunjungan Sekolah Negarawan di Iran. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran langsung mengenai sejarah, kebudayaan, pendidikan, dan pengalaman kepemimpinan masyarakat Iran. Berbagai pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi delegasi untuk memahami hubungan antara perjalanan sebuah bangsa dengan cara masyarakat memandang kepemimpinan.
Salah satu aspek yang menarik perhatian dalam pembahasan tersebut adalah hubungan antara karakter pribadi pemimpin dan penerimaan masyarakat. Kesederhanaan serta kehidupan yang tidak berlebihan menjadi bagian dari gambaran mengenai keteladanan seorang pemimpin. Pesan yang muncul adalah bahwa kedudukan yang tinggi tidak seharusnya membuat seorang pemimpin semakin jauh dari kehidupan masyarakat.
Kepemimpinan juga membutuhkan visi yang melampaui penyelesaian persoalan sehari-hari. Pemimpin perlu memiliki kemampuan menjawab arah yang hendak dituju masyarakat, nilai yang ingin dipertahankan, serta cara menghadapi perubahan yang terus berkembang. Kemampuan tersebut membutuhkan pemahaman terhadap sejarah sekaligus keberanian mempersiapkan masa depan.
Pengalaman Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei kemudian menjadi bahan yang menarik untuk dikaji dalam pendidikan kenegarawanan. Model kepemimpinan Iran lahir dari sejarah, kebudayaan, dan sistem yang memiliki konteks tersendiri sehingga tidak dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Namun, nilai seperti integritas, penguasaan ilmu, kedekatan dengan masyarakat, kemampuan membaca sejarah, dan keberanian menentukan arah dapat menjadi bahan pembelajaran yang relevan lintas negara.
Dari pengalaman tersebut, Sekolah Negarawan melihat bahwa pengaruh seorang pemimpin tidak hanya dibangun melalui kewenangan. Pengaruh juga dapat tumbuh dari kualitas ilmu, karakter, keteladanan, visi, dan kemampuan memahami perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
Pembahasan mengenai Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei di Teheran pada akhirnya menjadi salah satu bagian dari proses pembelajaran delegasi Sekolah Negarawan selama berada di Iran. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan yang meninggalkan jejak dalam sejarah membutuhkan lebih dari sekadar jabatan. Ilmu yang diterapkan, keteladanan yang ditunjukkan, visi yang dibangun, serta kemampuan membaca zaman menjadi unsur penting yang membuat kepemimpinan memiliki makna bagi perjalanan sebuah masyarakat.