Berita

Sekolah Negarawan Melihat Kekuatan Sinema dalam Menyampaikan Pesan Kemanusiaan
Berita Terbaru

Sekolah Negarawan Melihat Kekuatan Sinema dalam Menyampaikan Pesan Kemanusiaan

 

TEHERAN — Kehadiran delegasi Sekolah Negarawan dalam acara Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall, Teheran, memberikan pengalaman mengenai bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang pertemuan antarbangsa. Salah satu pesan penting yang muncul dalam forum tersebut adalah bahwa sebuah karya seni mampu menjadi jembatan komunikasi yang melampaui batas wilayah, bahasa, dan latar belakang masyarakat. Hal itu terlihat melalui kisah sutradara Iran Majid Majidi dalam menghadirkan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ melalui karya sinema.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026 tersebut digelar untuk memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Delegasi Sekolah Negarawan yang hadir terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf. Kehadiran delegasi menjadi bagian dari pembelajaran mengenai kepemimpinan, kebudayaan, serta bagaimana sebuah bangsa menyampaikan nilai kepada dunia melalui berbagai bentuk karya.

Dalam forum tersebut, Majid Majidi membagikan perjalanan panjangnya dalam membuat film tentang Nabi Muhammad ﷺ. Ia menjelaskan bahwa gagasan tersebut bermula dari sebuah pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang kemudian mendorong dirinya untuk mendalami kehidupan Rasulullah ﷺ melalui pendekatan sinema. Proses tersebut menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan penelitian, pemahaman mendalam, dan kesungguhan selama bertahun-tahun.

Majidi menghabiskan sekitar tujuh tahun untuk menyelesaikan proses pembuatan film tersebut. Waktu panjang tersebut tidak hanya digunakan untuk mempersiapkan aspek produksi, tetapi juga untuk memahami bagaimana nilai kehidupan Nabi Muhammad ﷺ dapat diterjemahkan dalam bahasa visual yang dapat diterima masyarakat luas. Baginya, film tersebut bukan hanya karya seni, tetapi juga upaya menghadirkan pesan mengenai rahmat dan kemanusiaan.

Setelah film selesai dibuat, perjalanan Majidi masih berlanjut. Selama tiga hingga empat tahun berikutnya, ia memperkenalkan karya tersebut ke berbagai negara dan bertemu dengan banyak kalangan. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses membuka ruang dialog mengenai nilai yang ingin disampaikan melalui film.

Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun hubungan antarbangsa. Sebuah karya seni dapat menjadi sarana komunikasi yang mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang. Ketika sebuah karya membawa pesan yang kuat, nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh masyarakat yang memiliki pengalaman dan budaya berbeda.

Majidi juga menyampaikan bahwa salah satu tujuan dari film tersebut adalah menghadirkan pemahaman mengenai Islam melalui nilai rahmat, keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap manusia. Menurutnya, karya seni dapat membantu menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai sebuah nilai dan sejarah kepada masyarakat yang belum mengenalnya secara mendalam.

Dalam perjalanan memperkenalkan film tersebut, Majidi melihat bahwa pesan mengenai kemanusiaan memiliki daya jangkau yang luas. Respons positif dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa nilai yang berkaitan dengan kasih sayang, penghormatan, dan kepedulian dapat diterima oleh banyak masyarakat tanpa dibatasi oleh latar belakang tertentu.

Pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya dilihat dari kemampuan material. Kemampuan memperkenalkan gagasan, kebudayaan, dan nilai yang dimiliki juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan dengan masyarakat dunia. Film, musik, sastra, dan berbagai bentuk karya budaya dapat menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman bersama.

Bagi pendidikan kenegarawanan, perjalanan Majidi memberikan pelajaran bahwa pengaruh tidak selalu dibangun melalui cara-cara formal. Sebuah karya yang dikerjakan dengan kesungguhan dapat menjadi sarana komunikasi yang mempertemukan banyak manusia. Sinema dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan, membangun pemahaman, dan memperluas hubungan antarmasyarakat.

Riwayat-e Rahmat di Vahdat Hall menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana agama, budaya, dan seni dapat bertemu dalam satu forum. Kisah perjalanan Majidi menunjukkan bahwa sebuah pesan besar membutuhkan proses panjang agar dapat diterima secara luas. Tujuh tahun pembuatan film dan perjalanan bertahun-tahun untuk memperkenalkannya menjadi bukti bahwa penyampaian nilai membutuhkan kesabaran dan komitmen.

Dari Teheran, delegasi Sekolah Negarawan membawa pelajaran bahwa kebudayaan dapat menjadi bahasa yang menghubungkan manusia. Sinema menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah karya dapat bergerak melampaui batas geografis dan menghadirkan pesan kemanusiaan kepada dunia. Melalui cerita dan nilai yang disampaikan, sebuah karya seni dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai masyarakat dalam ruang pemahaman bersama.