Pemerintah memastikan program-program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), tetap berjalan tanpa terpengaruh oleh kebijakan efisiensi anggaran. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa anggaran untuk program-program unggulan ini tidak akan dipotong. Program-program tersebut dianggap memiliki dampak jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Airlangga menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran akan difokuskan pada pos-pos pengeluaran yang dinilai masih bisa ditekan, seperti belanja jasa, perjalanan dinas, dan pengadaan peralatan. “Anggaran program unggulan tidak dipotong, sama sekali,” kata Airlangga, dikutip dari Antara. Selain itu, pemerintah juga meminta kementerian dan lembaga. Hal ini untuk meninjau program atau kegiatan yang memungkinkan untuk dihemat tanpa mengganggu kualitas layanan publik.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 tetap berada dalam batas aman, yakni maksimal 3 persen. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga stabilitas fiskal negara di tengah fluktuasi harga minyak dunia. Adapun yang mempengaruhi sektor energi dan ekonomi global.
Ekonom Senior INDEF, Didin S. Damanhuri, mengungkapkan bahwa meskipun tantangan fiskal akibat lonjakan harga minyak perlu diatasi. Langkah efisiensi anggaran pada program strategis jauh lebih tepat daripada memperlebar defisit. "Alih-alih melonggarkan defisit melalui Perppu yang berisiko memperberat beban utang. Pemerintah sebaiknya melakukan penajaman efisiensi pada program strategis seperti MBG dan swasembada pangan dengan melibatkan UMKM dan koperasi desa," ujarnya.
Didin menilai bahwa pengelolaan yang lebih tepat sasaran pada program-program tersebut akan membantu meringankan beban anggaran negara dan mengurangi ketergantungan pada utang. Program MBG yang mengutamakan pemberian makanan bergizi kepada masyarakat dan program Koperasi Desa Merah Putih yang menguatkan perekonomian lokal melalui UMKM dan koperasi desa. Hal ini dianggap sangat penting dan harus tetap didorong.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa efisiensi anggaran akan difokuskan pada Anggaran Biaya Tambahan (ABT) yang sering membuat postur anggaran membengkak. Dalam hal ini, Kementerian Keuangan akan menetapkan langkah awal yang perlu dilakukan setiap kementerian dan lembaga dalam menyusun rencana efisiensi anggaran. Proses persiapan ini diperkirakan akan selesai dalam waktu sekitar satu pekan.
Purbaya menekankan bahwa kebijakan pemangkasan anggaran kali ini tidak memerlukan Instruksi Presiden (Inpres). Adapun berbeda dengan langkah efisiensi belanja pada awal 2025 yang diatur melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025.
Prayogi R Saputra, Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, mengingatkan bahwa tugas negara adalah melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. “Keberhasilan program-program seperti MBG dan Kopdes adalah bukti nyata komitmen pemerintah dalam melindungi dan melayani rakyat,” katanya.
Prinsip Partai X:
Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah diharapkan dapat menjaga defisit APBN tetap terkendali tanpa mengganggu program-program prioritas yang langsung berdampak pada rakyat. Program MBG dan Kopdes harus tetap menjadi prioritas untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar rakyat. Adapun seperti makanan bergizi dan akses ekonomi, tetap tercapai. Pengelolaan anggaran yang tepat sasaran, penguatan sektor lokal, dan peningkatan transparansi akan menjadi kunci sukses. Hal ini dalam menjaga keseimbangan fiskal negara sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.