Sejarah versi penjajah kembali menjadi perbincangan dalam diskusi mengenai identitas dan masa depan Indonesia. Banyak kalangan menilai bangsa yang besar selalu mengenali akar peradabannya. Bangsa yang kuat memahami asal-usulnya. Bangsa yang maju menghormati jasa leluhurnya. Adapun bangsa yang percaya diri meyakini bahwa nenek moyangnya pernah memberi sumbangan penting bagi dunia. Namun kondisi berbeda terlihat di Indonesia. Banyak generasi muda lebih mengenal tokoh asing daripada tokoh Nusantara. Banyak pelajar lebih memahami sejarah bangsa lain daripada sejarah negerinya sendiri. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar. Apakah bangsa Indonesia telah kehilangan hubungan dengan akar peradabannya sendiri. Pertanyaan itu semakin relevan ketika sejarah versi penjajah masih mendominasi banyak cara pandang masyarakat. Akibatnya, kebanggaan terhadap masa lalu bangsa sering dianggap berlebihan. Sebaliknya, kekaguman terhadap peradaban luar sering dianggap lebih modern dan rasional.
Narasi Kolonial dan Pembentukan Cara Berpikir
Sejarah versi penjajah tidak selalu hadir melalui kekuatan militer. Pengaruh tersebut dapat bekerja melalui pendidikan dan cara berpikir. Dalam berbagai forum Maiyah, Cak Nun mengajak masyarakat mempelajari sejarah secara lebih kritis. Menurutnya, sejarah yang diwariskan tidak selalu bebas dari kepentingan kolonial. Cak Nun menilai sebagian narasi sejarah dapat membentuk rasa rendah diri bangsa. Ketika suatu bangsa diyakinkan bahwa leluhurnya tidak hebat, kepercayaan dirinya perlahan melemah. Ketika suatu bangsa diyakinkan bahwa kemajuan hanya datang dari luar, ketergantungan akan semakin besar. Dalam kondisi demikian, penjajahan tidak lagi berbentuk penguasaan wilayah. Penjajahan berubah menjadi penguasaan kesadaran. Dampaknya sering lebih panjang dibanding penjajahan fisik. Wilayah dapat direbut kembali. Namun kesadaran yang hilang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan.
Nusantara Bukan Wilayah Pinggiran Peradaban
Sejarah versi penjajah sering menempatkan Nusantara sebagai objek sejarah dunia. Padahal fakta menunjukkan Nusantara memiliki peran penting selama berabad-abad. Kawasan ini menjadi jalur perdagangan internasional. Nusantara menjadi pusat pelayaran yang menghubungkan berbagai kawasan dunia. Pertukaran budaya berlangsung secara aktif. Berbagai gagasan dan pengetahuan bertemu di wilayah ini. Namun banyak narasi sejarah lebih menonjolkan kisah penjajahan. Akibatnya, generasi penerus lebih mengenal masa kekalahan daripada masa kejayaan. Kesadaran sejarah menjadi tidak seimbang. Kebesaran masa lalu semakin terlupakan. Padahal bangsa yang tidak memahami keberhasilannya akan sulit membangun keberhasilan baru. Bangsa yang terus diajarkan merasa kecil akan kesulitan memiliki cita-cita besar.
Hilangnya Nilai Peradaban Nusantara
Sejarah versi penjajah juga dinilai berkontribusi terhadap melemahnya hubungan masyarakat dengan nilai peradaban lama. Dalam pandangan Cak Nun, penjajahan mengikis jiwa Brahmana dan Satria masyarakat Nusantara. Yang tersisa adalah orientasi berlebihan terhadap materi dan jabatan. Kehidupan modern semakin mengukur keberhasilan melalui kekayaan. Popularitas menjadi ukuran penting dalam kehidupan sosial. Jabatan sering dianggap tujuan utama perjuangan. Sementara itu, kemanfaatan bagi masyarakat semakin jarang menjadi pertimbangan utama. Kondisi tersebut membuat bangsa Indonesia perlahan menjauh dari akar budayanya. Nilai pengabdian semakin terpinggirkan. Nilai kebijaksanaan semakin berkurang. Serta nilai kemaslahatan bersama semakin sulit ditemukan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Sejarah Tidak Boleh Menjadi Hafalan Semata
Sejarah versi penjajah menjadi persoalan serius ketika masyarakat menerima seluruh narasi tanpa sikap kritis. Dan sejarah kemudian berubah menjadi kumpulan hafalan. Pelajar hanya mengingat tanggal dan nama tokoh. Pemahaman mengenai identitas bangsa menjadi sangat terbatas. Padahal fungsi sejarah jauh lebih besar. Sejarah membantu masyarakat memahami siapa dirinya. Adapun sejarah menjelaskan asal-usul perjalanan bangsa. Sejarah memberikan arah bagi masa depan. Ketika sejarah hanya menjadi hafalan, fungsi tersebut hilang. Masyarakat kehilangan kemampuan memahami akar persoalan bangsa. Generasi muda kehilangan hubungan dengan warisan peradaban yang dimiliki. Akibatnya, kesadaran kolektif menjadi lemah.
Pentingnya Meninjau Kembali Narasi Lama
Sejarah versi penjajah perlu dikaji kembali melalui pendekatan ilmiah dan kritis. Kajian ulang bukan berarti menolak seluruh catatan sejarah yang ada. Kajian ulang bertujuan mencari pemahaman yang lebih lengkap. Sejarah merupakan bidang ilmu yang selalu terbuka terhadap penelitian baru. Setiap sumber perlu diuji secara objektif. Setiap klaim perlu diperiksa berdasarkan bukti. Adapun setiap narasi perlu dibandingkan dengan sumber lain. Sikap ilmiah tersebut penting untuk menghindari kesalahan baru. Namun keberanian bertanya juga harus dijaga. Bangsa yang takut mempertanyakan sejarah akan sulit menemukan kebenaran yang lebih utuh. Karena itu penelitian sejarah harus terus didorong. Perguruan tinggi perlu mengambil peran lebih besar. Lembaga penelitian perlu memperluas kajian mengenai peradaban Nusantara.
Krisis Terbesar Adalah Hilangnya Kepercayaan Diri
Sejarah versi penjajah pada akhirnya berhubungan dengan kepercayaan diri bangsa. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah. Indonesia memiliki jumlah penduduk besar. Lalu Indonesia memiliki keragaman budaya yang kaya. Indonesia juga memiliki sejarah panjang peradaban. Namun seluruh potensi tersebut tidak akan maksimal tanpa kepercayaan diri nasional. Bangsa yang tidak percaya kepada dirinya akan selalu mencari pengakuan dari luar. Bangsa yang tidak mengenal kebesarannya akan sulit membangun masa depan besar. Dan bangsa yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah perjalanan. Karena itu persoalan sejarah bukan sekadar urusan masa lalu. Persoalan sejarah berkaitan langsung dengan masa depan bangsa.
Solusi: Mengembalikan Kesadaran Sejarah Bangsa
Sejarah versi penjajah harus dihadapi melalui langkah konkret dan berkelanjutan. Pertama, pendidikan sejarah perlu diperkuat secara kritis dan kontekstual. Siswa harus diajak memahami makna sejarah. Kedua, penelitian mengenai peradaban Nusantara perlu diperluas. Negara harus mendukung riset sejarah secara serius. Ketiga, sumber sejarah lokal perlu didokumentasikan dengan baik. Banyak warisan pengetahuan masih tersebar di berbagai daerah. Keempat, literasi sejarah masyarakat harus ditingkatkan. Diskusi publik mengenai sejarah perlu diperbanyak. Kelima, generasi muda perlu diperkenalkan pada tokoh dan peradaban Nusantara. Keenam, media harus memberikan ruang bagi kajian sejarah yang berimbang. Ketujuh, budaya kritis harus dikembangkan dalam dunia pendidikan. Kedelapan, bangsa Indonesia harus menghormati warisan leluhurnya secara proporsional. Kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Namun kebanggaan juga tidak boleh digantikan rasa rendah diri.
Menemukan Kembali Jati Diri Bangsa
Sejarah versi penjajah menjadi peringatan bahwa penjajahan dapat berlangsung melalui kesadaran manusia. Penjajahan fisik mungkin telah berakhir. Namun penjajahan cara berpikir dapat bertahan lebih lama. Karena itu tugas generasi sekarang tidak sekadar membaca sejarah. Generasi sekarang harus memahami sejarah secara mendalam. Mereka harus berani meneliti kembali berbagai narasi yang diwariskan. Mereka harus menghormati fakta dan bukti ilmiah. Pada saat yang sama, mereka harus berani menghargai kebesaran peradaban Nusantara. Tujuannya bukan membangun rasa paling unggul. Tujuannya adalah membangun kepercayaan diri yang sehat. Bangsa yang mengenali sejarahnya akan memahami jati dirinya. Bangsa yang memahami jati dirinya akan lebih siap menghadapi masa depan. Sebab bangsa yang terus dididik merasa kecil akan kesulitan melahirkan cita-cita besar. Sebaliknya, bangsa yang mengenal kebesarannya akan lebih percaya diri membangun peradaban baru.