Berita

Gereja Temppeliaukio Finlandia Mengajarkan Harmoni dan Persaudaraan Universal
Berita Terbaru

Gereja Temppeliaukio Finlandia Mengajarkan Harmoni dan Persaudaraan Universal

HELSINKI, FINLANDIA — Gereja Temppeliaukio di Helsinki, Finlandia, menjadi ruang refleksi bagi para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan untuk memahami makna kedamaian dan persaudaraan universal. Gereja yang dikenal memiliki kualitas akustik istimewa ini memperlihatkan bagaimana rancangan ruang dapat menciptakan pengalaman yang menyatukan manusia. Keunikan bangunannya tidak hanya terletak pada bentuk arsitektur, tetapi juga pada kemampuannya menghasilkan pantulan suara yang jernih dan harmonis. Pengalaman tersebut memberikan inspirasi tentang pentingnya menciptakan ruang yang mampu menerima berbagai suara dan latar belakang manusia. Kunjungan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menghubungkan keunikan arsitektur dengan nilai kemanusiaan, kepemimpinan, dan tata kelola yang berpihak kepada masyarakat.

Kegiatan eksplorasi tersebut diikuti oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Rombongan didampingi oleh perwakilan diaspora Indonesia, Wiwik H, yang menjelaskan latar belakang sosial dan budaya serta pemanfaatan gereja oleh masyarakat setempat. Melalui penjelasan tersebut, para peserta memperoleh gambaran mengenai peran Gereja Temppeliaukio sebagai tempat ibadah sekaligus ruang kegiatan seni. Keberadaan gereja ini menunjukkan bahwa sebuah bangunan dapat memiliki fungsi yang melampaui tujuan awal pembangunannya. Pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran mengenai bagaimana ruang publik dapat mendukung kehidupan bersama yang terbuka dan harmonis.

Salah satu keunikan Gereja Temppeliaukio terletak pada dinding batu granit yang dibiarkan kasar dan memiliki permukaan tidak beraturan. Bentuk tersebut bukan semata-mata pilihan estetika, melainkan bagian dari rancangan akustik yang memungkinkan suara dipantulkan dengan karakter khas. Pantulan suara yang jernih menjadikan gereja ini dikenal sebagai tempat penyelenggaraan konser musik sekaligus ruang peribadatan yang menghadirkan suasana tenang. Perpaduan antara struktur batu dan pengelolaan akustik memperlihatkan bahwa unsur yang tampak tidak sempurna dapat menghasilkan fungsi yang bernilai tinggi. Pelajaran ini membuka pemahaman bahwa perbedaan dan ketidakteraturan tidak selalu menjadi hambatan apabila dikelola melalui rancangan yang tepat.

Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra melihat pengalaman tersebut sebagai bahan refleksi mengenai tanggung jawab seorang negarawan dalam mendengarkan suara masyarakat. Dengan mengacu pada gagasan kenegaraan budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, Prayogi menekankan pentingnya memberi ruang bagi suara rakyat kecil yang kerap tidak tersampaikan dengan baik. Aspirasi kelompok masyarakat yang lemah atau mustadhafin mungkin hadir dalam bentuk yang beragam dan tidak selalu tersusun secara sistematis. Namun, keadaan tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan kebutuhan mereka. Apabila tata kelola kebijakan dirancang dengan baik, berbagai aspirasi dapat dipahami dan diolah menjadi langkah bersama yang memperkuat persatuan serta kesejahteraan masyarakat.

Wiwik H dan Wakil Direktur Rinto Setiyawan juga memaknai Gereja Temppeliaukio sebagai simbol persaudaraan universal. Gereja ini dikenal menjadi tempat penyelenggaraan konser musik sekuler dan pertunjukan paduan suara lintas negara yang mempertemukan orang-orang dari beragam latar belakang. Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi sarana perjumpaan tanpa harus membatasi seseorang berdasarkan perbedaan keyakinan. Di dalam ruang yang sama, manusia dapat menikmati karya seni dan membangun penghargaan terhadap sesama. Pengalaman itu menegaskan bahwa nilai kemanusiaan, sikap saling menghormati, dan keterbukaan dapat menjadi landasan untuk merawat kehidupan bersama yang damai.

Dari sudut pandang tata kelola modern, CEO Enygma Erick Karya menilai bahwa sistem pemerintahan Indonesia pada masa depan perlu memiliki kemampuan untuk menerima dan mengolah berbagai masukan masyarakat. Ia mengibaratkan fungsi tersebut dengan dinding akustik Gereja Temppeliaukio yang mengolah pantulan suara menjadi pengalaman yang harmonis. Arsitektur kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence yang dikembangkan Enygma bersama Sekolah Negarawan diarahkan untuk menyerap beragam data dan keluhan masyarakat yang masih mentah serta tersebar. Data tersebut kemudian perlu diproses secara cermat agar dapat mendukung penyusunan kebijakan publik yang solutif, adil, dan berorientasi pada kedamaian sosial. Penerapan teknologi tersebut tetap perlu disertai tata kelola yang bertanggung jawab, sehingga kebutuhan masyarakat menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan.

Pesan persaudaraan universal dari Helsinki menjadi salah satu pembelajaran penting dalam perjalanan Ekosistem Sekolah Negarawan ke 12 negara. Penjelajahan tersebut mencakup pembelajaran mengenai kesejahteraan di Finlandia, tata kelola teknologi informasi di Estonia, serta berbagai pengalaman dan kebijaksanaan dari Eropa Barat, Persia atau Iran, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Berbagai temuan dari perjalanan tersebut terus dihimpun sebagai bahan pengembangan pendidikan kewarganegaraan dan pembentukan karakter negarawan. Proses penyebaran pengetahuan dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan, mulai dari Medan hingga wilayah Ternate dan Tidore. Melalui rangkaian pembelajaran tersebut, Ekosistem Sekolah Negarawan berupaya menumbuhkan kepemimpinan yang mampu mendengarkan masyarakat, menghargai perbedaan, dan mengubah keberagaman aspirasi menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.