ISFAHAN, IRAN — Perjalanan Sekolah Negarawan ke Universitas Islam Azad Isfahan (Khorasgan) memberikan pengalaman berbeda dalam memahami bagaimana Iran mempersiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi perkembangan teknologi. Setelah sebelumnya mempelajari berbagai aspek seperti tata kelola, hukum, peradaban, dan hubungan internasional, rombongan kali ini melihat langsung perkembangan talenta kecerdasan buatan melalui Artificial Intelligence Technology Olympiad (AITO) 2026.
Final AITO 2026 di Khorasgan mempertemukan lebih dari 100 tim dari berbagai wilayah Iran. Para peserta berkompetisi dalam tiga bidang utama, yaitu image processing, text processing, dan data processing. Kompetisi tersebut tidak hanya dirancang untuk mencari pemenang, tetapi juga menjadi sarana untuk menemukan talenta, membentuk tim, dan mempersiapkan peserta menghadapi berbagai tantangan teknologi pada tingkat yang lebih luas.
Bagi tim Sekolah Negarawan, penyelenggaraan AITO memberikan gambaran mengenai pentingnya membangun ekosistem talenta teknologi. Perkembangan kecerdasan buatan tidak lagi hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi telah berkaitan dengan pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Di arena kompetisi, peserta ditantang menyelesaikan berbagai persoalan dengan memanfaatkan kemampuan komputasi dan kecerdasan buatan. Sistem perlombaan juga menggunakan lingkungan yang terisolasi dari internet dan cloud API, sehingga peserta dituntut mengandalkan kemampuan teknis dan solusi yang mereka kembangkan sendiri.
Pendekatan tersebut memberikan pelajaran bahwa penguasaan teknologi membutuhkan proses pendidikan dan latihan yang berkelanjutan. Talenta tidak cukup hanya ditemukan, tetapi juga perlu diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan dan bekerja dalam lingkungan yang mendorong inovasi.
AITO menunjukkan bahwa kompetisi teknologi dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menentukan siapa yang terbaik. Kompetisi dapat menjadi instrumen untuk mengidentifikasi individu dan kelompok yang memiliki kemampuan khusus sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk terus berkembang.
Bagi Sekolah Negarawan, pola tersebut menarik untuk dilihat dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara mengembangkan dan menciptakan solusi baru.
Dalam konteks perubahan teknologi yang berlangsung cepat, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Pendidikan, riset, kompetisi, dan ekosistem inovasi perlu berjalan bersama agar sebuah negara memiliki sumber daya manusia yang mampu mengikuti sekaligus membentuk perkembangan teknologi.
Pengalaman di AITO juga memperluas cara Sekolah Negarawan melihat pembangunan sebuah negara. Kekuatan negara tidak hanya dibangun melalui institusi, kebijakan, dan sistem pendidikan, tetapi juga melalui kemampuan manusia dalam menguasai pengetahuan dan teknologi.
Kecerdasan buatan menjadi salah satu bidang yang akan semakin memengaruhi berbagai sektor kehidupan. Karena itu, kemampuan membangun talenta di bidang tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi masa depan.
Kunjungan ke AITO 2026 memperlihatkan bahwa Iran juga sedang membangun ruang bagi generasi mudanya untuk mengembangkan kemampuan teknologi. Kompetisi menjadi salah satu cara untuk mempertemukan pengetahuan, kreativitas, kemampuan teknis, dan kerja sama dalam satu ekosistem.
Bagi Sekolah Negarawan, kunjungan ke AITO menjadi bagian dari upaya memahami Iran secara lebih menyeluruh. Iran tidak hanya dapat dilihat melalui sejarah, kebudayaan, institusi, dan perjalanan masyarakatnya, tetapi juga melalui upayanya mempersiapkan generasi baru menghadapi perkembangan teknologi.
Dari ruang kompetisi AI di Khorasgan, muncul satu pelajaran penting bahwa pembangunan masa depan membutuhkan investasi pada manusia. Teknologi dapat terus berubah, tetapi kemampuan manusia untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan solusi akan tetap menjadi salah satu fondasi utama kemajuan sebuah negara.