ISFAHAN, IRAN — Memahami sebuah negara tidak hanya dapat dilakukan dengan melihat lembaga dan kebijakan yang berlaku, tetapi juga dengan mengenal bagaimana kelompok masyarakat yang berbeda menjalani kehidupan sehari hari. Perspektif tersebut menjadi salah satu pengalaman yang diperoleh tim Sekolah Negarawan ketika mengunjungi Vank Cathedral di kawasan New Julfa, Isfahan. Kunjungan ini memperlihatkan sisi lain Kota Isfahan yang selama ini lebih dikenal melalui masjid, madrasah, dan berbagai peninggalan peradaban Islam.
Di kawasan New Julfa, warisan sejarah tersebut berdampingan dengan tradisi Kristen Armenia yang telah menjadi bagian dari perjalanan Kota Isfahan selama berabad abad. Vank Cathedral menjadi salah satu penanda penting keberadaan komunitas Armenia di kota tersebut. Kompleksnya tidak hanya memiliki bangunan gereja, tetapi juga museum yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah dan memperlihatkan perpaduan unsur seni Armenia dengan lingkungan budaya Isfahan.
Kunjungan Sekolah Negarawan tidak hanya berfokus pada bangunan dan sejarah Vank Cathedral. Tim juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal kehidupan komunitas Armenia di Iran dari perspektif masyarakat yang menjalani kehidupan tersebut. Pembahasan mengenai komunitas minoritas menjadi salah satu bagian menarik karena berkaitan dengan bagaimana identitas keagamaan dan kebudayaan dipertahankan dalam kehidupan sehari hari.
Dalam konteks hukum Iran, Zoroastrian, Yahudi, dan Kristen disebut sebagai kelompok agama yang diakui. Pasal 13 Konstitusi Iran memberikan ruang kepada kelompok tersebut untuk menjalankan ritual keagamaan serta mengatur sejumlah urusan personal dan pendidikan keagamaan sesuai ketentuan hukum. Ketentuan tersebut menjadi salah satu dasar yang mengatur keberadaan komunitas agama tersebut dalam kehidupan masyarakat Iran.
Selain ruang untuk menjalankan kehidupan keagamaan, terdapat pula mekanisme representasi bagi kelompok agama yang diakui dalam parlemen Iran. Dari 290 kursi parlemen, lima kursi dialokasikan bagi kelompok agama tertentu yaitu satu untuk Zoroastrian, satu untuk Yahudi, satu untuk Assyrian Chaldean, serta dua untuk komunitas Armenia. Dua kursi untuk komunitas Armenia masing masing mewakili komunitas Armenia di wilayah utara dan selatan Iran.
Bagi tim Sekolah Negarawan, keberadaan mekanisme tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dipelajari. Representasi menunjukkan bahwa kehidupan sebuah kelompok masyarakat tidak hanya berkaitan dengan keberadaan rumah ibadah dan kegiatan komunitas, tetapi juga memiliki hubungan dengan ruang keterwakilan dalam kehidupan bernegara. Pengalaman tersebut memberikan bahan perbandingan mengenai bagaimana keberagaman masyarakat dapat dikelola melalui berbagai mekanisme.
Dalam pengalaman yang dibagikan kepada tim, kehidupan komunitas Armenia di Iran memiliki sejumlah ruang untuk mempertahankan identitas, menjalankan kegiatan keagamaan, dan membangun kehidupan sosial. Keberadaan rumah ibadah, komunitas, sekolah, serta representasi menjadi bagian dari ruang yang membantu masyarakat mempertahankan identitas mereka. Rasa aman juga menjadi salah satu hal yang disampaikan dalam pengalaman komunitas tersebut.
Namun, kehidupan kelompok minoritas di Iran juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Laporan pemerintah Inggris pada 2026 menyebut bahwa komunitas Kristen etnis yang diakui, termasuk Armenia, Assyrian, dan Chaldean, pada umumnya diperbolehkan menjalankan dan mengajarkan agama mereka meskipun terdapat sejumlah pembatasan. Laporan tersebut juga mencatat adanya perbedaan perlakuan hukum terhadap kelompok Kristen yang melakukan kegiatan konversi atau dakwah kepada masyarakat Muslim.
Dengan demikian, pengalaman komunitas Armenia yang ditemui tim Sekolah Negarawan menjadi salah satu bagian dari gambaran yang lebih luas mengenai kehidupan keagamaan di Iran. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa memahami kehidupan sebuah komunitas membutuhkan perhatian terhadap berbagai aspek, mulai dari identitas, kehidupan keagamaan, ruang sosial, hingga aturan yang berlaku. Melihat berbagai sisi tersebut membantu peserta memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai masyarakat Iran.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman mengunjungi Vank Cathedral memperlihatkan pentingnya pembelajaran langsung dalam memahami kehidupan masyarakat. Sebuah negara dapat dipelajari melalui dokumen dan berbagai sumber tertulis, tetapi pengalaman bertemu dengan masyarakat memberikan perspektif yang berbeda. Interaksi langsung memungkinkan peserta melihat bagaimana nilai, aturan, tradisi, dan identitas hadir dalam kehidupan sehari hari.
Dari Vank Cathedral, tim belajar bahwa kehidupan bernegara juga berkaitan dengan pertanyaan mengenai bagaimana kelompok yang berbeda dapat mempertahankan identitasnya. Pertanyaan mengenai bagaimana hak keagamaan diatur, bagaimana keterwakilan dibangun, dan bagaimana masyarakat dengan latar belakang berbeda menjalani kehidupan bersama menjadi bagian dari refleksi selama berada di Isfahan. Pengalaman tersebut memperluas pemahaman Sekolah Negarawan bahwa keberagaman masyarakat merupakan bagian penting dalam melihat perjalanan sebuah negara secara menyeluruh.